Illustrasi

Oleh: Rahmiani. Tiflen

Mediaoposisi.com-Para feminis mempunyai pengalaman traumatis yang cukup dalam sepanjang sejarah peradaban manusia. Sejarah itu bermula pada kehidupan perempuan di Barat.

Menurut sejarah sosio-kultur yang terekam menyangkut wanita, memang kehidupan mereka sangat memprihatinkan.

Tercatat hingga Masa Rennaissance (abad 16-17), wanita masih dianggap sebagai ‘maniak sihir’. Hal ini dikarenakan mayoritas penyihir (withcraft) kebanyakan adalah wanita.

Jika ada penyihir yang berjenis kelamin lelaki, tetap saja penyihir perempuan lebih mampui berbuat jahat.

Menurut Philip J. Adler dalam The World Civillizations. Fitrah wanita di Barat adalah sebagai makhluk yang lemah kepercayaan (imannya) terhadap Tuhan. Dia menulis, "It is fact that women has only a weaker faith." Lanjutnya, "Therefore, the female si evil by Nature."

Maka dari itu, menurut masyarakat Barat sifat ‘Feminin’ sesuai dengan konsep etimologis yang dimiliki oleh wanita. Femininity berasal dari bahasa Yunani yaitu "Femina". 

Femina sendiri berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’. Fe artinya fides, faith, yang berarti kepercayaan atau iman. Sedangkan mina yang berasal dari kata minus berarti kurang. 

Karena itu, dalam perspektif Barat, perempuan adalah makhluk yang secara fitrah besifat 'kurang iman’. Oleh sebab itu, wanita di Barat tidaklah bernilai selain 'objek seksual'. 

Menurut St. Augustine, lelaki tidaklah mampu menahan nafsu seksualitasnya. Sebagaimana dikutip oleh Helen Ellerbe. Beliau juga mencatat, bahwa menurut St. Augstine wanita adalah sosok jelmaan iblis yang paling bertanggungjawab atas dosa keturunan Adam. Karena dosa tersebut berbentuk hubungan seks. 

Maka dari itu, hubungan seksual di Barat abad pertengahan menjadi sesuatu yang kotor. Jadi jelas sudah secara historis tentang wanita di Barat bahwa mereka senantiasa mendapatkan tempat yang rendah, dicaci, bahkan dipojokkan dengan berbagai macam kekejaman. 

Irene Handono mencatat sejak era awal-awal kekristenan hingga sekitar tahun 1750 telah ribuan wanita yang dieksekusi sebagai salah satu wacana kekejaman inkuisisi Gereja.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat Karen

Amstrong di dalam Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, yang menggambarkan situasi kekejaman inkusisi gereja pada saat itu, "....That one the most evil of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Catholic Curch until the end of 17th century."

Kemudian, terbitlah ‘gerakan-gerakan’ sebagai hasil dari trauma yang teramat mendalam. Gerakan inilah yang hari ini dikenal dengan Feminisme, dengan segenap tipologi dan macam yang sudah tersebut sebelumya. 

Mari simak pernyataan Penny Long Marler; "...that religious change in the West – particularly the rise and decline of Christian denominations and congregations – is strongly influenced by long term and largely unexamined changes in women’s live."

Korelasi yang teramat jelas ditemukan antara posisi agama di Barat sebagai pandangan hidup serta feminisme yang menjadi produknya.

Hal tersebut di atas sejalan menurut pandangan para kapitalis Barat. Mereka memandang bahwa; hubungan antara pria dan wanita adalah hanya bersifat seksual.

Oleh sebab itu mereka berupaya dengan berbagai macam cara demi menciptakan fakta-fakta dan juga pemikiran-pemikiran yang mengundang hasrat seksual bagi pria dan wanita.

Bagi mereka jika hasrat seksual tersebut tidak segera dipenuhi maka akan mengakibatkan bahaya pada manusia, baik fisik, psikis, maupun akalnya. 

Dengan demikian jelas sudah, bahwa pada masyarakat sekuler ini akan kita jumpai pemikiran-pemikiran yang mengundang kepada perilaku seks bebas, baik dalam bentuk cerita, syair-syair, buku-buku, dan berbagai karya lainnya.

Pun pada masyarakat tersebut akan kita jumpai hal-hal semisal; ikhtilath (campur-baur antara pria dan wanita) tanpa ada kepentingan yang syar'i, hal tersebut bahkan bisa saja terjadi di rumah, tempat-tempat rekreasi, jalan, kolam renang, dan lain sebagainya. 

Sebab bagi mereka itu adalah sesuatu yang lumrah dan harus dipenuhi. Sehingga mereka senantiasa berupaya mewujudkannya dan menjadikannya sebagai gaya hidup (life style)

Sungguh sangat berbeda dengan Islam. Dalam sistem pergaulan Islam. Hubungan antara lelaki dan perempuan adalah dalam rangka tolong menolong.

Itupun mempunyai batasan-batasan yang wajib ditaati. Islam mengatur tatacara dalam berhubungan antara pria dan wanita dalam berbagai kehidupan sehari-hari, yang mana hal tersebut dilakukan adalah dalam rangka melestarikan jenis manusia dan tidak semata-mata bersifat seksual. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

 “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

 اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

Dr. Abdul Qadir Syaibah berkata, "Begitulah kemudian dalam undang-undang Islam, wanita dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, para suami dituntut untuk memperlakukan mereka dengan makruf serta sabar dengan akhlak mereka.” (Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 10-11)

Dengan demikian maka, tertolak semua tuduhan yang dilontarkan oleh para aktivis feminis maupun para orientalis Barat kepada Islam dan pandangannya mengenai perempuan. Hanya Islam yang memuliyakan perempuan.[MO]


Posting Komentar