Jakarta| Mediaoposisi.com- Rezim kontroversial yang gemar membungkam lawan politiknya yaitu Rezim Jokowi melalui PT Pertamina (Persero) melakukan kebijakan kontroversial lain, yaitu menaikkan harga terhadap bahan bakar minyak (BBM). jenis pertalite.

Kenaikannya adalah Rp200 per liter pada Sabtu (24/3), sehingga Pertalite yang sebelumnya Rp 7.600 saat ini tembus Rp 7.800, nyaris Rp 8000 per liter.

Dikutip dari Okezone.com, External Communication Manager Pertamina Arya Paramita berdalih kebijakan menaikkan harga BBM jenis Pertalite adalah resiko dari penentuan harga BBM yang mengikuti harga pasar dan pada saat bersamaan nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika.

“Iya ada penyesuaian harga Rp200 per liter," ungkapnya kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (24/3).
Kenaikan harga BBM sendiri tak pelak harus terjadi, pasalnya pemerintah saat ini menginduk pada kapitalisme.

Dalam kapitalisme, penentuan harga kebutuhan pokok kepada harga pasar merupakan kewajiban.
Tak heran, kebijakan penetapan harga BBM mengikuti pasar pernah dikecam keras oleh eks relawan  Jokowi yang saat ini menjadi aktivis Rumah Amanah Rakyat (RAR) Ferdinand Hutahean 3 tahun lalu.

"Ini sesat kalau naik jadi siap-siap gejolak lebih parah dari sekarang. Tidak baik telah menggiring kita ke liberalisasi. Karena kepastian usaha tidak pasti," kata dia, Jakarta, Rabu (28/1/2015).

"Penurunan harga minyak, rakyat kita seperti dininabobokan” kecamnya.[MO]

Posting Komentar