Oleh : Asmarida. S. Pdi
 (Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Remaja)


Mediaoposisi.com- Baru-baru ini negeri yang dikenal dengan nuansa syariah tercoreng kembali dengan perilaku orang-orang tertentu yang membuat citra buruk penerapan syariat di Aceh menjadi tercemar.

Sebuah berita memilukan yang menyentak nurani kita disajikan Harian Serambi Indonesia di halaman 1, Minggu kemarin. Sepasang suami istri (pasutri) di Meulaboh, Aceh Barat, ditahan polisi karena diduga terlibat dalam persekongkolan jahat, mendalangi praktik prostitusi yang objeknya justru anak di bawah umur. (Sumber : Aceh. Tribunnews. Com)

Hanya untuk memperoleh sedikit uang,  mereka menjadikan anak perempuan yang di bawah umur  dipersiapkan sebagai pemuas nafsu para pria hidung belang.

Fatalnya remaja masa kini melakukan perilaku durjana tanpa ada paksaan dari siapapun.  Dan bahkan pelaku suami isteri sebagai mucikari ini mengakuinya dengan mengungkapkan “Saya tidak merayu mereka (korban). Tapi mereka yang datang kesaya dan bilang kalau ada yang mau begituan bisa hubungi saya (korban),” ujarnya.

Para korbannya itu tidak hanya masuk melalui jaringan bisnis prostitusi yang dijalankan saja, tapi ada juga lewat mucikari lain yang juga berada di Meulaboh. Bahkan dia mengaku mengenal betul mucikari yang dia sebutkan itu" (Sumber : AAJN. Net)

Prostitusi Melanda Remaja Masa Kini. 

Kita tahu bahwa prostitusi adalah pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan.
Dan inilah yang terjadi di tengah-tengah remaja dalam era serba liberal (baca : bebas).

Gaya hidup hura-hura dan hedonis menjerat remaja untuk mencari jalan pintas kesenangan semu sesaat.  Dan ini tidak hanya terjadi di Aceh,  sebelumnya juga ada terjadi di Surabaya,  mucikari memanfaatkan anak-anak di bawah umur dengan melakukan prostitusi kepada mereka.

Perdagangan anak di Surabaya ini diungkap oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan pada Rabu (14/2/2018) malam.

Delapan anak yang menjadi korban diamankan bersama empat muncikari yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka yaitu FQ (24), IR (19), GG (26), dan ANY (23). Menurut keterangan dari Rudi Setiawan para korban ditempatkan di tiga unit apartemen di kawasan Manyar Surabaya dan menerima upah kencan semalam sebesar Rp 1 juta per orang. Dari pendapatan itu 55 persen dinikmati oleh muncikari sedangkan sisanya untuk korban. ( Sumber : Tribunnews. Com)

Inilah realita yang nyaris selalu kita saksikan.  Sitem sekuler/kapitalis memberi ruang kebebasan yang sangat luas dalam hal kebebasan bertingkah laku dan berkespresi. Gaya hedonisme (bebas) dan permisivisme (serba boleh) menjangkiti setiap orang yang tak memiliki keimanan.

Himpitan ekonomi selalu menjadikan alasan dan topeng untuk melakukan tindakan asusila. Memperoleh kekayaan dengan mudah dan bersenang-senang tanpa rasa berdosa. Krisis keimanan sejatinya alasan utamanya.

Islam dan Prostitusi

Dalam Islam ada 5 (lima)  jalur yang harus ditempuh untuk mengatasi maraknya prostitusi.

1. Sanksi yang tegas kepada semua pelaku prostitusi/zina.

Tidak hanya mucikari atau germonya. Pekerja seks komersial (PSK) dan pemakai jasanya yang merupakan subyek dalam lingkaran prostitusi harus dikenai sanksi tegas. Sekalipun anak dibawah umur,  karena dilakukan dengan sengaja dan suka rela.

Sebagaimana firman Allah SWT  sangat membenci perkara aktivitas zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(Q. s: Al-Isra : 32)

2. Tersedianya lapangan pekerjaan. 

Tidak dipungkiri,  faktor kesulitan ekonomi menjadikan salah satu alasan bagi para mucikari dan PSK melakukan pekerjaan asusila ini.

Dan hal ini tidak perlu terjadi bila negara memberikan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat. Termasuk penyediaan lapangan pekerjaan, terutama bagi kaum laki-laki. Karena perempuan semestinya tidak menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya.

3. Pendidikan baik dari sisi agama maupun ilmu pengetahuan dan skill yang harus di kuasai.

Pendidikan agama sejak dini sudah seharusnya di peroleh bagi setiap generasi. Dengan berbekal aqidah yang kokoh baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, serta Sekolah dengan Pendidikan bermutu dan bebas biaya akan memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada setiap orang agar mampu bekerja dan berkarya dengan cara yang baik dan halal.

Pendidikan juga menanamkan nilai dasar tentang benar dan salah serta standar-standar hidup yang boleh diambil dan tidak. Sehingga, alasan PSK yang kembali ke tempat prostitusi setelah mendapat pembinaan keterampilan karena lebih sulit mendapat uang dari hasil menjahit dibanding melacur tidak akan terjadi bila ada penanaman kuat tentang standar benar dan salah.

Demikian pula pada anak di bawah umur,  peran orang tua memantau masa puberitas mereka agar tidak terjerat pada sex bebas menjadi tanggung jawab yang paling utama.

4. Jalur sosial.

Pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis dan memiliki tanggung jawab yang utuh terhadap keluarga merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah.

Yang tidak kalah penting adalah pembentukan lingkungan sosial yang tidak permisif terhadap kemaksiatan sehingga pelaku prostitusi akan mendapat kontrol sosial dari lingkungan sekitar. Sehingga masyarakatpun ikut andil melakukan pencegahan dan tidak mengabaikan.

5. Kemauan politik.

Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran.

Karena sangat jelas Islam menganggap ini adalah perbuatan dosa besar yang wajib bagi mereka mendapat sanksi yang tegas tidak cukup hanya di penjara. Namun dengan sanksi jilid bagi yang belum menikah dan rajam bagi yang telah menikah adalah perkara yang wajib di lakukan.

Firman Allah SWT :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (Q. s : An-Nur : 2)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

"Ambillah dariku, ambillah dariku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada mereka, yaitu orang yang belum menikah (berzina) dengan orang yang belum menikah, (hukumnya) dera 100 kali dan diasingkan setahun. Adapun orang yang sudah menikah (berzina) dengan orang yang sudah menikah (hukumnya) dera 100 kali dan rajam". (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit)

Dan semua itu akan terlaksana,  ketika penerapan Islam Kaffah terterapkan dengan sempurna di negeri ini. [MO]


Posting Komentar