Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Hutang Indonesia yang menignkat secara drastis. Peningkatan utang pemerintah Indonesia dinilai tidak mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Produktivitas utang terbukti belum mampu mendorong pertumbuhan investasi sektor produktif secara signifikan. Sehingga pertumbuhan ekonomi stagnan dan tidak bisa dirasakan.

Hal itu dikemukakan oleh peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus.

"Pasalnya, indeks tendensi bisnis dan berbagai survei tentang ekspektasi ekonomi tidak mengalami akselerasi pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan ekonomi tidak beranjak dari lima persen," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/3).

Heri mengatakan, utang Indonesia dalam tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan cukup pesat.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menilai terdapat ketidaksesuaian antara pembangunan infrastruktur dengan produktivitas industri di Indonesia

Ia menegaskan bahwa sektor padat tenaga kerja seperti industri, pertanian, dan perdagangan tidak mendapatkan dmpak positif. Tiga sektor yang menguasai 68 persen tenaga pertumbuhan ekonomi itu tumbuh di bawah 5 persen.

"Ada mismatch dengan industri-industri yang mestinya bisa meningkatkan produktivitas," ujar Rizal di Jakarta, Rabu (21/3).

Menurut Rizal, sektor-sektor yang terkena dampak positif hanya sektor yang secara langsung terkait dengan infrastruktur. Sektor itu seperti baja, semen, perumahan, konstruksi, dan jalan.

"Multiplier effect dari pembangunan infrastruktur terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi ternyata belum terlihat secara signifikan," ujar Rizal.


Lantas, kemana arah hutang Indonesia ? Tak heran bila Indonesia menjurus kepada kebangkrutan.
#IndonesiaBangkrut2030.[MO]

Posting Komentar