Oleh : Rahmadinda Siregar 
(Aktivis Mahasiswi, Member BMI Comunity Yogyakarta)

Mediaoposisi.com- Tepat 8 Maret setiap tahunnya perayaan  Internasional Women's Day (IWD) diperingati untuk 'kemajuan dan perlindungan' para perempuan di dunia. Tentunya, isu kesetaraan gender masih menjadi fokus dalam setiap perayaan Internasional Women's Day.

Di tahun 2017 lalu, tema yang diusung untuk Hari Perempuan Internasional adalah segala hal tentang perubahan. Dengan hashtag #BeBoldForChange. (m.detik.com, 8 Maret 2018).

Sedangkan untuk tahun ini, Hari Perempuan Internasional hadir dengan tema #Press for Progress. Berdasarkan situs resminya, tema ini diangkat agar wanita bisa terus bergerak dan berani untuk menggapai kesetaraan gender di segala bidang. (JawaPos.com, 8 Maret 2018)

Sejak awal, tujuan dari perayaan  Hari Perempuan Internasional adalah dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender bagi perempuan akibat ketidakberhasilan Kapitalisme dan Sosialisme dalam mengayomi masyarakatnya terkhusus bagi kaum perempuan.

IWD mengangkat tema kampanye "Press for Progress" ini dalam rangka memobilisasi wanita di seluruh dunia untuk menarik perhatian pada perbedaan upah, meminta upah yang sama untuk pekerjaan yang setara; untuk kesenjangan pendidikan, menyerukan kesempatan pendidikan yang sama di seluruh dunia; untuk menghilangkan diskriminasi pekerjaan dan karir, meminta semua orang untuk dinilai berdasarkan kerja keras dan kompetensi mereka, tidak peduli gender atau identitas gender mereka; untuk pelecehan seksual di tempat kerja dan di rumah, menyerukan diakhirinya praktik-praktik kasar yang terlalu sering mengatasnamakan "norma".

Setelah lebih dari 100 tahun berjuang, kaum feminis menganggap bahwa sudah waktunya sekarang untuk "menekan kemajuan". 

Tidak dipungkiri memang, kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, eksploitasi perempuan dan upah gaji yang rendah adalah masalah besar yang menimpa kaum perempuan. Namun, jika dicermati tuntutan yang disuarakan kaum feminis bukan lah semata dari hati nurani mereka, melainkan ada propaganda jahat yang terus disuarakan kaum feminis untuk menjajakan pemikiran liberal dan sekuler mereka ke tengah-tengah kaum perempuan.

Di samping itu, propaganda kesetaraan gender ini juga menjadi agenda besar Kapitalisme dalam rangka mewujudkan "pemberdayaan ekonomi" bagi perempuan.



Dengan peringatan International Women's Day ini diharapkan semua komponen masyarakat di seluruh dunia mampu menghilangkan isu ‘keterjajahan wanita atas pria’ agar tidak terdengar lagi. Inipun merupakan lanjutan dari kampanye Internasional, ''Planet 50:50 pada 2030 : melangkah menuju Kesetaraan Gender'', yang diluncurkan organisasi WHO dengan tujuan memperbarui komitmen negara-negara untuk mengimplementasikan kebijakan kesetaraan gender di negara-negara mereka.
         
Melalui peringatan Hari Perempuan Internasional ini diharapkan setiap orang baik laki-laki dan perempuan berikrar mewujudkan sebuah langkah konkret untuk ‘menekan kemajuan'  terwujudnya kesetaraan gender.

Perempuan diharapkan mampu melanjutkan kontribusinya dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan prestasi politik. Sayangnya, akankah pemberdayaan wanita ini akan mensejahterakan mereka.? Tidak!

 Sejak 2006 Bank Dunia sudah mengakui bahwa memberdayakan perempuan adalah “smart economics”. Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, menyatakan pada tahun 2012 lebih dari 80 persen pinjaman dan dana hibah Bank, atau sebesar lebih dari 28 miliar dolar AS, dialokasikan untuk proyek terkait gender.

Artinya, dana besar yang digelontorka oleh Bank Dunia tersebut bukan semata-mata untuk mensejahterakan wanita, tetapi ada ‘target politik’ pencapaian ekonomi para Kapitalis. 

Isu keterjajahan secara gender dalam perspektif Kapitalisme sebenarnya bukan suatu hal yang ‘rahasia’ lagi.

Keberadaan Kapitalisme dalam memandang wanita hanyalah sebagai komoditas ekonomi. suatu hal yang wajar jika berbagai problem ketimpangan dan kekerasan terhadap perempuan ini menjadi makanan sehari-hari. Bahkan konsep kesetaraan gender merupakan ide Barat yang lahir dari sejarah panjang penindasan perempuan dalam sistem masyarakat sekuler.

Oleh karena itu, kaum perempuan harus cerdas memahami persoalan yang menimpa mereka, jangan sampai kaum perempuan justru terjerumus pada tawaran solusi beracun ala feminisme.



Ide kesetaraan Gender pada akhirnya mendorong perempuan untuk meninggalkan rumah untuk bekerja, terjun ke dunia politik praktis atau sekedar mengejar eksistensi diri. Sehingga kondisi ini tidak jarang memunculkan berbagai problem sosial berupa pelecehan seksual, kekerasan, kerusakan moral hingga runtuhnya institusi keluarga dan rusaknya masa depan generasi.

Lain hal nya dengan Islam yang memposisikan kedudukan perempuan di tempat yang sebaik-baiknya sebagai ummun warrobatul bait, yang dari tangan merekalah lahir putra putri terbaik umat ini.

Islam memuliakan perempuan dengan penjagaan atas kehormatan dan pemenuhan hak-hak individunya.

Islam juga membuka gerbang pengetahuan, kemajuan, ketinggian, kemenangan dan kebanggaan bagi perempuan di hadapan umat manusia.

Namun konsep tidak akan berarti apa-apa tanpa upaya menerapkannya. Dan konsep ini menjadi niscaya, bila diterapkan oleh Khilafah, sistem pemerintahan Islam yang mempunyai pandangan dan aturan unik dalam memainkan peran strategis perempuan dalam kancah kehidupan. [MO]

Posting Komentar