Prabowo 

Oleh: Husain Matla

Mediaoposisi.com- Banyak pihak yang begitu kebakaran jambang dan godeg seiring dengan pernyataan Pak Prabowo Subianto yang mengatakan potensi bubarnya Indonesia tahun 2030. Pimpinan Gerindra itu mendasarkan pidatonya itu pada sebuah novel Amerika Serikat.

Tetapi, yang membuat orang cenderung percaya novel itu, karena penulisnya adalah seorang doktor yang berprestasi dan dikenal ahli intelijen.

Saya sendiri belum membaca novel itu, judul dan nama penulisnya juga lupa. Akan tetapi saya cenderung setuju dengan banyak hal yang dikatakan Pak Prabowo.

Saya tidak mendasarkan komentar saya di sini berdasar novel itu. Tetapi berdasar buku saya yang pernah saya tulis sembilan tahun lalu dan sekarang sedang dalam proses dicetak ulang, yaitu “Islam Memimpin Milenium III”.

Berikut beberapa yang ingin saya kemukakan.

1).  Indonesia pada tahun 2030 dalam kondisi pabalatak itu walau bisa disetujui orang Sunda, tapi tak akan disetujui orang Jawa. Karena menurut orang Jawa, namanya pating pecothot. Artinya sama.. :-D.  Artinya amburadul, ancur-ancuran, dan semacamnya.

Saya kira itu logis. Karena Indonesia itu berada dalam peralihan dari generasi ketiga menuju generasi keempat. Yaitu dari generasi penjaga sistem menuju generasi terbebani masalah dan gaya hidup.

Banyak negara yang gagal melewati kondisi alih generasi itu, kecuali negara yang mengutamakan prinsip dibanding aset.

Masalahnya, negara yang semacam itu adalah negara ideologis. Sedangkan Indonesia ini negara kompromis dan pragmatis. Sehingga proses menuju kejatuhannya selalu lebih cepat. Tiap generasi mewariskan beban kepada generasi berikutnya.

Di zaman generasi pertama saja, generasi perintisan negara, ada hal yang menjadi beban. Yaitu Konferensi Meja Bundar di Denhag  tahun 1949 menegaskan bahwa RI mengakui dan mewarisi utang-utang Belanda.

Kemudian tahun 1967, kekayaan alam Indonesia dikapling-kapling perusahaan multinasional melalui rezim ekonomi Wijoyo Nitisastro. Belum lagi Freeport dijadikan sesajen kepada asing untuk “menjaga” Indonesia.

Semenjak reformasi sampai sekarang penggarongan aset-aset negara semacam BLBI, Century,dll terus berlangsung. Jika tiap generasi selalu mewariskan masalah, bagaimana tahun 2030 bisa dengan gampangnya bertahan?

Sekarang saja AHY dan Puan masih rukun. Tetapi jika satunya menembakkan Century, satunya akan menembakkan BLBI, bagaimana negeri ini tak terancam bubar.

Bukan Prabowo yang harus menunjukkan bukti tuduhan, tetapi penentang Prabowo yang harus menunjukkan bukti bantahan.

2). Mengenai “perang versi super modern” itu juga logis. AS adalah raja teknologi yang akan berada dalam generasi keempat episode 2 (episode ini dimulai malaise tahun 1930).

Sementara China berada dalam generasi ketiga episode 1 (mulai tahun 1949). Satunya mengandalkan aset dan teknologi warisan dua setengah abad, satunya mewarisi berbagai terobosan baru selama tiga generasi. Kita lihat keduanya cukup visioner dan sekarang berada dalam satu ideologi, yaitu kapitalisme.

Bedanya satunya terang-terangan, satunya hanya mengadaptasi. Karenanya, pertempurannya tak akan sedahsyat Perang Dunia II, tetapi akan cenderung memanfaatkan negara-negara satelitnya dan berebut negara-negara yang lebih kecil untuk jadi negara satelit.

Saya kira ini wajar. Sekarang saja sudah sangat terasa!

Ini bukan seperti Perang Dunia zaman Romawi (Romawi vs Attila the Hun, tahun 451 M), bukan Perang Dunia zaman Khiafah Islam (Khilafah Abbasiyah vs Hulagu the Mongol, tahun 1258 M), bukan pula seperti Perang Dunia zaman modern (PD I dan PD II pada awal abad XX, antara Sekutu vs anti Sekutu).

Tetapi lebih mirip Romawi Timur vs persekutuan negara penghancur Romawi Barat sekaligus pewaris peradabannya  pada  abad VI M (empat generasi pasca Attila), mirip pergulatan antara Sultan Bayazid  (Utsmani) vs Sultan Timurlenk (keturunan Mongol yang masuk Syiah  dan mewarisi Abbasiyah) pada awal abad XV M (lima generasi pasca Hulagu).

Maka sekarang AS berposisi seperti Romawi Timur atau Bayazid I.  Sedangkan China seperti Timur Lenk atau persekutuan pewaris Roma Barat.

Adanya kesamaan ide menjadikan perang yang berlangsung lebih kepada perebutan aset dibanding pertarungan prinsip. Dan kondisi ini akan menguras negara-negara yang jadi satelitnya yang biasanya tak berani resiko sehingga justru malah menanggung resiko besar.

3). Sungguh pun bangsa Indonesia ini dulunya nggaya banget, yaitu berpikir gaya Belanda, dan sekarang berpikir gaya Kapitalis, namun dalam berbagai gayanya menyelesaikan masalah tak banyak berubah.
\
Penyakitnya sejak zaman dulu tidak berubah. Yaitu tidak siap resiko, siap saling memakan, menyelesaikan masalah dengan kompromi dan dagang sapi, saling bersekutu bukan untuk ide namun untuk kepentingan, akhirnya suasananya setelah melampaui tiga generasi juga tak jauh dengan kerajaan-kerajaan masa lalu semacam Majapahit.

Yaitu bahwa setelah tiga generasi, berubah menjadi terpeah-pecah dan wilayah pusatnya menjadi negara lokal.

Dan masa seperti itu, perubahan skala besar tidak terjadi, yang ada justru ”menikmati keadaan”, sampai kemudian ada kondisi lain yang merubahnya.

Banyak contoh hal ini. Berbeda dengan Kediri, Singasari cuma “gitu-gitu aja” sampai munculnya Majapahit.

Pasca Perang Paregrek, Majapahit menjadi negara kecil selama 70 tahun. Pasca Demak Bintoro bubar, Pajang hanya kerajaan kecil sampai munculnya Mataram. Pasca Mataram dilanda ontran-ontran sejak zaman Trunojoyo sampai Surapati, Mataram terus dilanda Perang Suksesi sampai Perjanjian Giyanti. Sunda dan Semarang diserahkan kepada Belanda, dan Mataram menjadi sub ordinat VOC.

Dan apakah Indonesia harus menjadi negara-negara kecil yang sebagian atau semuanya menjadi satelit AS atau China?

LALU? LALU? HARUS BAGAIMANA?

Saya kira satu-satunya solusi, sebelum semua itu terjadi, harus ada penyatuan politik kembali dengan konsep baru. Ini memang belum pernah terjadi di Indonesia, karena penyatuan politik biasanya setelah bobrok dua generasi. Tetapi kita bisa belajar kepada Abbasiyah, Utsmaniyah, atau Inggris Raya yang terbukti bisa melakukan hal itu..

Satu pertanyaan buat kita jika mempelajari teori Ibnu Khaldun saat meneliti khilafah. Mengapa setelah negara bangkrut di bawah generasi keempat malah muncul negara baru yang berjiwa muda perkasa di bawah generasi pertama?

Mengapa sehabis bobrok tiba-tiba malah muncul akselerasi luar biasa? Apakah generasi keempat betapa bobroknya? Apakah generasi pertama begitu bagusnya?

Saya kira tidak sehitam putih itu. Walau bisa jadi pula begitu. Coba kita test, apakah AHY begitu buruknya? Apakah Prananda, kakaknya Puan, itu orang yang sangat tidak bermutu?

Apakah Gibran bin Jokowi itu wakil dari sebuah ketidakefektifan dan ketidakproduktifan?

Tidak mesti generasi keempat itu begitu buruk. Tetapi seringkali mereka mewarisi masalah dan konflik dari generasi sebelumnya, juga mewarisi “gaya hidup politik”, serta juga mewarisi aset dari generasi sebelumnya.

Bayangkan jika Demokrat dan PDIP perang? Maka anak-anak muda  itu harus terlibat dalam perang organisasi yang sudah mengalami erosi dan masing-masing berperang dengan aset besar.

Di sini”suasana generasi keempat” lebih nampak di masing-masing organiasi.

Orang-orang yang baik dari generasi keempat bisa berubah menjadi bagus aksinya jika mendapatkan iklim baru dan menginsyafkan organiasinya yang cenderung usang dengan perbaikan dan peremajaan. Inggris Raya senantiasa menjadikan para pangerannya untuk memegang daerah bawahan. Ini menjadikan mereka fokus pada tantangan baru dibanding konflik dengan sesama pangeran.

Hal lain yang lebih dahsyat adalah adanya kepemiminan baru yang berbasis ideologi baru. Tak ada jaminan jika tidak datang Islam Mekah akan tetap damai-damai saja. Di sama banyak pangeran handal namun mewakili suku-suku yang saling bertikai.

Ada Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, Shafwan bin Umayah, Marwan bin Hakam. Tetapi akhirnya mereka semua disatukan dengan Islam dan masing-masing menjadi sayap-sayap Islam.

Di sisi lain, saat suatu negara berada dalam generasi keempat, muncul orang-orang bersahaja dan bukan bagian pelaku utama sistem namun terdidik dari keadaan.

Mereka memahami keadaan masyarakat dan nanti akan menjadi begitu matang saat menerima pemikiran baru. Ini seperti para sahabat Nabi. Merekalah akhirnya para pemimpin umat Islam setelah Nabi wafat.

Kondisi munculnya Islam bisa disimpulkan dalam  kondisi orang-orang yang baik dari generasi keempat dipimpin orang-orang bersahaja generasi pertama. Kemudian semuanya menjadi generasi pertama tatanan baru. Kondisi ini biasanya hanya terbentuk jika ada kepemimpinan baru dan lebih dahsyat lagi berbasis ideologi baru.

Di Nusantara ini, berkali-kali umat Islam hampir jaya. Bayangkan jika Amangkurat II tunduk pada Trunojoyo, bayangkan jika Pangeran Haji taat kepada ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, bayangkan jika Patih Danurejo, Mangkunegoro II, dan Pakubuwono VI tunduk kepada Pangeran Diponegoro, bayangkan jika Kaum Adat tunduk kepada Tuanku Imam Bonjol, apa perlu menunggu abad XX untuk mengusir Belanda? Mungkin saat penyatuan itulah awal kejayaan.

Menyikapi hal ini, paradigma perjuangan Islam dan pentingnya keharusan menegakkannya dalam khilafah saya kira perlu diungkap sekuat-kuatnya. Bahwa penyatuan ini semata lillahi ta’ala.

 ITULAH INTINYA !!! Bukan masalah “Kamu harus tunduk!” Tetapi, ini demi agama sehingga “Yang tahu Islam dan syariahnya, yang memimpin.” Sehingga tak ada yang merasa perlu dikalahkan di sini.

Kita bisa belajar dari Nabi, ketika beliau memasrahkan Yaman kepada Ila al Hadhrami dan pemimp[in lamanya, Abdi Qais menjadi penasehat.

Nabi sendiri saat mengalahkan Mekah, mengumumkan bahwa Mekah “di bawah telapak kaki” dari beliau, tetapi mempersilakan masyarakat masuk ke rumah Abu Sofyan untuk menjaga kehormatan pemimpin Mekah yang telah kalah itu.

Untuk menjaga itu semua, ganti ibukota juga perlu dilakukan. Restorasi atau revolusi butuh iklim baru sehingga biasanya ganti ibu kota.

Rasul memilih Madinah bukan Mekah, Umayah memilih Damaskus, Abbasiyah memilih Baghdad, bukan Damaskus. Buwaih memilih Isfahan, bukan Badhdad. Mamluk memilih Kairo, bukan Isfahan. Utsmani memilih Konstantinopel, bukan Kairo.

Kita butuh khilafah dengan ibukota yang lebih maritim, lebih khilafah, lebih Masyumi, lebih membuktikan pernah menjadi “murid handal Padepokan Giri”, lebih dekat dengan lautan, lebih siap menghadang lawan seperti Damaskus atau Konstantinopel (tentang kota itu, sudah saya sampaikan di tulisan saya sebelumnya [MO/br]

TANPA KHILAFAH INDONESIA BUBAR 2030 !!!

Posting Komentar