Oleh: Lili Agustiani, S.Pd
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Sudah hampir dua pekan media sosial dipenuhi dengan berita-berita kaum muslimin yang ada di Ghouta Timur, Suriah. Mungkin sebagaian dari kita ada yang masih belum tau apa itu Ghouta, apakah itu suatu nama atau kelompok? Begitulah pertanyaan dari seorang teman ketika baru-baru terjadinya pembunuhan warga sipil di Ghouta.
 
Pada saat itu banyak sekali gambar  bahkan video yang beredar dimedia sosial menggambarkan keadaan warga Ghouta, dimana para anak-anak yang tertimbun oleh reruntuhan bangunan, bahkan yang sangat menyanyat hati ini adalah ada potongan tangan yang terlepas, seperti potongan tangan seorang ayah yang menggenggam erat tangan anaknya seolah-olah tak ingin terpisah, namun apa daya bom yang mengenai tubuh mereka mengharuskan serpihan-tubuh yang lain terpisah.


Seperti yang dilansir oleh sindonews.com ”Lima hari serangan udara dan tembakan artileri yang intens oleh rezim tersebut dan sekutunya, Rusia, telah membunuh 403 warga sipil, termasuk 95 diantaranya anak-anak,” kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia dalam sebuah pernyataan, yang dilansir AFP, Jumat (23/2/2018).
 
Direktur Observatorium yang berbasis di Inggris tersebut, Rami Abdel Rahman, mengatakan pada hari Kamis saja, 46 orang tewas dalam serangan militer termasuk tembakan. Banyak jasad ditemukan di balik reruntuhan bangunan yang hancur dibombardir sejak awal pekan ini.

Sejak tahun lalu, lebih dari 95 persen kawasan Suriah telah dikuasai sepenuhnya rezim Assad. Sebelumnya daerah di Suriah terpecah-pecah ke sejumlah kantong yang dikuasai pemerintah Assad, kelompok oposisi dan kelompok teroris ISIS. Kini, hanya Ghouta Timur yang belum bisa dikuasai rezim Assad. Sementara kawasan Raqqa yang selama hampir tiga tahun dikuasai ISIS, berhasil direbut kembali Assad pada media 2017 lalu. 


“Kita berada ditengah-tengah pembantaian abad 21,” kata seorang doktor di Ghouta Timur. “Jika pembantaian 1990an berada di Srebrenica, dan pembantaian 1980an berada di Halabja dan Sabra dan Shatila, maka Ghouta Timur menjadi pembantaian abad ini.” 
 
Di Jenewa, Pendanaan Anak PBB mengisukan “pernyataan” kosong untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas banyaknya korban anak-anak di Suriah, menyatakan bahwa mereka kehabisan kata-kata. Organisasi medis mengatakan setidaknya lima klinik dan rumah sakit, termasuk pusat bersalin, dibom pada Hari Senin (19/2), beberapa diantaranya mendapat serangan berulang kali. Seorang ahli anestesi terbunuh dalam serangan tersebut. Dua falisitas lainnya diserang pada hari Selasa (20/2). Sonia Khush, seorang pegawai Save the Children, mendeskripsikan situasi disana sebagai “benar-benar mengerikan.” 


Permasalahan di ghouta, Suriah. Seharusnya membuka mata hati kita bahwa sistem Kapitalis tidak mampu menyelesaikan permasalah kaum muslim saat ini. Umat islam sengaja didokrin dengan faham nasionalisme, dimana kepentingan dan keamanan umat Islam terabaikan.

Penyelesaian Masalah Ghouta bukan dengan Gencatan Senjata dan Bantuan Kemanusiaan, semua itu tidak menghasilkan solusi tuntas, tetapi hanya dengan pembebasan dari imperialis melalui kekuatan miliiter dibawah sistem Islam yaitu Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat Islam saat ini, bukan hanya generasi-generasi Ghouta tapi juga seluruh generasi Negeri-negeri Islam lainnya. Seorang muslim adalah saudara dengan muslim yang lain.
 
Ia diibaratkan satu tubuh, jika tangannya terluka maka seluruh badannya akan merasa sakit atau demam, begitulah gambaran persaudaraan sesama muslim yang pernah dikeluarkan melalui lisan Rosullullah Muhammad saw, tidak lagi memandang apakah dia ada di Indonesia atau di Negara lain. [MO]
 


Posting Komentar