Ilustrasi


Oleh: Nasrudin Joha 

Mediaoposisi.com-Permohonan Maaf, adalah ungkapan yang disampaikan untuk mendapatkan permakluman atas sebuah kesalahan. Terkadang, pernyataan maaf juga disampaikan bukan atas sebab kesalahan.

Contoh saja peristiwa ini jamak terjadi di Jawa: Ketika sedang nonton misbar*, seorang lelaki paruh baya meringis pada lelaki gagah yang ada disampingnya, kemudian ia berujar "Maaf Mas, Sepatu Njenengan menginjak jempol kaki saya". Aneh bukan ? Yang benar meminta maaf pada yang salah.

Maaf juga kadang disampaikan bukan untuk menuntut permakluman, maaf lebih latah diungkap agar menjadi pemanis bahasa, menunjukan kesan penghormatan. Misal saja, seorang tamu undangan yang diterima oleh panitia, panitia menggunakan ungkapan 'maaf' untuk menegaskan sifat sopan dan penghormatan. "Maaf Pak, Monggo kawulo aturi duduk di kursi yang telah dipersiapkan", begitu ujarnya.

Begitu pula tulisan ini. Nasrudin Joha meminta maaf, bukan atas dasar kesalahan. Namun juga bukan atas dasar basa-basi palsu. Nasrudin Joha tidak terbiasa bermanis muka, bermuka seribu, dirinya terbiasa berbicara blokosuto. Blak blakan, jujur kacang Ijo, menyampaikan apa adanya. Meski kadang-kadang 'ada apanya' juga.

Contoh saja, Nasrudin Joha pasti akan membuat marah semua khalayak pada pelaku korupsi e KTP, jengah dengan kekejian dewan dan partai politik, ingin rasanya meninju muka politisi busuk, karena mereka telah melakukan pengkhianatan terhadap umat. Apakah Nasrudin Joha yang bersalah ? Apakah Nasrudin Joha yang harus meminta maaf ?

Nasrudin Joha menjelaskan pengkhianatan penguasa, tunduknya rezim pada asing dan aseng, pendzaliman rezim terhadap Umat Islam. Wajar saja semua khalayak akan marah, semua khalayak tidak akan terima, semua khalayak menjadi benci terhadap kedzaliman. Apakah Nasrudin Joha yang bersalah ? Apakah Nasrudin Joha yang harus meminta maaf ?

Nasrudin Joha menjelaskan, bahwa pengelolaan tambang dan harta milik umat di negeri ini dikuasai jaringan kapitalisme global, baik asing maupun aseng. Rakyat tidak disisakan sedikitpun. Disaat yang sama, rakyat justru dikejar kejar pajak. Wajar saja semua khalayak akan marah, semua khalayak tidak akan terima, semua khalayak menjadi benci terhadap rezim antek. Apakah Nasrudin Joha yang bersalah ? Apakah Nasrudin Joha yang harus meminta maaf ?

Semua hal dan ikhwal yang dijadikan bahan artikel Nasrudin Joha adalah fakta terindera yang tidak bisa terbantahkan. Seharusnya, rezim dungu ini yang meminta maaf karena telah puas mendzalimi umat. Tetapi sulit mengharapkan rezim tobat dan meminta maaf, ini mustahil ! Sama saja seperti mustahilnya unta masuk ke lobang jarum !

Namun, Nasrudin Joha tetap menyampaikan maaf. Untuk apa ? Untuk sebuah solusi yang belum bisa di eksekusi.

Dalam tiap ulasan artikelnya, Nasrudin Joha selalu menyampaikan tiga hal : pertama, kerusakan sistem dan rezim ini berpangkal dari tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah untuk mengatur kehidupan umat. Kedua, solusi kongkrit untuk menyelesaikan seluruh problematika umat dan bangsa adalah dengan mengembalikan kehidupan Islam. Ketiga, mengembalikan kehidupan Islam dengan menerapkan syariah secara kaffah hanya bisa terlaksana jika umat ini memiliki institusi Khilafah.

Dalam poin ketiga itulah, Nasrudin Joha memohon maaf. Ia memohon maaf karrna belum bisa mewujudkan Khilafah. Ia memohon maaf karena umat masih saja tersihir dan tertipu dengan sistem rusak demokrasi. Ia memohon maaf, karena belum semua umat memiliki kesadaran dan keinginan untuk segera membaiat seorang Khalifah.

Karenanya, Nasrudin Joha memohon maaf belum bisa menegakkan Khilafah. Nasrudin Joha belum bisa menjelaskan secara nyata, bagaimana syariat Islam menjamin kebutuhan seluruh umat baik muslim maupun ahludz dzimah. Menjamin pendidikan, kesehatan dan keamanan seluruh rakyat.

Menerapkan hudud, Qisos, Diyat dan Mukholafah dalam naungan Daulah Khilafah. Bukankah kita rindu ? Seluruh umat rindu ? Kerinduan itu pula yang mengganggu pikiran Nasrudin Joha.

Karena itu, terimalah permohonan maaf Nasrudin Joha. Namun, jika Anda serius memaafkan Nasrudin Joha, maka Anda juga harus serius berjuang menegakkan Khilafah. Sebab jika Anda berpangku tangan, pemberian maaf Anda bisa dianggap basa basi belaka. [MO/br].


NB. Misbar* adalah gerimis bubar. Tayangan film layar tancap di kampung yang jika terjadi hujan, acaranya bubar.

Posting Komentar