Oleh: Lili Agustiani, S.Pd
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)


Mediaoposisi.com-Perempuan pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Allah swt untuk melengkapi pasangannya yaitu laki-laki. Perempuan adalah sumber kekuatan bagi anak dan suaminya. Ia memiliki pribadi yang lembut serta penyayang.

Namun disisi lain perempuan juga sangat mudah terluka, dan perasaan yang dimilikinya sangat sensitif terhadap keadaan.

Perempuan juga memiliki peran penting dalam kehidupan di dunia ini, itulah mengapa Allah swt menciptakannya. Walaupun perasaannya sensitif sesungguhnya ia adalah manusia yang kuat. dari rahim-rahim perempuan lah lahir laki-laki yang hebat, lahirlah anak-anak yang sholeh dan sholeha yang kemudian menjadi manusia pembawa perubahan dari masa ke masa.

Pernah kah kita mendengar atau membaca sejarah dibalik sukses dan terkenalnya ilmuwan-ilmuwan Islam, pejuang-pejuang Islam atau para ulama besar perawi hadits yang hingga saat ini bisa kita manfaatkan hasil karya mereka.

Salah satunya yang sudah sangat familiar kita dengar yaitu Muhammad Al-Fatih. Ibu Sultan Muhammad al-Fatih setiap selesai sholat subuh mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel.

Ia berkata, “Engkau wahai Muhammad akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?”

“Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.

Fathimah bin Ubeidillah adalah sosok seorang ibu yang luar biasa, anaknya yang kita kenal dengan sebutan imam syafi’i adalah ulama azhab yang sudah mengkhatamkan Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun, menghafal banyak hadits diusianya yang masih muda yaitu Sembilan tahun. Imam Asy-Syafi’i, memiliki keluasan ilmu, kecerdasan yang luar biasa dan kekuatannya dalam hafalan, Allah swt  anugerahkan juga padanya kefasihan lisan dalam bahasa arab.

Imam Al-Bukhari adalah anak yatim, ia pun sempat buta dan pada akhirnya bisa melihat kembali dan penglihatannya lebih tajam dari sebelumnya, hingga beliau dapat mengarang kitab At-Taarikh Al Kabir di bawah cahaya rembulan.

Penglihatannya kembali juga karena doa yang sering dipanjatkan oleh ibunya. Dibalik suksesnya menjadi imam besar tentunya ada peran seorang ibu yang luar biasa. Ibunya yang pada saat itu tidak mau menyerah pada keadaan telah mendidik imam bukhari kecil dengan sangat baik, bahkan diusia 16 tahun ibunda sendiri yang mengantarnya belajar pada ulama di Mekkah, hingga akhirnya imam bukhari terkenal dengan segudang prestasi.

Gurunya pun pernah berkata “tidak ada yang lebih hebat darinya dalam ilmu hadits”

“Gadis itu menjawab,” aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada Kaum Muslimin.( Dikutip dari buku “Menjadi Muslimah Negarawan”, halaman 123-124. Penulis Fika Komara).

Kutipan kalimat tersebut mengandung makna yang luar biasa, begitulah cara kedua orang tua Shalahuddin Al Ayyubi memiliki cita-cita ketika mencari pasangan hidup. Seorang pemuda yang mengutamakan perempuan yang mampu mendidik anak-anaknya memiliki akhlak yang baik serta menjadi pejuang untuk agamanya yaitu Islam.

Shalahuddin Al Ayyubi adalah seorang pemimpin, ulama dan penakluk Yarussalem setelah 88 tahun dikuasai serdadu perang salib.

Secuil kisah diatas mewakili dari sekian banyak sejarah panjang yang pernah ada di dunia Islam. Keberhasilan Islam dalam membentuk kepribadian anak tidak akan pernah lepas bagaimana peran perempuan dalam mendidik dan mengurus anak-anaknya. Pepatah mengatakan perempuan itu adalah tiang Negara, jika rusak perempuannya maka tunggulah ambruk Negara tersebut.

Begitu strategisnya peran perempuan tidak bisa dianggap remeh. Karena perempuanlah yang akan mencetak genersi-generasi penerus bangsa.

Bisa dibayangkan bagaimana kondisi generasi zaman now jika prioritas perempuan adalah keluar rumah untuk berkarir mengejar kesetaraan agar dianggap sejajar dengan laki-laki, padahal apa yang diusahakannya hanya bersifat sunnah atau bahkan mubah yang tidak memiliki nilai pahala disisi Allah Swt.

Di lain sisi kewajibannya mendidik anak-anaknya terabaikan. Ditambah lagi dengan kondisi anak-anak zaman now yang jauh dari akhlak Islami, tidak memprioritaskan setiap perbuatannya terikat hukum syara, bahkan tidak sedikit yang melanggar hukum-hukum Allah swt.

Semua itu ditopang oleh sistem yang tidak berpihak kepada Islam yaitu Kapitalis-Sekulerisme yang membolehkan tanpa ada batasan. Jadi wajar jika kita melihat kondisi zaman now sangat rusak.

Sebenarnya jauh sebelum adanya zaman now, yaitu zaman old sudah banyak fakta bagaimana Islam mengatur perempuan sesuai dengan fitrahya sebagai wanita. Tidak ada paksaan selama masih pada koridor tidak melalaikan kewajiban. Karena dalam Islam memang yang wajiblah harus diutamakan.

Jika faktanya dizaman now perempuan itu banyak keluar dari fitrahnya, maka saatnyalah wahai perempuan kembali kepada fitrahnya sebagai perempuan pendidik generasi yang mampu melahirkan ksatria-ksatria seperti Muhammad Al Fatih, Shaluddin Al Ayyubi, dan imam-imam besar lainnya, semua itu tentunya harus dibarengi dengan ilmu Islam.[MO]


Posting Komentar