Muslimah
Oleh:  Rany Setiani, S.KM

Mediaoposisi.com-Tak dapat dipungkiri keberadaan kaum intelektual ditengah-tengah masyarakat membawa pengaruh yang besar. Mereka merupakan kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT karena keilmuannya.

Bahkan Islam memberikan posisi yang mulia dibandingkan mereka yang tidak berilmu.  Allah SWT berfirman: “Allah mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan mereka yang diberi ilmu dengan beberapa derajat” ( QS. Al-Mujadalah: 11). 

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga” (HR. Muslim).

Kaum intelektual tidak akan meraih kemuliaan ini dengan begitu saja, mereka harus menyandarkan ilmunya pada keimanan yang benar kepada Allah SWT, serta memiliki tanggungjawab dengan ilmunya itu untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat.

Termasuk bagi intelektual muslimah. Tanggungjawab yang mereka miliki jauh lebih besar, karena mereka tidak hanya melakukan perubahan di ranah publik tetapi juga harus menjalankan perannya sebagai pendidik dalam rumahtangga.

Fitrah muslimah sebagai al umm warobbatul bayt akan terus melekat sekalipun ia ahli dalam berbagai bidang keilmuan.

Sesungguhnya Islam sangat memuliakan wanita. Seorang wanita lebih khusus muslimah akan menjadi perhiasan dunia jika ia mampu menjaga kemuliaan dan kehormatan dirinya.

Kedudukan wanita dalam Islam memegang peran strategis yang dengannya ditentukan bagaimana gambaran sebuah negara.

Rasulullah SAW bersabda,"Wanita adalah tiang negara, apabila baik wanita maka baiklah negara dan apabila rusak wanita maka rusaklah negara”. 

Islam pun telah memberikan peran yang istimewa kepada kaum muslimah yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh kaum adam. Di tangan para muslimahlah terlahir generasi penerus yang akan membangun peradaban Islam.

Sayangnya, hari ini banyak dari kalangan intelektual muslimah yang justru menanggalkan fitrahnya yang sesungguhnya demi eksistensinya di ranah publik. Arus globalisasi yang terjadi sedikit banyak melunturkan banyak nilai yang semestinya menyatu erat dalam diri muslimah.

Isu kesetaraan gender, feminisme, emansipasi, serta isu lainnya yang mengatasnamakan peningkatan kedudukan wanita, mau tidak mau justru semakin menurunkan wanita dari fitrahnya.

Ditambah tuntutan sistem kapitalistik telah menghancurkan peran utama para intelektual ini dan menjatuhkan kedudukan mereka. Mereka hanya dijadikan sebagai agen ekonomi yang memperkuat bercokolnya para kapitalis.

Lebih khusus para intelektual dalam sistem kapitalistik justru dipersiapkan untuk melegalkan undang-undang yang melegitimasi sepak terjang para kapitalis untuk merampok kekayaan alam, seperti UU Penanaman modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, dan UU sumber daya air.

Juga undang-undang yang dapat menjadi alat untuk merusak generasi bangsa, seperti UU tentang perzinahan dan minuman beralkohol (minol) misalnya. Semua itu adalah hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis.

Lalu bagaimana kaum intelektual muslimah dapat menjalankan peran dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat tanpa menggerus fitrahnya sebagai seorang muslimah?

Sebagai kaum intelektual, maka ia harus mempersiapkan dirinya untuk memiliki kepribadian yang setara dengan yang diharapkan oleh Islam. Keilmuan yang dimiliki harus sejalan sesuai ajaran Islam.

Untuk itu, dengan ilmunya ia mampu menjaga dirinya, keluarganya, bahkan masyarakat di sekitarnya.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6).

Para intelektual muslimah tidak hanya sebagai pendidik bagi anak-anaknya, namun mereka juga menjadi pendidik umat.

Sesungguhnya umat membutuhkan peran intelektual yang sanggup membimbing mereka. Intelektual yang mampu memetakan potensi dan memberi solusi yang benar untuk memecahkan berbagai persoalan umat.

Umat membutuhkan intelektual yang sanggup berdiri di hadapan para penjajah untuk membela mereka dengan pengetahuan yang benar.

Keimanan yang mantap serta keilmuan yang dimiliki menjadi bekal para intelektual muslimah untuk melakukan perubahan yang hakiki bagi umat. Yakni berjuang untuk tegaknya kembali sistem Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, dalam institusi daulah khilafah.[MO]

Posting Komentar