Pendidikan
Oleh: Heni Ummu Ghooziyah
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- "Ok.. aku akan menikah, tapii... setelah lulus S2. Seperti diaaa.. Aku juga harus terpelajar, punya karir bagus. Baru.. kita berdua akan jadi jodoh yang pas. Jadi sama kan?... Begitulah salah satu bunyi iklan yang sering ditayangkan di televisi.

Sekilas kalimat ini nampak benar, namun dibalik kalimat yang logis tersebut tersirat sebuah pemikiran yang keliru.

Benarkah standar jodoh yang pas itu musti mempunyai kedudukan dan pendidikan yang sama dengan lawan jenis? Jika seorang laki-laki berkarir bagus dan lulusan S2 universitas ternama maka calon istrinya pun harus memiliki hal yang serupa.

Tak tanggung-tanggung bahkan ada salah seorang penggiat kesetaraan gender yang mengkampanyekan agar tak menikahkan anak di bawah usia 18 tahun, karena mereka berhak mendapatkan pendidikan. Apakah benar jika seorang anak yang sudah baligh kemudian menikah atau dinikahkan maka secara langsung ia tidak mendapatkan akses pendidikan?

Sungguh ini adalah pendapat yang serampangan.

Sejak zaman dahulu wanita selalu berkutat dalam kegundahannya sebagai seorang wanita yang tertindas. Urusan domestik yang dilakoni hampir 24 jam tanpa henti menjadi momok tersendiri yang terus menghantui. Berbagai bisikan syaithon dari kalangan jin maupun manusia juga tak henti membisiki bahwa tak seharusnya wanita terus dieliminasi.

Wanita Sebelum Kedatangan Islam

Memang tak sepenuhnya salah sebab di masa lalu wanita di berbagai belahan dunia mengalami ketertindasan dan ketertinggalan. Di Arab sebelum kedatangan Islam memiliki anak wanita merupakan hal yang tabu.

Jika dipelihara hingga dewasa maka konsekuensinya terancam menjadi rampasan perang kemudian diperbudak atau dinikahkan namun juga terancam ditelantarkan dan tidak dinafkahi, hingga sebagian memilih untuk  mengubur hidup-hidup bayinya. Sedangkan di barat wanita hanya dijadikan sebagai obyek pemuas hawa nafsu belaka. Bahkan di berbagai negara seperti Romawi, wanita mutlak dibawah kekuasaan laki-laki.

Hingga seorang wanita dapat dibunuh suaminya sendiri hanya karena alasan kecil. Sedangkan di India lebih mengerikan lagi dimana seorang wanita dibatasi hak hidupnya dari kehidupan suaminya. Dimana seorang wanita diwajibkan ikut dibakar bersama jenazah suaminya, sungguh amat sadis.
Di Cina lain lagi wanita adalah budak ayahnya, jika telah menikah otomatis ia menjadi budak suaminya.

Pada tahun 586 M di Perancis wanita diperdebatkan apakah wanita itu golongan manusia atau bukan. Ia mempunyai ruh atau tidak, apakah ruhnya dari ruh hewan atau manusia hingga disepakati wanita mempunyai ruh manusia namun diciptakan mutlak untuk melayani kaum lelaki.

Bahkan di awal abad 19 M, penjualan wanita masih diperbolehkan dalam hukum Inggris. Itulah fakta sejarah tentang wanita yang ada dimasa lampau. Begitupun dalam pendidikan jelas wanita sangat tertinggal jauh dari laki-laki.

Namun kemudian Islam datang menghapuskan kegelapan yang dialami kaum wanita dengan cahaya yang terang benderang. Wanita dan laki-laki dipandang setara dalam Islam, pun dalam segi pendidikan meskipun dari beberapa segi lain ada perbedaan sesuai dengan fitrah dan peran masing-masing.

Seperti kewajiban laki-laki mencari nafkah, tidak dibebankan pada wanita. Dan wanita pun ditugaskan menjadi ibu, pengatur rumah tangga, dan juga pendidik utama bagi anak-anaknya. Tentu saja hal ini tidak bisa digantikan oleh laki-laki sebab yang punya rahim tentu hanya kaum wanita. Begitulah Islam mengatur secara sempurna.

"Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, jika akhirnya ijazah hanya tersimpan rapi di lemari?" atau "Wanita itu harus berdikari, mandiri secara finansial dan ekonomi agar tak jadi korban lelaki, tertindas lalu menangisi diri sendiri.

" Kalimat-kalimat serupa sering di dengung-dengungkan untuk menakuti wanita. Seolah-olah menghasilkan materi, dengan berkarir merupakan harga mati buah dari pendidikan yang selama ini dienyam.

Bisa dibayangkan apa jadinya jika setiap wanita setuju dan meyakini hal ini. Betapa banyak hubungan harmonis antara suami dan istri menjadi kisruh. Belum lagi anak-anak menjadi korban asbab semakin renggang dan kering kerontangnya hubungan dengan sang ibu yang makin terkuras waktunya untuk bekerja.

Pengasuhan di bebankan kepada orang lain, perhatian dan kasih sayang hanya diberikan di waktu-waktu tertentu. Untuk mengkompensasi rasa bersalahnya maka sang ibu akan berusaha memenuhi apapun permintaan anaknya agar bisa bahagia.

Sehingga bisa kita saksikan buah dari paham ini membuat begitu banyak generasi muda saat ini bersikap amoral, berani melakukan seks bebas, narkoba, melakukan pelecehan, kekerasan, bahkan pembunuhan dengan alasan yang penting gue bahagia. Na'udzubillahimindzalik.

Hak Wanita Dalam Pendidikan

Wanita dalam Islam begitu dimuliakan, bahkan pendidikan sangat diutamakan. Sejarah mencatat bagaimana seorang wanita berperan penting dalam pendidikan dengan kapasitasnya sebagai seorang istri, seorang ibu, dan anggota masyarakat.

Wanita sudah selayaknya menempa dirinya untuk terus menyelami lautan ilmu. Sebab wanita adalah pondasi pertama dan utama serta memiliki peranan penting dalam mencetak dan membentuk generasi cemerlang nan mulia. Wanita juga merupakan tonggak awal pembentuk peradaban. Karena sejatinya dari rahim setiap wanitalah terlahir generasi selanjutnya.

Sebagaimana laki-laki mendapatkan pengajaran di dalam masjid dan di majelis lainnya, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam juga menyisihkan waktu khusus untuk memberikan pengajaran, mendidik, dan menjawab pertanyaan para wanita.

Dari Abu Sa'id Al Khudri ra, menceritakan bahwa beberapa wanita mengatakan kepada Nabi shalallahu'alaihi wasallam, "Laki-laki telah didepan kita (dalam ilmu pengetahuan).

Oleh karena itu, pilihlah hari khusus untuk kepentingan kami juga." Nabi shalallahu'alaihi wasallam lalu menetapkan satu hari untuk mereka . Beliau akan menemui mereka pada hari itu, menyarankan mereka, dan mendidik mereka tentang perintah Allah Ta'ala. ( HR. Al Bukhari)

Esensi pendidikan dalam Islam ialah membuat para wanita semakin taat kepada Allah Ta'ala. Bukan sekedar mendapatkan gelar dan materi semata atas pendidikan yang diraihnya.

Baik buruknya sebuah pendidikan tidak ditentukan dari dampak pendidikan dalam pandangan manusia atau dari segi dilakukan atau tidaknya sebuah pendidikan.

Namun yang menjadi  tolok ukur baik buruknya sebuah pendidikan adalah mendapatkan ridho Allah Ta'ala atau tidak. 

Salah seorang wanita yang cerdas dan senang menelaah buku-buku yang merupakan saudari Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mendapatkan pujian sebab merupakan seorang wanita yang memiliki banyak ijazah dari ulama Mekah, Damaskus, Balbek, dan Mesir.

Ibnu Hajar juga mengatakan, “Ia mempelajari dan menghafal banyak surat Alquran, termasuk orang yang banyak menelaah buku, dan ia pandai dalam hal itu”. Istri Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, Aisyah ra juga mendapatkan gelar "faqihat ul Ummah", yakni ahli hukum dari umat karena pengetahuan haditsnya yang mampu meriwayatkan hingga 2200 hadits serta keahliannya dalam hukum Islam.

Mariam "al-Asturlabi" Al-Ijilya adalah seorang ilmuwan dan penemu di abad 10 M, yang merancang astrolube yang digunakan dalam astronomi untuk menentukan posisi matahari, planet-planet, dan navigasi.

Ada pula salah seorang wanita muslimah pendiri pertama universitas di dunia jauh sebelum pendirian universitas Al Azhar, Cambridge, atau Oxford ia bernama Fatimah Al-Fihri. Ia mendirikan universitas yang bernama Al Qarawiyyin pada tahun 859 M. Siapa yang tak mengetahui sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel?

Ibunya lah ternyata yang mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau wahai Muhammad akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad. Muhammad kecil pun bertanya: “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” Ibunya menjawab penuh hikmat, “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”.

Begitulah ibu Muhammad al-Fatih, mendidik putranya di waktu berkah di pagi hari. Ia tak membiarkan anaknya terbiasa tertidur waktu pagi. Serta sengaja melakukan sesuatu untuk menarik perhatian sang anak.

Membuat sang anak terus termotivasi dengan sesuatu yang besar tentu dengan dasar agama dan kasih sayang. Begitupun dengan Sufyan ats-Tsaury yang merupakan tokoh besar tabi’ at-tabi’in. Seorang ulama generasi ketiga dan fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits, pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.

Kebesarannya tak luput dari goresan pendidikan yang dilakukan oleh sang ibu shalihah. Seorang ibu yang mendidik serta rela menginfakkan waktunya untuk membimbing buah hati tercinta. Ibunya senantiasa menyemangati, menasihati, dan memberinya wasiat agar semangat untuk menggapai pengetahuan.

Di antara ucapannya ialah: “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu kepada Allah? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak sama sekali tak bermanfaat untukmu”.

Begitulah fakta sejarah pendidikan wanita dalam Islam. Islam datang bukan untuk mengekang bahkan memarginalkan wanita, justru sebaliknya Islam ada untuk menjaga, mendidik, dan memuliakan wanita.

Wahai wanita bersungguh-sungguhlah dalam menimba ilmu. Sesungguhnya anak-anak membutuhkan ibu yang cerdas dan berilmu agar mampu mendidik anak-anak menjadi generasi yang cerdas dan bertakwa bukan malah menjadi generasi kurang adab, tak bermoral, melakukan pergaulan bebas, menjadi pecandu narkoba, bahkan menjadi otak dibalik pembunuhan.

Kita memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar menjadikan kita wanita kuat yang terdidik dalam keimanan dan ketakwaan serta mampu mencetak generasi cerdas nan mulia. Wa'allahu'alam


Posting Komentar