Oleh : Husain Matla

Mediaoposisi.com- “Bagi saya, menang dalam adu argumentasi itu lebih saya sukai daripada menang dengan adu kekuatan. Sebab kemenangan dengan adu kekuatan akan lenyap bersama dengan lenyapnya kekuatan itu.

Sedangkan kemenangan dengan adu argumentasi tidak  akan pernah dilenyapkan denga apapun.” (Abdullah al-Ma’mun bin Harun ar-Rasyid al-Abbasi, khalifah Abbasiyah, dalam Tarikh Khulafa).

“Beberapa orang akan menyalahkan adanya konspirasi yang terorganisasi untuk permasalahan kita sekarang. Seandainya saja itu demikian sederhananya. Anggota konspirasi dapat dibasmi dan diseret ke muka pengadilan.

Akan tetapi, sistem ini dimotori oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada konspirasi. Sistem ini tidak dikemudikan oleh segerombolan kecil manusia, tetapi oleh sebah konsep yang telah diterima sebagai doktrin….

"Kami jarang mengambil jalan ilegal, karena sistem ini sendiri dibangun berdasarkan ketidakjujuran. Dan sistem ini sah menurut definisinya.”
(John Perkins, bekas agen kapitalis, dalam Confession of an Economic Hit Man, tentang penderitaan dunia dibawah kapitalisme).

Mabda’ (ideologi) bagaimanapun adalah sebuah konsep. Penguasaannya atas kehidupan manusia lebih tahan lama daripada sebuah rezim. Inilah mengapa peradaban dominan (yang berbasis mabda') cenderung berusia panjang. Selama mabda’nya mempengaruhi manusia, maka peradabannya masih lestari. Yang sanggup menghapuskan eksistensi mabda’ hanya satu, mabda’ lainnya.

Karenanya, peradaban Islam tak akan bisa kembali, kecuali dengan kembalinya Islam sebagai mabda’. Ini berarti, yang dibutuhkan adalah revolusi pemikiran umat.

***

Perbandingan antara kekuatan pemikiran (terutama mabda') dibanding kekuatan rezim ibarat membandingkan panjang pegunungan dan panjang gunung. Tentu saja pegunungan jauh lebih panjang dari gunung.

Sebagaimana gambar di bawah ini, Pegunungan Putri Tidur (Sleeping Beauty Mountains), yang membatasi Malang dan Kediri (dulu batas dua kerajaan), yang terdiri dari Gunung Butak, Gunung Kawi, Gunung Kelud, dan Gunung Panderman,jika dilihat dari Malang.

Kita bisa "menakwilkannya" sebagai gunung (rezim) Spanyol, Inggris, Jerman,dan AS, dalam barisan Pegunungan (ideologi) Sekulerisme / Kapitalisme dalam tinjauan waktu.

Kekuatan mabda' pada faktanya berusia 8-10 kali negara penjaga mabda' (rezim).

Hanya saja, yang khas dari kasus ini, jika pengunungan ini sudah melewati "gunung ke sekian", biasanya akan muncul pegunungan (konsep pemikiran) lain yang akan menyaingi dan menantangnya dan akan disangga oleh negara penjaga pertama.

Itulah mengapa sebenarnya umat Islam bisa dikatakan sudah masuk "ZONA POTENSI MUNCULNYA KHILAFAH".[MO]

Posting Komentar