Oleh:Suwarni, S.Pd

Mediaoposisi.com-Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ikut memeriahkan hari wanita internasional yang jatuh pada 8 Maret.Khofifah mengajak kaum perempuan meningkatkan kompetensi diri agar bisa meraih yang cita-cita.

Khofifah mengatakan, hari perempuan internasional berawal dari kondisi pekerja perempuan di New York yang tidak mendapatkan perlindungan dengan baik. 

Kaum feminisme memandang bahwa wanita harus diberi hak untuk tampil di ruang publik. Karena ruang domestik tidak dapat mendukung kesejahteraan wanita.

Aktivitas rumah tangga dikatakan tidak produktif secara ekonomi sehingga menjadikan wanita bergantung pada laki-laki.

Meski telah banyak wanita yang berteriak untuk mensejahterakan wanita, namun nyatanya sampai hari ini tak kunjung terwujud.

Disisi lain media membesar-besarkan opini supaya perempuan keluar rumah (bekerja) sehingga urusan rumah menjadi terbengkalai.  

Padahal ada ungkapan “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Artinya ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik bangsa dengan integritas kepribadian yang baik.

Mengisyaratkan betapa pentingnya peran perempuan atau ibu bagi majunya generasi. Generasi yang maju pada akhirnya akan berimplikasi terhadap majunya sebuah peradaban. 

Adalah wanita al-madrasatu al-ula  yang menanamkan akhlak dan kepribadian kepada anak-anak mereka. Wanita yang mengenalkan kepada mereka hakikat tugas manusia dimuka bumi ini.

Islam datang untuk mengembalikan kedudukan wanita yang berada dibawah kezaliman seperti boleh diwariskan, dikungkung  paksa dan boleh diperjual-belikan berubah menjadi mulia dan terhormat. 

Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kedudukan antara laki-laki dan wanita sama,  keduanya mendapat perlakuan yang sama sesuai batas kemampuan dan kodrat masing-masing. 

Inilah sebuah undang-undang  bijak yang  telah membebaskan wanita dari perbudakan Jahiliyah menuju kemerdekaan Islam, dari  jurang  kehinaan, kenistaan, ketidakberdayaan menuju  martabat kehormatan, kemuliaan dan kemerdekaan.

Posisi wanita dalam Islam,  wanita  dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dengan laki-laki. Persamaan ini berkenaan dengan tanggungjawab beragama, mengokohkan akidah dan ibadah  serta menegakkan kebenaran dan keadilan.

Kesadaran wanita akan tanggungjawab tersebut akan menumbuhkan harga diri yang  tinggi dan timbul semangat perjuangan. Namun disisi lain, Islam juga memahami dan menjaga kondisi fisik wanita hingga ia tidak dibebani hal yang tidak dapat dipikulnya. 

Islam menjelaskan bahwa meskipun laki-laki dan wanita sama-sama  berhak dan berkewajiban, tapi pekerjaan dan tanggungjawab perlu dibagi.Pembagian sesuai syari’at dengan tujuan untuk mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah dan tercapainya keluarga Islami yang berperan serta untuk kejayaan Islam.

Syaqaaiqu Ar-rijal

Wanita berperan sebagai Syaqaaiqu ar-Rijaal ( pasangan laki-laki) dalam mengemban amanah di muka bumi ini. terdiri dari dua pihak yang berbeda tetapi saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain, mempunyai tujuan sama yang ingin dicapai yakni kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 

Fungsi manusia menjadi khalifatullah  baik laki-laki maupun wanita membawa beberapa konsekuensi. Pertama, manusia secara fitroh akan berusaha dan berkembang hingga mendapatkan manfaat  sebesar-besarnya dari pengelolaan mereka terhadap bumi.

Kedua, perbedaan fitroh antara laki-laki dan wanita akan menuai peran yang berbeda. Maka harus ada sinergi antara keduanya  dan saling melengkapi agar memperoleh manfaat yang maksimal.

Ketiga, hakikat kemanusiaan menyebabkan adanya hak asasi yang menjadi hak manusia, yang integral dan inheren dari kemanusiaan itu sendiri.

Keempat, wanita memiliki hak-hak khusus disamping hak-hak manusia secara umum karena mereka mengemban peran-peran tertentu yang tidak bisa digantikan kaum laki-laki seperti melahirkan dan menyusui.[MO]

Posting Komentar