Setnov

Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Wew, sepertinya PDIP dan Demokrat akan divonis publik malam ini. Betapa tidak, ILC genrenya memang diskusi hukum, tetapi kesimpulan ILC bisa menjadi vonis publik yang sangat menyakitkan, apalagi bagi parpol yang sedang dalam masa tahun politik.

PDIP dalam kasus ini maju kena mundur kena. Mendiamkan salah, mengklarifikasi justru tambah salah. Posisi PDIP seperti terjerat jebakan berduri, diam dia tetap terjebak dan menunggu di eksekusi. Bergerak, luka makin berdarah. Duri-duri e KTP yang tajam, akan semakin mengkoyak tubuh PDIP jika PDIP bergerak berusaha keluar dari jebakan.

Demokrat juga bernasib sama, ikut menanggung getah e KTP. Meski keterlibatan Demokrat masih dalam perdebatan, tetapi klarifikasi Hasto justru menarik Demokrat sebagai pihak dalam pusara korupsi e ktp. Hasto benar, ia harus bertindak dengan segala upaya yang memungkinkan untuk melindungi partainya.

Tetapi menarik Demokrat sebagai "pihak" dalam pusara e KTP secara etik politik itu offside. Meskipun demikian, politik itu bukan sepakbola. Tidak ada hakim garis tidak ada wasit, siapa saja bisa bermanuver apa saja, sepanjang dipandang memberikan gain politik baik berupa dukungan dan perlindungan maupun menjaga elektabilitas partai.

Hanya saja ILC juga punya peran mengkanalisasi isu, sebab judul yang mengarah pada PDIP dan Demokrat saja, bisa mengkaburkan substansi perkara. Fakta hukumnya, justru PDIP dan Golkar yang paling banyak disebut di pengadilan.

Novanto menjadi pesakitan e KTP itu juga karena kapasitas sebagai anggota dewan dan pimpinan Golkar. Tanpa jabatan dewan, niscaya Novanto tidak bisa memetik duit e KTP. Tanpa menjadi anggota Golkar, niscaya Novanto tidak bisa menjadi anggota dewan. Begitu seterusnya.

Media itu memang demikian, masing2 punya visi. Partai yang tidak memiliki basis media, harus siap ditelanjangi media. Media belum tentu memboster kebaikan partai, tetapi pasti akan membesarkan suara borok-borok partai.

Bagi PDIP dan Demokrat, sebenarnya lebih baik tidak hadir dalam diskusi ILC. Jika hadir, apapun yang disampaikan keduanya, akan dipahami publik sebagai ujaran pledoi untuk melindungi partainya.

Jika tidak selamat, PDIP dan Demokrat bisa keselip lidah, persoalan yang hanya satu meter bisa menjadi puluhan ribu kilometer. Lebih baik Bobo malam sambil bercengkrama dengan keluarga. Itu saran. Tidak mengikat.

Tetapi mau tidak mau, dinamika politik ini harus direspons. Pepatah Jawa menyebut : BECIK KETITIK OLO KETORO.

Pada akhirnya, semua aib akan tersingkap betapapun ikhtiar untuk menutupinya sudah bersusah payah. Demokrasi itu rusak dan merusak, menurut Machfud MD, malaikat saja masuk demokrasi bisa menjadi iblis.

Saya justru memikirkan umat, kaum muslimin. Pertanyaan saya : masih mau berjibaku dengan demokrasi ? Masih tetap enggan menerapkan syariah ? Masih merasa, ada hukum yang baik selain hukum Allah SWT ?

Ala kuli hal, ILC nanti malam itu ajang kita mentertawai para badut-badut politik yang membacakan dokumen pledoi dari partainya. Ga usah serius, santai saja, anggap saja nonton sinetron TUKANG BUBUR NAIK HAJI.

Dengan berat hati, saya turut berbela sungkawa dan prihatin pada PDIP dan Demokrat. Kasus ini kan melibatkan semua partai ? Tapi kenapa PDIP dan Demokrat saja yang jadi bintangnya ?

Saya kira juga tidak demikian, ini kan hanya akibat dari sebab yang sudah diperhitungkan. Tidak usah melankolis, tidak usah pake aksi nangis bawang bombay. Hadapi saja, AYO KAMU BISA BUNG. TIDAK USAH CENGENG! [MO].

Posting Komentar