Jamaah umrah sedang melakukan Sa'i di Masjidil Haram, Makkah, Saudi Arabia. 


Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si


Mediaoposisi.com- Ulah sekelompok jamaah umrah Indonesia menyedot perhatian warganet. Berdasarkan video yang beredar di dunia maya, sekelompok jamaah umrah asal Indonesia tersebut melakukan Sa’i sambil mengikrarkan Pancasila secara bergantian sampai tuntas di tengah-tengah ibadah Sa’i yang dipimpin oleh pembimbing umroh KH Said Khumaidy.

Kejadian serupa juga terjadi pada saat rukun sa’i, namun kali ini melibatkan kelompok pemuda yang beberapa bulan terakhir makin terkenal karena seringnya membubarkan pengajian yang diselenggarakan oleh Ormas Islam lain. Pemuda Ansor dan Banser  menyanyikan lagu Yaa Lal Wathan dengan lantang.

Tidak sampai disini, ada pula sekelompok muslimah dengan seragam serba hitam sedang melakukan shooting video klip, menyanyi sambil berjoget ala khosidah yang berlatar di Masjid Nabawi. Ada lagi sekelompok ibu-ibu yang sedang narsis di depan kamera dengan ucapan pesan secara bergantian dan hebohnya.

Banyaknya perilaku unik yang tak wajar dari jamaah Indonesia ini memunculkan berbagai reaksi masyarakat Muslim, mulai dari sindiran, cemoohan hingga kecaman. Bahkan   akibat perbuatan tersebut, pihak Arab Saudi melayangkan protes kepada KBRI Riyadh terkait lantunan “Yaa Lal Wathan” oleh Ansor dan Banser.

Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh juga menyayangkan hal tersebut. Menurut Beliau “Pemerintah Arab Saudi melarang keras segala bentuk upaya politisasi ibadah Umrah dan Haji.” Sementara itu, Sekjen Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Indonesia (AMPHURI), Firman M Nur mengatakan bahwa pembacaan Pancasila jelas tidak sesuai dengan sunnah dan menyelisihi apa yang dianjurkan oleh salaf.

Dan jika Pembacaan Pancasila dilakukan dengan keyakinan untuk mengharap fadilah atau keutamaan tertentu, maka hal tersebut termasuk kategori bid’ah. (www.republika.ci.id-berita-jurnal-haji)

Ibadah Haji dan Umrah adalah salah satu ibadah yang hanya bisa dilakukan di tanah suci Mekah Al Mukaromah. Selain itu, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, Haji dan umrah memiliki syarat dan rukun yang sudah ditentukan dalam hukum syara’.

Seluruh Umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang ke tempat yang sama dengan tujuan yang sama yaitu beribadah kepada Allah dan semata-mata mengharap Ridla Allah. Gambaran persatuan Umat Islam bisa dilihat dari sini.

Dimana semua umat melebur jadi satu, melaksanakan rukun yang sama tanpa memandang perbedaan warna kulit, suku, ras, negara dan jenis kelamin. Hal ini yang akhirnya ternoda oleh ulah sejumlah jamaah Indonesia yang menonjolkan sikap nasionalisme yang jelas bertentangan dengan persatuan Umat.

Nasionalisme jelas mengagungkan sekat-sekat negara dan menganggap bahwa negaranya yang paling baik dan wajib dilindungi. Boleh saja hal itu dilakukan pada saat ada serangan dari bangsa lain. Justru wajib hukumnya untuk membela tanah air jika mendapat serangan dari luar.

Masalahnya disini, ibadah haji dan umrah justru menghilangkan sekat nasionallisme dan menyatukan seluruh umat Islam di dunia. Sejak zaman Rasulullah SAW, ibadah haji dan umrah memiliki makna dan pengaruh yang besar dalam perkembangan Islam.

Begitu pula pada masa penjajahan Belanda. Kaum muslim mendapatkan kembali spirit perjuangan melawan Belanda saat melakukan ibadah haji. Pengaruh politis dan ideologis inilah yang membuat Belanda khawatir.

Sehingga pada tahun 1908, Belanda sempat melarang Umat Islam menunaikan Haji . Sayangnya ibadah Haji dan Umrah kini hanya tampak dalam ibadah ritualnya saja.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berhaji dan Umrah hanya sekedar mengugurkan kewajiban semata. Atau lebih parah untuk menunjukkan pada orang lain bahwa ia mampu berhaji. Tak jarang ada satu orang yang pergi berhaji hingga 4 kali atau umroh setiap 3 bulan sekali.

Ibadah haji mengajarkan pada umat untuk mengadopsi hukum islam secara kaffah, tidak hanya sebatas ibadah ritual semata. Namun mengajarkan untuk menerapkan sistem politik, ekonomi, pemerintahan, pidana, sosial, keluarga, moral dan seluruh aspek kehidupan. Hal ini tercermin dalam khutbah Nabi Muhammad SAW pada haji Wada’.

Selain itu juga mengajarkan makna persatuan yang hakiki. Dimana umat Islam adalah umat yang satu. Tidak membedakan sekat-sekat bangsa, budaya, ras, suku, warna kulit, dan Bahasa. Semua disatukan dalam satu ikatan yaitu Islam.

Umrah dan haji juga mengajarkan kepada umat untuk tunduk kepada syari’ah. Sebab ketundukan ini akan terlihat ketika mereka sudah kembali ke negara masing-masing. Hal ini juga bukti bahwa mereka mendapatkan umrah dan haji mabrur.

Terakhir, pelaksaan ibadah ini mengingatkan kepada umat akan pesan Rasulullah SAW dalam khutbah haji wada’:

“Hai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan  di tengah-tengah kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yaitu kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).

Nasehat tersebut menjelaskan bahwa bangkit atau terpuruknya suatu umat, tergantung dari sejauh mana mereka berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Artinya menerapkan seluruh aturan yang terdapat di dalamnya. Mulai dari masalah ibadah, muamalah, ukubat sampai pemerintahan. Karena jika tidak, sudah jelas bahwa umat akan tersesat.[MO]

Posting Komentar