Oleh : Mulyaningsih, S.Pt
(Pemerhati masalah Anak, Remaja dan Keluarga)

Mediaoposisi.com- Kembali lagi publik dihebohkan dengan kasus penggunaan narkoba. Kali ini giliran artis dangdut yang terjerat kasus narkoba. Beberapa waktu pasca penangkapan Fachri Albar (anak penyanyi rock legendaris Fachri Albar), Roro ditangkap di rumahnya pada tanggal 14 Februari 2018. Ia ditangkap karena dugaan kepemilikan narkotika jenis sabu. Pemilik nama Raden Roro…adalah sebagai duta anti narkoba.

Fahri sebelumnya pernah ditangkap dengan kaasus yang sama pada tahun 2008.
Tak berselang lama dari itu, lagi-lagi publik kembali geger dengan kasus penangkapan beberapa anggota keluarga Ratu Dangdut, Elvy Sukaesih. Bukan gula-gula yang ditemukan di dalam rumahnya, melainkan barang haram (sabu) yang ditemukan. Seolah-olah senasib dengan Raja Dangdut, Rhoma Irama yang anaknya kedapatan mengkonsumsi barang haram tersebut.
Anggota keluarga Ratu Dangdut yang ditangkap berjumlah lima orang.

Kelima orang tersebut adalah Dhawiya Zaida dan dua kakaknya (Syehan dan Ali Zaenal Abidin) ditambah Chauri Gita (istri Syehan) dan Muhammad (tunangan dari Dhawiya). Mereka semua kedapatan telah mengkonsumsi barang haram tersebut.

Mundur beberapa waktu, kita ingat bahwa anak dari Raja Dangdut juga telah tertangkap tangan menggunakan barang haram tersebut. Sungguh sangat memilukan kasus yang menjerat keluarga Raja dan Ratu dangdut ini. Padahal rhoma dan Elvy selalu menjaga citra baik dan reputasinya sebagai penyanyi. Bahkan Sang Raja juga mempunyai lagu yang berjudul mirasantika. Sungguh sangat disayangkan sekali. Anak-anak mereka tak mencontoh orang tuanya, tak kuasa menahan diri dari barang haram tersebut.

Contoh diatas telah menjadi bukti bahwa narkoba bisa menyentuh level para pesohor dan keluarganya. Mereka yang notabenenya menjadi public figure, maka dengan mudahnya menjadi panutan bagi semua orang. Tingkah laku dan gaya hidup dapat dengan mudahnya ditiru oleh semua kalangan masyarat. Sehingga masyarakat mampu meniru bahkan berusaha untuk menyamakan gaya hidupnya dengan public figure yang mereka idolakan.

Ditambah lagi dengan arus media yang makin deras, akan memudahkan untuk mengakses berbagai hal. Begitupun dengan mengakses barang haram ini, layaknya seperti hendak membeli kacang rebus yang dengan mudahnya bisa ditemukan bahkan di wilayah pedesaan sekalipun.

Presiden Jokowi juga mengungkapkan bahwa sekitar 15 ribu remaja meninggal dunia setiap tahun atau sekitar 40 hingga 50 orang per hari meninggal karena penyalahgunaan narkoba. Ditjen Bea dan Cukai telah mengungkap 49 kasus penyelundupan narkotika dengan total berat 201,2 kilogram hingga Februari 2018 (m.cnnindonesia.com, 17/2/2018).

Dari pernyataan orang nomer satu di negeri ini, maka dapat kita lihat bahwa sungguh darurat tingkat tinggi menimpa negeri ini. Tak hanya orang dewasa saja yang mengkonsumsi barang haram tersebut, melainkan para pelajarpun turut serta didalamnya.

Miris melihat fakta yang terjadi di negeri ini. Dengan mudahnya seseorang tergelincir pada narkoba. Awalnya mencoba-coba, tapi selebihnya jadi ketagihan. Ya, itulah narkoba bagaikan racun yang berbalut madu. Manis diawal ketika mencobanya namun mematikan pada akhirnya.

Banyak faktor yang memungkinkan seseorang bisa terjerat dalam lingkaran narkoba ini. Bisa karena alasan ekonomi, ajang ingin mendapatkan sensasi atau bahkan karena ingin mencari jati diri. Padahal jika kita lihat dari efek yang ditimbulkan bagi kesehatan sungguh jauh dari kata menyehatkan, bahkan membuat sakit badan si pengguna.

Pandangan Islam
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, tidak hanya sekedar mengatur masalah ibadah saja. Islam memiliki peraturan yang lengkap, yaitu mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, dengan dirinya sendiri dan dirinya dengan yang lain.

Ketika manusia hendak melakukan makan dan minuman maka keduanya termasuk dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Hal ini haruslah terkait dengan islam, artinya Islam mempunyai rambu-rambu bagi pemeluknya terkait dengan kedua hal tersebut. Rambu-rambu tersebut haruslah dijadikan pedoman bagi kaum muslim dalam kesehariannya. Mampu menahan agar tidak memakanan dan minum barang yang memang diharamkan bagi mereka.

Ketika syariat Islam diterapkan maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Hal ini dikarenakan pondasinya adalah akidah Islam, yang mewajibkan negara membina ketakwaan individu (rakyatnya).
Ketakwaan tersebut akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan.

Baik kejahatan yang berupa mencuri, membunuh, ataupun mengkonsumsi serta mengedarkan narkoba. Karena mereka tahu bahwa Islam mempunyai aturan, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. Barang yang halal dan haram juga sudah ada patokannya dalam Islam. Sehingga ini benar-benar menjadi dasar setiap manusia mau melakukan sesuatu.

Permasalahan ekonomi tak dapat dijadikan alasan untuk terlibat dalam kejahatan narkoba. Sebabnya adalah pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat seperti sandang, pangan dan papan dan kebutuhan dasar masyarakat termasuk pendidikan, keamanan dan layanan kesehatan akan dijamin oleh negara. Jadi secara otomatis ketika olah beralasan karena faktor ekonomi sehingga dia terlibat dalam kasus narkoba, maka tak dapat diterima. Ini terjadi jika sistem Islam diterapkan.

Kontrol masyarakat juga harus dijalankan. Masyarakat juga mempunyai andil yang besar didalamnya. Saling nasehat-menasehati serta amar ma’ruf adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan. Hal ini tak lain adalah untuk mengokohkan ketaqwaan individu-individu muslim. Ditambah juga haru adanya peran negara yang mampu menerapkan system yang baik agar terwujud individu serta maasyarakat yang baik pula. Tentunya ini tidak lepas dari sistem atau aturan yang akan diterapkan.
 
Dengan tangannya, maka negara mampu untuk memberlakukan sangsi yang tegas kepada para pelaku tindak kejahatan. Tentunya ini harus adil bagi semua rakyat, tidak boleh ada ketimpangan didalamnya. Maka insya Allah tindak kejahatan akan berkurang karena sangsi yang tegas tadi. Orang lain yang ingin berbuat yang sama, akan berpikir seribu kali untuk melakukannya.

Begitulah Islam memandang narkoba sebagai sesuatu racun berbalut madu yang dampaknya sangat membahayakan. Sangat mustahil apabila kita akan mewujudkan masyarakat bersih dari narkoba dalam sistem demokrasi transaksional sekarang ini. Hal itu hanya bisa diwujudkan melalui penerapan syariat Islam secara total dengan segenap kesungguhan untuk mewujudkannya. Wallahu ‘alam. [MO]



Posting Komentar