Oleh : Dwi Anggraeni Rahayu
( Muslimah Peduli Generasi dan anggota revowriter )

Mediaoposisi.com- Sudah menjadi pembahasan yang usang sebenarnya. Kasus maraknya narkoba. Justru kian menggila. Korbannya pun sudah berserakan dimana-mana. Seolah narkoba sudah menjadi idola, bahkan "surga"  bagi mereka yang tergelincir kesenangan dunia semata.
 
Terlebih di negeri tercinta kita, Indonesia. Narkoba sudah menjamur di berbagai lini masyarakat. Mulai dari generasi mudanya.  Anak pelajar SD, SMP, SMA, bangku kuliah dan bahkan lembaga pesantren. Astaghfirullah sungguh inilah salah satu fitnah dan juga petaka dunia yang luar biasa. Naudzubillah! 

Para pejabat negara, penegak hukum, oknum BNN, hingga public figur pun tak luput dari jeratan dan godaan narkoba. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, Derektorat Narkoba Polda Metro Jaya menangkap putri pedangdut Elvy, Sukaesih, Dhawiya Saida, terkait kasus penyalahgunaan narkoba.
 
Sebagaimana diberitakan dalam tribunnews.com. Deretan artis yang sebelumnya tertangkap diantaranya adalah Roro Fitria, fachri Albar, Ridho Roma, Iwa K, Ammar Zoni, Axel Matthew, Pretty Asmara, Tora Sudiro, Tio Pakusadewo, dan jennifer Dunn.
  
Dikutip dari kompas.com, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi Indonesia yang masih darurat narkoba.

Meurutnya Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak tahun 1971. Ketika itu, presiden RI ke-2 Soeharto menatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba. 

Jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Hal itu disampaikan Komjen Pol Budi waseso Kepala BNN saat berkunjung di Pondok Pesantren  Blok Agung Banyuwangi, senin (11/1/2016).
 
Hal ini patut kita cermati bersama. Sekian lama, berbagai upaya penanganan terhadab narkoba, belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.
 
Narkoba berlari secepat kilat memburu mangsanya dengan bebas dan mudahnya. Angin segar bagi para mafia. Inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan kita. Pasti ini ada yang salah.

Mulai dari alasan para pengguna narkoba. Sebagai contoh, para artis yang seharusnya menjadi public figur yang bisa dicontoh oleh banyak penggemarnya. Berbagai alasan keluar sebagai dalih pembelaan diri atas perbuatan itu.
 
Kebanyakan mereka mengaku untuk kesenangan atau rekreasi ditengah tuntutan kerja mereka yang super sibuk. Ada juga supaya ingin lebih fokus, tidak gampang lelah, kinerja meningkat. Untuk meningkatkan gairah sex juga menjadi alasan mereka.
 
Karena dalam banyak kasus artis selalu dituntut untuk tampil prima dalam segala kesempatan. 
Permasalah hidup yang menumpuk dan tidak segera terselesaikan. Akan memicu rasa stres. Hingga jalan penenang sementara pun mereka ambil dengan narkoba ini. Termasuk himpitan ekonomi.
 
Susahnya mencari pekerjaan yang halal dan layak untuk memenuhi kebutuhan pun memaksa mereka untuk terjun ke bisnis haram ini sebagai pengedar.

Ditambah lagi, penanganan hukumnya pun masih terkesan berbelit dan tebang pilih. Tidak tegas dan tidak menimbulkan efek jera. Baik pengguna maupun pengedar. Sehingga akan memunculkan potensi pelaku-pelaku yang berikutnya.
 
Dan bahkan mereka yang masih menjalani hukuman dalam jeruji penjara pun, masih bisa melakukan praktek terlarang ini. Oknum peradilan dan pengamanannya juga banyak yang tidak amanah. Justru menjadi pengkhianat negara dan berkolaborasi dengan para mavia secara rapi. Tentu demi meraup keuntungan pribadi mereka.

Lemahnya keimanan dan ketakwaan tentu menjadi sebab utama seseorang melakukan segala hal kemaksiatan dan pelanggaran. Memandang hidup hanya sebatas mengejar kebebasan, kepuasan dan kesenangan semata. Merasa tidak ada yang mengawasi perilakunya. Halal haram tidak menjadi pertimbangan dan dasar menjalani aktifitas. Hingga kebebasan dijunjung tinggi dan di per”Tuhan” kan.

Kontrol masyarakat yang mulai tergerus. Pola pikir peduli terhadap sesama mulai di abaikan. “ elu elu gue gue". Jalan sana. Masing- masing “. Itu yang mungkin kebanyakan ada di benak mereka.  Hingga kemaksiatan semakin tampak pun. Masyarakat tidak merasa gerah dan risih.

Selanjutnya. Ini adalah masalah sistemik. Artinya kasus narkoba adalah perkara yang terorganisir sedemikian rapinya. Ia bisa tumbuh subur karena ia hidup di sistem sekuler. Yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan.
 
Sehingga dari sistem ini lahirlah aturan-aturan yang salah kaprah. Aturan buatan manusia yang senantiasa mengikuti keinginan mereka yang memang punya kewenangan dan kepentingan.

Aturan manusia tadilah yang selanjutnya akan melahirkan banyak aturan cabang. Aturan yang membiarkan manusia hidup bebas tanpa aturan agama. Aturan yang akan mencekoki pemahaman bahwa manusia punya hak yang harus dijunjung tinggi atas nama HAM.
 
Sehingga kepedulian terhadap sesama pun mulai tergerus akibat pemahaman tak perlu mencampuri urusan orang lain.

Tentu berbeda dengan sistem Islam yang akan menyelesaikan segala persoalan. Termasuk masalah narkoba yang kian menggoda dan merejalela. Karena Islam datang sebagai solusi. Ia datang dari sang pencipta kehidupan, Allah SWT. Tentu Dia lah yang paling tahu untuk menyelesaikan masalah manusia dan segala ciptaannya.

Diantaranya solusi yang diberiakan Islam untuk menyelesaikan masalah narkoba ini dengan tuntas adalah dengan,

Pertama, meningkatkan ketakwaan setiap individu masyarakat kepada Allah SWT. Masyarakat dipahamkan bahwa mengkonsumsi narkoba adalah perbuatan haram yang akan mendatangkan murka Allah, baik di dunia terlebih akhirat. Jadi inilah yang pertama dilakukan dalam Islam, menyentuh setiap individu untuk senantiasa terikat dengan Allah.

Kedua, masyarakat yang saling peduli dan mengawasi. Beramar ma'ruf nahi mungkar. Tidak diam pada praktik kemaksiatan. 

Ketiga, keberadaan negara sebagi perisai sekaligus pemelihara umat, yang berwenang untuk menegakan sistem hukum pidana Islam.
 
Dengan ketegasannya, negara akan mengcounter masuknya narkoba ke Indonesia. Menindak siapapun yang melakukan pelanggaran tanpa tebang pilih. Sehingga akan menimbulkan efek jera. [MO]





Posting Komentar