Jokowi
Oleh: Siti Ghina Citra Diany Am,Keb

Mediaoposisi.com- Baru baru ini publik dihebohkan dengan berita penangkapan yang diduga anggota Muslim Cyber Army (MCA) untuk kasus pelanggaran hukum karena menyebarkan berita hoaks dan membelah opini di tengah masyarakat.

Sebenarnya, siapakah dalang yang tertangkap itu? Bisa saja mereka hanya orang naif yang direkayasa menggunakan label MCA. Bisa saja ada gerakan menumpang yang justru ingin menghancurkan MCA sebelum membesar, bisa pula itu kerjaan intelijen luar atau dalam negeri.

Maraknya isu MCA sudah mulai membelah politik Indonesia. Hasil riset dan investigasi yang pernah saya baca, adanya permainan politik tingkat tinggi. Dan permainan itu bekerja di empat tingkat.

Pertama, menemukan isu yang paling bisa membantu kemenangan presiden dan citra buruk rivalnya, lalu kedua, menemukan segmen masyarakat/grup yang paling mudah dipengaruhi oleh isu tersebut, ketiga menciptakan akun palsu untuk menyebarkan berita, dan terakhir, menciptakan aneka akun untuk membuat isu menjadi viral.

Publik di Indonesia, politisi, polisi, intel, khususnya aktivis dakwah dan ulama dapat dijadikan kasus melalui media sosial. Mungkin saja semakin dekat menuju Pilpres, grup ini membesar. Namun, ketika mengusut siapa dalang MCA dalam politik media sosial, akan menjadi lebih rumit, sedangkan kalau kita lihat menggunakan perspektif kasus politik tingkat tinggi media sosial, kini segalanya menjadi mungkin.

Begitulah permainan politik tingkat tinggi. Apa yang sebenarnya terjadi belum tentu seperti apa yang nampak. Selalu ada disi gelap dalam politik tingkat tinggi. Pemilu presiden 2019 sudah dekat. Media sosial akan memainkan peran signifikan untuk menyebar kebenaran atau kebohongan, karena ini bukan hanya pertarungan antar calon presiden, partai politik, atau media saja, tapi ada pertarungan pihak asing dan ideologi yang berebut pengaruh kekuasaan di Indonesia.


Inilah sisi ruang gelap media sosial, bisa menjadi alat propaganda. Menemukan impuls tersembunyi sebagian orang, memberikan stimulasi, dan akhirnya bergerak militan membela atau menyerang sesuatu sesuai yang diinginkan sang dalang propaganda.

Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang hal ini. Pertama kita tidak boleh berbohong, berdusta atau menyebarkan kebohongan, kedua kita tidak boleh menghina orang lain, apalagi tuhan dan sesembahan lain, ketiga kita tidak boleh melakukan fitnah. Sangat jelas kedudukan berita hoaks dan ujaran kebencian/SARA dalam Islam.

Tapi, bila ada kedzaliman harus kita lawan. Dan juga harus ada yang menjelaskan kepada penguasa bahwa dakwah amar maruf nahi munkar sangat diperlukan untuk perbaikan masyarakat. Karena dengan semua itu masyarakat menjadi tahu mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar menurut tolok ukur agama.

Karena itu tak selayaknya aktifitas dakwah ini dilarang dan suara kritis umat dibungkam juga dipersekusi. Begitu juga dengan muhasabah lil hukam. Itu adalah koreksi dan nasehat kepada penguasa yang telah melakukan kesalahan agar segera melakukan perbaikan.

Maka kita sebagai masyarakat, harus peduli akan aktifitas dakwah dan politik ini. Agar kita tidak mudah terjebak dalam media framing. Kita harus membangun kesadaran ideologis dan politik ummat untuk bisa menstandarisasi dan menetapkan sikap/respon yang tepat terhadap pemberitaan media.[MO]

Posting Komentar