Oleh  : Ahmad Sastra 

Mediaoposisi.com-Islam adalah agama yang benar dan diridhoi Allah, penegasan ini dinyatakan dalam Surat Ali Imran ayat 19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.

Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Islam adalah jalan yang lurus yang akan membawa manusia kepada kebaikan dunia dan akherat. Allah sendiri yang menegaskan akan kebenaran dan kelurusan jalan Islam.

Dalam Qur`an surat al An`am ayat 153 dinyatakan, Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.`

Karena kebenaran Islam inilah, maka Allah memerintahkan kaum muslim seluruhnya untuk hanya berpegang teguh kepada ajaran dan hukum Islam sebagai faktor pemersatu umat Islam, ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. 

Hal ini tidak lain karena Islam adalah jalan hidup paling sempurna yang meliputi seluruh aspek kehidupan, dari tata cara bersuci hingga urusan negara. Kesempurnaan Islam ditegaskan oleh Allah dalam Surat Al Maidah ayat 03.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Apalah jadinya kesempurnaan Islam jika tidak diterapkan dalam kehidupan manusia, maka Islam sebagai rahmatan lil’alamin tidak akan bisa dirasakan. Untuk itulah Rasulullah menegakkan Daulah Madinah sebagai institusi Islam yang bisa menjadikan seluruh aturan Islam dilaksanakan, baik urusan pribadi maupun sosail.

Allah memerintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah, menyeluruh, tidak parsial. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 208, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Langkah setan adalah langkah yang menjauhi Islam sama sekali atau mengurangi Islam agar tidak kaffah. Ayat-ayat setan atau satanisme yang menjadikan Islam tidak kaffah adalah sekulerisme, liberalisme, pluralisme, nasionalisme, atheisme, komunisme, skeptisisme, sinkretisme, demokrasi, kapitalisme, feminisme, permisivisme, rasionalisme, multikulturalisme, materialisme, hedonisme, humanisme, dan paganisme, dll.

Karena itu, saat Rasulullah memimpin Daulah Madinah, terciptalah kehidupan yang damai dan harmoni. Masyarakat dengan keyakinan agamanya bisa leluasa menjalankan keyakinannya di Madinah. Bahkan hak-hak mereka yang beda keyakinan sama kedudukannya dimata Islam sebagai warga negara.

Rasulullah pernah mengancam siapapun yang mengganggu warga negara Madinah sebagai bentuk ancaman kepada beliau. Madinah adalah negara manusiawi yang menerapkan sistem nilai Islam secara kaffah bagi kebaikan seluruh umat manusia yang menerimanya.

Negara madinah sebagai institusi Islam kemudian dilanjutkan oleh institusi khilafah Islamiyah sebagaimana tergambar jelas dalam fakta sejarah.

Ketaatan kepada kepemimpinan Islam adalah wajib, sebab hukum dan aturan Allah yang diterapkan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karamallahu wajhah dalam tafsir Al Quran karya Al Baghawi menjelaskan bahwa seorang imam atau pemimpin negara wajib memerintah berdasarkan hukum yang telah diturunkan Allah SWT, serta menunaikan amanah.

Jika dia melakukan itu, maka rakyat wajib untuk mendengarkan dan mentaatinya. Jika terjadi perbedaan pendapat, maka harus kembali kepada sumber hukum Islam yakni Al Qur’an dan Al Hadist.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [QS An Nisaa : 59]

Mengingkari keberadaan daulah Islam dan khilafah Islamiyah selain ahistoris, merupakan sebuah kedustaan yang nyata, jika tidak ingin disebut sebagai kebodohan. Menolak khilafah sebagai ajaran Islam terlebih adalah sebuah kedunguan nyata.

Menolak khilafah di satu sisi, namun menerima demokrasi di sisi lain adalah lebih dari sebuah kedunguan.

Asal-usul kata khilâfah kembali pada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in]; yang menggambarkan estafeta kepemimpinan. Hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H).Salah satu contohnya dalam QS al-A’raf [7]: 142.

Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa Khilafah secara ’urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’i-nya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.

Namun, bukan sembarang kepemimpinan, melainkan kepemimpinan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini, dan mengatur urusan dunia dengannya. Ini ditegaskan oleh Imam al-Mawardi (w. 450 H), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H) dan para ulama lainnya.

Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia; berbeda dengan sistem sekular yang mengundang malapetaka. Inilah yang diungkapkan Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani.

Beliau menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah: kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad).

Wahbah az-Zuhaili mengemukakan makna khilafah. Beliau menyebutkan, “Khilafah, Imamah Kubra dan Imaratul Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881). Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di dunia untuk melaksanakan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh alam. 

Sejatinya antara syariah atau ajaran Islam secara kâffah tidak bisa dilepaskan dengan Khilafah.  Ini juga yang disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada pondasinya akan roboh. Sesuatu yang tidak ada penjaganya akan terlantar.”

Masyarakat dalam daulah ibarat penumpang sebuah kapal. Kapal itu ibarat universalitas Islam yang dengan sistem nilainya mampu menampung segala manusia dari berbagai ragam yang melekat pada dirinya. Selama manusia itu bisa memberikan ketaatan kepada nilai-nilai agung Islam, maka manusia akan mendapatkan kehidupan yang damai dan sejahtera. Sebab Islam lahir untuk mengubah berbagai bentuk kezoliman  menjadi kemuliaan.

Syariah dan Khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Islam dan rangkaian ajaran syariahnya, termasuk Khilafah,  bukanlah musuh negeri ini. Musuh sejati negara saat ini adalah  Kapitalisme-Liberalisme. Inilah yang secara nyata semakin memperpuruk kehidupan bangsa.

Karena itu upaya monsterisasi syariah dan khilafah yang merupakan ajaran Islam adalah fitnah keji akhir zaman. Padahal tegaknya khilafah sebagai fase kelima sebagaimana hadist Rasul merupakan janji Allah yang pasti akan tegak. Mengingkarinya berarti memberontak Allah dan RasulNya.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS Annur : 55).

Keberkahan hanya ada dalam sebuah negeri yang berdasar keimanan dan ketaqwaan, yakni pelaksanaan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah.

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96)

” Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al Hasyr : 23).

Dalam perjuangan menegakkan Daulah Islam, Rasulullah melakukan dakwah menyadarkan masyarakat tanpa terkontaminasi dengan sistem kekuasaan kaum kafir saat itu, metode yang benar inilah yang kemudian mendatangkan kemenangan dari Allah.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.(QS An Nashr : 1-3).

Islam adalah agama dakwah dan perdamaian, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam al Qur`an suci, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An Nahl : 125).

Pembangkangan terhadap apa yang dibawa Rasul adalah ulah orang-orang kafir terdahulu, semisal fir’aun dan abu lahab. Jika  beriman dan bertaqwa maka akan sepenuhnya dan totalitas hanya tunduk kepada apa yang dibawa Rasulullah dan menolak semua yang datang dari luar Islam. perhatikan firman Allah dalam Surat Al Hasyr ayat 7.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al Hasyr: 7).

Sementara orang-orang kafir dan munafik dari dahulu selalu menginginkan sistem hukum selain Islam. hal ini telah menjadi watak mereka dari dahulu. ”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al Maidah : 50)

Mereka selalu berusaha mendustakan ajaran Islam dengan penuh kesombongan. Mereka lupa akan ancaman Allah bagi para pendusta lagi sombong. ”Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al A’raaf : 36).

Dulu Nabi SAW yang mulia pernah disebut sebagai sebagai orang gila (QS al-Hijr: 6), tukang sihir (QS Shad: 4), penyair gila (QS Shaffat: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya dan seterusnya.

Tak hanya diri Rasul, ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS al-Muddatsir: 24), kumpulan dongeng (QS al-Muthaffifin: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS an-Nahl: 103).

Karena itu tidak mengherankan jika hari ini para pendusta agama itu selalu melakukan fitnah keji terhadap syariah dan khilafah sebagai monster yang menakutkan, ajaran intoleran, pemecah belah bangsa hingga tuduhan radikalisme dan terorisme. Inilah fitnah paling keji di akhir zaman ini.

Sebagai upaya dakwah, kaum muslimin juga berkewajiban untuk mengingatkan para pendusta agama dan menyampaikan kabar dari Allah berikut : Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Padahal sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah (QS an-Nisa’ : 138-139).

Namun demikian para pendusta agama selalu menolak untuk tunduk kepada hukum Allah secara totalitas, justru akan terus menghalanginya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS Annisa : 61)

Ya sudahlah, sing penting udah dakwah dan mengajak toh. Yang terpenting kaum muslimin tidak boleh tunduk dan menuruti kaum kafir dan pemimpin mereka.

Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (QS Al Ahzab : 48).

Dengan berbagai apologi dan argumen picisan, kaum pendusta agama tidak akan pernah berhenti memusuhi penerapan syariah Islam kaffah dalam institusi daulah sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah dan khulafaur rashidin.

Padahal Rasulullah telah mengingatkan, Wajib atas kalian berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham (HR Ibnu Majah). Jadi, tetaplah berjuang wahai tentara-tentara Allah, jangan pernah berhenti.

Semoga Allah segera menurunkan pertolonganNya dan menjungkalkan penuh kehinaan musuh-musuh Allah yang penuh kesombongan mendustakan ajaran Islam. [MO]

Posting Komentar