Oleh : Ummu Nadiatul Haq 
(Aktifis Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Berdasarkan data pemerintah, pada akhir Januari 2018 Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia sekitar USD 357,5 miliar atau Rp 5.107,14 triliun. Dari angka tersebut terdapat utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD 183,4 miliar, serta utang swasta sebesar USD 174,2 miliar.(Merdeka.com, 15 maret 2018).

Utang indonesia terus meningkat karena sudah masuk jeratan utang (debt trap) sudah sejak lama, karena dalam sistem pasar bebas ada liberalisasi di pasar uang yang berbasis bunga, sehingga otomatis utang akan terus bertambah karena adanya bunga ini.
 
Utang pemerintah sebelum krisis tahun 1997 mencapai USD 55 Miliar dibandingkan sekarang tahun 2018 mencapai USD 357,5 Miliar, tentu naik nya sudah sangat tinggi.
 
Sistem ekonomi indonesia yang liberal inilah awal mula penjajahan gaya baru yang tidak di sadari oleh kita, karena ini hakekatnya adalah pintu masuk nya penjajahan ke indonesia.
 
Dengan jeratan utang, Indonesia akan terus bergantung pada utang, istilah "gali lobang tutup lobang, pinjam uang bayar utang" sepertinya sudah jadi habbits yang sulit di hilangkan karena utang nya berbunga yang terus bertambah dari waktu ke waktu, sehingga kalau tidak di stop ini akan membahayakan Indonesia.

Apalagi sistem liberal ini tidak hanya dalam masalah uang, tetapi semua sektor seperti barang-barang strategis seperti BBM, listrik, pertambangan, batu bara dan yang lainnya sudah banyak di kuasai asing sampai ke sektor hilir.
 
Jelas ini sangat merugikan rakyat indonesia, karena beban hidup semakin berat dengan harga- harga di hilir sudah di serahkan secara bebas kepada pihak swasta.  

Doktrin ekonomi neoliberal yang harus di hapus dari benak kita adalah kita tidak bisa membangun tanpa utang.  Kita harus mengubah pemikiran ini dengan menyadari bahwa Indonesia adalah negeri kaya raya, makmur, subur dan strategis.
 
Lagu jadul mengibaratkan "tanah kita tanah syurga tongkat dan kayu jadi tanaman" tentu tidak asal membuat lagu, tetapi sudah merasakan memang kenyataan nya subur, kurma yang di tanam di Indonesia juga ternyata bisa tumbuh dengan baik.
 
Indonesia juga di kelilingi pulau-pulau, lautan yang luas, ini juga aset luar biasa yang kalau pengelolaan nya tepat akan memberikan kesejahteraan bagi Indonesia.
 
Selain itu aset minyak, batu bara, pertambangan dan lainnya harus di kelola negara dan di distribusikan secara merata, sehingga semua merasakannya.  Hanya saja apakah ini bisa terjadi di sistem kapitalis sekarang? tentu nya untuk fokus mengurusi urusan ekonomi ini, kita tidak bisa menerapkan sistem ekonomi islam tetapi sistem pemerintahannya tidak islam.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan riwayat yang mereka nukil dari Nabi mereka (saw) bahwa disyaratkannya tambahan dalam utang-piutang adalah riba, meski hanya berupa segenggam makanan ternak”.

Utang Luar Negeri yang dilakukan ini termasuk riba nasi`ah terjadi pada akad utang dengan mengenakan tambahan pada pokok utang. Bunga bank (fawa`idul bunuuk), baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman.

Hukum riba adalah haram tanpa ada keraguan lagi (Lihat QS Al Baqarah : 275). Di samping itu, riba merupakan salah satu dosa besar (kaba`ir) dan perbuatan yang terkutuk (terlaknat). Bahwasanya riba termasuk dosa besar, dalilnya adalah sabda Nabi SAW :

اِجْتَنِبُوا السَبْعَ الْمُوْبِقَاتِ“ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا هُنَ؟ قَالَ: ”اَلشِرْكُ، وَالسِحْرُ، وَقَتْلُ النَفْسِ الَتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَ بِالْحَقِ، وَأَكْلُ الرِبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَالتَّوَلِيْ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan!’ Mereka (para shahabat Nabi SAW) bertanya,’Apa itu?’ Sabda Nabi,’Syirik, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, dan menuduh zina kepada wanita mukmin yang baik-baik.” (HR Bukhari)

Adapun bahwa riba itu sesuatu yang terkutuk, dalilnya hadits Nabi SAW bahwa :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: آكِلَ الرِبَا، وَمُوْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ“، وَقَالَ: ”هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah SAW telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Sabda Nabi SAW,’Mereka sama saja [dalam hal dosanya].” (HR Muslim)

Riba mempunyai dosa yang sangat besar, na’udzu billah min dzalik, sesuai sabda Nabi SAW :

اَلرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَجُلُ أُمَهُ

“Riba mempunyai 73 macam dosa, yang paling ringan seperti laki-laki yang menikahi (berzina) dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR Hakim).

Sabda Nabi SAW :

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang sedang dia mengetahuinya, lebih berat dosanya daripada 36 kali berzina.” (HR Ahmad).

Sudah sangat jelas hukumnya ketika kita berutang dengan bunga, tentu ini jadi dosa investasi yang harus kita tanggung bersama, bagaimana kita berlepas diri, tentunya harus mengganti sistem nya dengan asas islam.

Hanya penerapan sistem ekonomi Islam dalam bingkai khilafah saja, yang mampu melepaskan penjajahan ekonomi bermodus utang. Sebagaimana yang dialami negara-negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia.[MO]



Posting Komentar