Oleh : Nazwar Syarif

Mediaoposisi.com- Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta melarang mahasiswi menggunakan cadar di lingkungan kampus. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi bahkan mengancam akan mengeluarkan mahasiswi yang nekat menggunakan cadar jika sudah tujuh kali diperingatkan dan dibina.

Ini sudah benar-benar keterlaluan, bukankah hak warga negara bebas untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya. Benarkah? Lalu faktanya bagaimana ? Faktanya malah mahasiswi bercadar dilarang, apakah ini yang namanya negara bebas dalam beribadah ?

Kasus ini menimbulkan polemik di media massa. Di surat pembaca, pendukung cadar membela diri harusnya siswi-siswi itu sah untuk memakai cadar di sekolah maupun di kampus karena mereka cuma “mengamalkan pendidikan moral dan agama serta menyatakan bahwa tujuan pendidikan agama adalah ‘meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa’.”

Inilah bukti bahwa Negara memiliki sikap diskriminatif dan Islamphobia, sehingga jika ada seorang muslimah bercadar selalu dilabeli dengan radikalisme dan terorisme padahal cadar itu adalah ajaran Nabi Muhammad SAW. Jika beliau hadir di tengah-tengah kita hari ini lalu di sematkan label yang menyakitkan seperti ini bagaimanakah perasaan beliau ??

Justru dengan sikap arogan dan tendesius rektor ini akan menimbulkan konflik dari umat Islam, sikap ini bisa dikatakan menyakitkan umat Islam seakan-akan Perguruan Tinggi Islam tetapi kok "anti Islam" sedangkan jika ada mahasiswinya yang mengumbar auratnya dengan berpakaian ketat dan minim sekali dibiarkan oleh Rektor, Rektor ini perlu dipertanyakan ke Islamannya ?

Seharusnya Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajak para mahasiswinya untuk lebih bertaqorub  (mendekatkan) diri kepada Allah SWT, dengan lebih bertaqwa (menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya), seperti halnya mahasiswi yang belum menutup auratnya agar diwajibkan menutup auratnya dengan berhijab secara syar'i, lalu bagi yang sudah menjalankan kewajibannya selalu diingatkan agar selalu istiqomah.

Agar mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Perguruan Tinggi Islam menjadi generasi yang produktif, generasi perubahan untuk masa depan, yang memiliki ilmu Islam secara kaffah dan memiliki akhlakul karimah.

Dan Adapun para rektor atau para pendidik (guru), sesungguhnya mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk mendidik remaja-remaja kaum muslimin.

Menjadikan mereka generasi Rabbani; generasi yang selalu berjalan di atas ketentuan Allah dan RasulNya, generasi yang meneruskan perjuangan para sahabat, generasi yang siap mengemban dakwah Islam.

Ajarkanlah kalimat tauhid, ajarkanlah sunnah-sunnah Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ajarkanlah akhlak mulia. Itulah tugas seorang guru yang merupakan tugas yang agung dan amanah yang besar.[MO]

Posting Komentar