Oleh : Ningsri Fuanah, A.Md 
(Pemerhati Perempuan dan Pembina Majlis Ta'lim) 



“Wanita dijajah Pria Sejak Dulu”

Mediaoposisi.com-Potongan bait lagu diatas nampaknya menggambarkan realitas kaum hawa saat ini. Kekerasan terhadap kaum hawa semakin hari semakin menjadi, hingga tak jelas lagi kehormatan kaum hawa ada dimana. Bukan tanpa data, melainkan ini realitas yang berseliweran di depan mata.

Lihatlah apa yang terjadi pada perempuan negeri ini, menurut data Komnas Perempuan menunjukkan setiap hari ada 35 perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual,  salah satunya perkosaan. Ini artinya, setiap dua jam terjadi tiga kasus (VIVA.Co.Id).

 Bahkan yang terbaru apa yang terjadi dengan kasus kekerasan di Jawa Tengah (Jateng), selama Januari 2018 sampai pertengahan bulan ini saja sudah ada 704 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dari jumlah itu, 78,80 persen jadi korban kekerasan seksual, 11,00 persen kekerasan fisik dan 10,20 persen kekerasan psikis (MuriaNewsCom).

Fakta di atas memberi gambaran bahwa wanita saat ini sudah kehilangan izzahnya (kehormatan, red). Wanita selalu menjadi bulan-bulanan kejahatan. Hal itu wajar, karena paradigma sistem liberal yang mercokol saat ini menempatkan wanita sebagai sosok lemah, sosok yang tidak memiliki sisi strategis sedikitpun sehingga siapa saja berhak memperlakukan wanita dengan kasar.

Bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun yang seharusnya melindunginya.

Mirisnya penanganan terhadap kekerasan terhadap perempuan selama ini sangatlah lamban. Justru solusi-solusi yang digelontorkan hanya mendatangkan masalah baru.

Sebutlah salah satu contohya apa yang saat ini sedang digodog pemerintah untuk menangani kekerasan pada perempuan ini, yaitu dengan wacana pembahasan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Sejak digelontorkanya RUU ini, dari namanya saja sudah banyak yang mengoreksi, apalagi jika melihat isinya. RUU PKS ini mengundang kontroversi, bagi kalangan yang pro mereka yakin bahwa dengan disahkan UU ini nantinya akan menjadi terobosan dalam pencegahan kekerasan seksual, perlindungan dan pemulihan korban kekerasan seksual dan keluarganya, serta penindakan tegas para pelaku kekerasan seksual di Indonesia.

Namun bagi yang kontra tidak sedikit dari mereka khawatir UU ini justru akan menyuburkan kekerasan itu sendiri.

Terlepas dari kontroversi RUU PKS ini, sebetulnya jika kita melihat kasus kekerasan pada perempuan yang semakin meningkat setiap tahunnya itu menandakan bahwa peraturan-peraturan yang telah dibuat pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut tidaklah manjur.

Malah menimbulkan komplikasi dimana-mana, begitupun yang mungkin akan terjadi dengan RUU PKS ini. Apalagi jika melihat point-poinya jelas didalamnya terdapat unsur-unsur ide-ide kebebasan, melebarkan ruang perzinahan dan perilaku menyimpang seperti LGBT yang justru akan melanggengkan dan melebarkan permasalahan yang ada.

Apalagi pendekatan solusinya juga lebih mengedepankan sisi feministik yang justru akan melanggegkan kebebasan berlandas HAM yang secara fakta justru ide-ide kebebasan inilah yang telah meliarkan pikiran manusia untuk bertindak sesuai nafsunya dan sehingga sanggup bertindak tidak manusiawi.

Hal ini jelas, bahwa niat sebagus apapun dalam upaya menuntaskan masalah kekerasan pada perempuan, jika aturan yang dibuatnya lahir dari otak-otak yang penuh keterbatasan maka pasti akan tidak mampu untuk menjadi solusi, termasuk RUU PKS ini.

Sepintar-pintarnya manusia dan setinggi apapun kecerdasan akal manusia, maka pasti tidak akan bisa berjalan dengan lurus tanpa bimbingan wahyu.

Akal manusia ibarat sepasang mata sedangkan dalil wahyu bagaikan lentera atau cahaya. Mata tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya cahaya. Mata kita baru bisa berfungsi dengan baik dan benar jika ada cahaya. Cahaya tersebut sebagaimana kedudukan dalil wahyu terhadap akal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya.

Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah]

Sementara disisi lain, sebetulnya ada solusi sekaligus menjadi alternatif satu-satunya yang telah memberi uswah (contoh teladan). Sudah terbukti dalam lembaran fakta sejarah, kemampuannya dalam memberikan kemuliaan pada perempuan.

Dialah Islam, agama sekaligus jalan hidup yang memberikan kejelasan aturan untuk seluruh manusia termasuk di dalamnya perempuan, agar hidup dalam kemuliaan.

Aturan-aturan dalam islam semuanya lahir dari Zat yang memiliki otoritas untuk mengatur manusia yang tidak lain dialah Al-Khaliq sekaligus Al-Mudabbir, Allah Ta'ala. Ketika kalam Allah terterap dalam kehidupan dan dijadikan panduan dalam mengarungi kehidupan, hanya kemuliaan saja yang nampak darinya.

Syariat Islam laksana sinar mentari yang menyinari kehidupan. Dimana syariat dilaksanakan, disana manusia akan selalu mendapatkan standar nilai yang jelas; terlepas bahwa mereka secara lahiriyah menampakkan kebencian, permusuhan, dan sikap anti-patinya kepada syariat tersebut.

Allah Ta’ala tidak peduli dengan sikap permusuhan mereka, sebab Dia menurunkan syariat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam; meskipun orang-orang zalim, fasik, dan kafir membenci.

Sebagaimana Allah menyampaikanya dalam firmanNya:

“Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, maka janganlah engkau termasuk bagian dari orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah: 147)

Di sisi lain berdasar fakta sejarah telah mencatat bagaimana kaum perempuan sangat dimuliakan dalam islam. Pernah ada seorang perempuan yang dilecehkan oleh lelaki Yahudi Bani Qoinuqo, saat ia berada di pasar.

Maka Rasulullah yang saat itu sebagai pemimpin penerap aturan islam, tidak segan-segan menurunkan pasukannya dalam jumlah besar dan melakukan pengepungan terhadap Yahudi Bani Qoinuqo.

Pengepungan tersebut berujung dengan pengusiran Bani Qoinuqo dari Madinah. Ketegasan Rasulullah terhadap Bani Qoinuqo semata karena dia memahami bahwa perempuan sangatlah mulia dan tidak boleh dilecehkan izzahnya.

Sehingga hal ini jelas, menerapkan aturan yang lahir dari Kalamullah dalam sebuah institusi kepemimpinan yang menerapkan islam, adalah sebagai hal urgen yang harus diwujudkan untuk menyelesaikan hilangnya izzah perempuan akibat kekerasan terhadapnya.[MO]















Posting Komentar