Anak Sekolah Dasar

Oleh: Suratin Robiyatna SE.sy
(Ibu rumah tangga pemerhati keluarga dan generasi.)

Mediaoposisi.com-Sering kita sebagai orang tua merasa perlu mengarahkan anak. Merasa perlu mengatur anak agar memiliki masa depan yang cerah dan gemilang. Tapi disistem sekarang ini, sistem yg sekuler (memisahkan agama dari urusan hidup) membuat suram gambaran masa depan yang cerah. Sistem sekuler ini membuat gambaran masa depan yang cerah dengan ukuran materi dunia bukan visi akhirat.

Sebagai orang tua kita terobsesi agar anak menjadi dokter, doktor, profesor dan kita bisa terangkat derajat dimata masyarakat lewat kegemilangan si anak.

Sehingga kita bekerja keras, luar biasa sampai binasa waktu waktu kita untuk akhirat. Kita bekerja keras untuk menyekolahkan anak, memfasilitasi anak agar mau sekolah di sekolah yang menunjang cita cita kita. Sampai kelelahan meliputi kita.

Ketika kita mengharap besar hasil dari si anak lewat hitungan materi, kita akan mudah menjatuhkan beban mental kepada anak. Misal kita ingin anak kita menjadi pejabat tinggi negara, tokoh masyarakat.

Kita mengharuskan anak mengupayakan apapun agar cita besar itu terwujud, baik itu dgn jalan yang jujur ataupun curang.

Yang terpenting standar materi mendapatkan jabatan itu tercapai. Ketika si anak justru memilih menjadi penjual dan pengusaha roti mungkin, kita spontan menganggap remeh tukang roti. Tidak ada nilai materi disana.

Padahal menjadi tukang roti, menyediakan roti yang halal untuk consumen muslim lebih mendatangkan berkah, menjadi perantara diterimanya do'a lewat makanan yang halal. Dibandingkan menjadi pejabat yang korup.

Begitupun tidak ada yang salah menjadi pejabat, asal visi misinya adalah akhirat. Bukan materi dunia, pejabat yang memimpin umat kepada penerapan syariat Islam Kaffah tentunya.

Pejabat yang yg jujur dan adil karena sadar bahwa jujur dan adil adalah perintah Allah bukan jujur dan adil karena pencitraan

Nampak klasik tapi kita masih seperti ini menjadi orang tua. Tanpa sadar. Padahal apa yang salah dari tukang roti, jika ia si anak tadi berhasil dan faham bahwa menjadi tukang roti pun bisa membanggakan orang tua dunia akhirat.

Dengan si anak faham ia muslim, menjual roti yg halal untuk membuat yang makan roti menjadi muslim yg taat, menjadi perantara diterimanya do'a lewat makanan yang halal.

Maka visi si anak ini adalah visi akhirat. Mungkin didunia orang tua dan si anak tidak begitu terpandang, tp di akhirat dipandang oleh Allah SWT.

Kita sebagai orang tua cukup mengapresiasi anak, mendorong, dan membekali anak dengan visi akhirat. Membimbing anak dengan aqidah Islam yang teguh, sehingga apapun jadinya si anak kelak semua bernilai di akhirat. Bukan hanya di dunian.

Contoh : sebagai Muhammad Al Fatih yang sedari bayi di disebut ibunya "kelak kau akan menjadi penakluk konstantinopel" sampai beranjak remaja ia terus mendapatkan dorongan itu.

Si Muhammad Al Fatih kecil pun belajar tehnik berperang, mempelajari banyak bahasa, dan ilmu geografi sebagai penunjang visi dan misi besarnya menjadi penakluk konstantinopel. Dan orang tua hanya cukup terus memantau, mendorong dan menginspirasi.

Maka kita pun bisa cukup dgn memberikan visi kepada si anak, visi akhirat maka anak akan berupaya sendiri, walaupun lelah ia melakukannya lillah sehingga disana kita tetap memetik pahala.

Ketika kita berkata misal pada si anak "kelak kau akan menjadi seorang pelaut yang tangguh, memimpin umat menaklukkan Roma" maka si anak akan bugar, sel otaknya akan berkembang pesat mencari cari informasi dan ilmu apa saja sebagai penunjang misi itu.

Apa yg dibutuhkan si anak akan mencari, dia akan belajar ilmu tehnik, geografi, mengasah skill berenang, mengolah fisik dan semua ia lakukan atas dorongan iman dan itu lebih kuat tanpa tekanan dan beban.

Bahkan, jika kelak ia bercerita tentang misi besarnya kemudian ditertawakan oleh teman teman nya si anak tidak akan mudah jatuh, justru bangkit dan termotivasi untuk membuktikan kebenaran dari misinya.

Berapa banyak anak yang dibully di sekolah justru menjadi tokoh, ilmuwan berkat kasih sayang, dorongan dan didikan orang tuanya.

Dan berapa banyak anak yang berprestasi secara akademik, menjadi bintang sekolah tapi bunuh diri, tapi memiliki pribadi yang rusak karena tidak memiliki dasar keimanan dan aqidah Islam yang Cemerlang karena, serakah dan brutal karena tekanan dari visi misi orangtuanya. Na'udhubillah.

Mari berbenah. Kita kembali belajar memaknai bahwa mendidik anak bukan sekedar Menyekolahkan. Tapi mendidik dengan hati ikhlas, atas dorongan keimanan, visi aqidah Islam, dan mengharapkan hanya Ridho Allah SWT. In syaa Allah, sebagai orang tua kita bisa berbangga didunia dan terutama diakhirat.[MO]

Posting Komentar