Mahasiswa

Oleh : Mutia Darmawan
(Koordinator Back To Muslim Identity Community Meulaboh, Revowriter Aceh) 


Salam mahasiswa!! 

Mediaoposisi.com- Apa kabar mahasiswa? Dua bulan telah berlalu pasca aksi heroik presiden mahasiswa UI, Zaadit Taqwa yang memberi kartu kuning kepada presiden Jokowi saat Dies Natalis UI dulu.

Masihkah bara api perjuangan tetap menyala? Masih kritiskah suara mahasiwa menelanjangi kebobrokan penguasa? Masihkah kartu kuning terjulur dengan gagah berani ataukah kini berubah merah?

Atau justru sebaliknya? Tak ada lagi kartu kuning atau merah. Terbungkam dengan narasi radikalisme dan wawasan kebangsaan yang sengaja diciptakan penguasa dan memilih berkutat pada tugas kuliah semata?

Peran Strategis Mahasiswa 

Mahasiswa dari masa ke masa, selalu menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat. Begitupun saat ini, semangat perlawanan terhadap kezaliman yang ditunjukkan oleh penguasa secara terang terangan telah menjadi batu pemantik kesadaran mahasiswa akan buruknya penerapan sistem demokrasi di negeri ini.

Berbagai peristiwa yang silih berganti menimpa bangsa ini, telah merenggut kesejahteraan dari tubuh rakyat. Mencederai rasa kemanusiaan bahkan menguliti habis kewibawaan bangsa di hadapan asing dan aseng.

Tragedi kelaparan di Asmat, masuknya narkoba beratus ton ke Indonesia, impor garam yang tak masuk logika di negara maritim, hingga yang terbaru kenaikan harga bbm secara diam-diam ditenggarai muncul sebagai implikasi kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat.

Gerakan Mahasiswa Pembebasan/KMI/bandung

Di sinilah idealisme mahasiwa di uji. Akankah mampu menyuarakan jerit hati rakyat dan menghadirkan solusi kongkrit untuk mengatasi seluruh persoalan yang dihadapi oleh rakyat? Mampukah mahasiswa menjadi sosok yang tak hanya "agen of change"  namun menjadi "Leader of change?"

Mengingat peran strategis ini, diperlukan sebuah pemahaman yang jelas tentang akar masalah umat yang sebenarnya, serta bagaimana solusi tuntas untuk mengatasinya.

Tak kalah penting, harus  ada pula sebuah kesatuan visi dan misi mahasiswa dalam menggerakkan roda perubahan di masyarakat agar tak terjebak pragmatisme sesaat dan berakhir di meja jamuan.

Mengurai Akar Masalah Umat

Siapapun yang masih jernih pemikirannya akan mampu melihat bahwa problem utama bangsa ini adalah bercokolnya sistem demokrasi sekuler yang menjadikan kapitalis berkuasa atas nama rakyat. Demokrasi yang diagung-agungkan demi kepentingan rakyat, tersandera oleh kepentingan korporasi. Menjelma sebagai penguasa baru dengan menciptakan sebuah pemerintahan berwujud korporatokrasi.

Dari negara asalnya, Presiden Abraham Lincoln (1860-1865) mengatakan bahwa demokrasi adalah “from people, by the people, and for the people “(dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat). Lalu hanya berselang sebelas tahun kemudian setelah Lincoln meninggal, Presiden AS Rutherford B.Hayes, pada tahun 1876 mengatakan bahwa kondisi As pada tahun itu adalah ”from company, to company,and for company”( dari perusahaan, oleh perusahaan dan untuk perusahaan).

Reformasi 1998
Kembali ke Indonesia, sebagai hasil perkawinan silang antara korporasi dan demokrasi, pemerintahan saat ini menciptakan kebijakan yang menjadikan asing dan aseng sebagai tuan-tuan baru yang harus dituruti segala titahnya. Mereka masuk mengintervensi segala bidang. Maka, muncullah kebijakan aneh dan tak masuk akal. Sejatinya, Inilah penjajahan yang sebenarnya.

Kini penjajahan menggunakan gaya baru yang disebut neoimperialisme dan neoliberalisme. Dengan penjajahan ini aset-aset bangsa berupa sumber daya alam dijarah asing dan aseng lewat UU.

Bahkan aset berupa anak-anak bangsapun tak luput dari degradasi moral akibat penjajahan pemikiran yang diimpor barat berupa liberalisme, hedonisme  dan isme-isme lain yang kerusakannya bersifat kronik. Tak terasa tapi membunuh secara perlahan dan korbannya mampu tersasar mulai dari Sabang hingga Merauke.

Visi Perjuangan Mahasiswa

Walhasil, semprit dan kartu kuning yang di berikan Zaadit taqwa, ketua BEM UI kepada Jokowi memang menjadi sebuah simbol bahwa pergerakan mahasiswa masih hidup. Hal ini patut di apresiasi di tengah mati surinya pergerakan mahasiswa dalam menyuarakan keadilan.

Namun perjuangan menegakkan keadilan tidak hanya sekedar agar suara mahasiswa didengarkan. Lebih dari itu pergerakan mahasiswa haruslah memiliki visi yang jelas agar tak berhenti di meja hidangan penguasa.

Visi pergerakan mahasiswa harus bersumber dari pemikiran yang shohih dan memiliki misi (metode)  yang benar dalam mewujudkan apa yang di cita-citakan.

Maka Visi Itu Tak Lain Adalah Islam Politik. Mengapa Harus Islam Politik? 

Sebagai sebuah ideologi, Islam memiliki kekuatan pemikiran dan tata aturan (syariah) yang lengkap bagaimana memecahkan seluruh persoalan umat. Dan hal ini hanya mungkin diwujudkan jika syariah diterapkan dalam sebuah institusi negara (khilafah).

Mahasiswa

Politik di dalam Islam adalah pengaturan segala urusan umat (Riayatu lil syu'unil ummat). Khilafah sebagai instutusi politik Islam memegang peranan penting dalam setiap pengaturan ini.

Rasulullah saw, sejak awal kepemimpinannya telah mencontohkan praktek politik skala negara dengan berdirinya daulah madinah sebagai negara Islam pertama.

Rasulullah saw telah menegakkan sendi-sendi  politik Islam mulai dari pengaturan urusan pemerintahan, ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, dan sosial. Pemerintahan berlanjut hingga kekhalifahan Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib  hingga kekhalifahan terakhir di Turki Usmani. Praktis selama 13 abad lebih melalui kekuatan Islam politik, umat Islam tampil menjadi sebuah kekuatan besar yang dengannya digelari sebagai umat terbaik.

Inilah mengapa visi perjuangan mahasiswa yang ingin membangkitkan kembali umat Islam harus berupa Islam politik.

Tantangan Mahasiswa Dalam mewujudkan Visi 

Sekulerisme telah melanggengkan neoimperialisme akibat berkuasanya para kapitalis yang dapat berlaku sewenang wenang  karena didukung oleh penguasa boneka. Hukum agama tidak diberi ruang dalam publik, karena agama telah dipenjara dalam ruang pribadi. Akibatnya hukum adalah milik para kapitalis.

Maka krisis multidimensi melanda negeri dari berbagai sisi. Mulai dari pemerintahan, ekonomi, kesehatan, hukum, pendidikan hingga tata pergaulan.

Allah SWT berfirman :

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan   yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. [QS. Thaha :124]

Inilah tantangan yang masih membentang di hadapan mahasiswa dan umat Islam. Bagaimana menghapus sistem sekulerisme yang menjadi biang segala problematika umat hari ini.

Sejatinya perubahan yang lebih baik tidak akan pernah terjadi selama berpaling dari syariah. Khilafah Islamiyah sebagai institusi politik Islam telah menunjukkan bukti bahwa penerapan sistem Islam dalam setiap aspek kehidupan akan menghantarkan pada kemajuan peradaban kehidupan manusia.

Para ilmuan Barat pun mengakui keunggulan Islam politik dalam mewujudkan kesejahteraan tanpa diskriminasi terhdap non muslim.

Allah SWT berfirman :

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Qs. Al Anbiya : 107)

Misi meraih Visi Politik Islam

Menakar pentingnya visi politik Islam pada perjuangan mahasiswa, maka sudah saatnya mahasiswa menjadikan Islam kaafah-politik sebagai mainstrem perjuangan dan satu satunya solusi menuju Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Gerakan Mahasiswa Pembebasan

Ada 3 langkah (misi) meraih suksesnya perjuangan politik mahasiswa. 

Langkah Pertama, membentuk akidah dengan keyakinan yang kokoh. Perjuangan butuh modal dan amunisi. Maka amunisi terbaik adalah dengan mengkaji dan memahami Islam kaafah sebagai aqidah spritual dan sistem politik yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Langkah Kedua, mewaspadai upaya musuh merusak identitas pemuda Islam dengan cara membangun berfikir cara berfikir kritis sehingga mampu membongkar sesatnya ide ide sekulerisme kapitalis dan juga Islam moderat.

Mahasiswa jangan mau di adu domba dengan sesama aktivis muslim. Mahasiswa harus bersatu tidak mudah berpecah belah untuk menghapus kebohongan terhadap Islam kaafah dan institusi politiknya Khilafah islamiyah.

Langkah Ketiga, paham metode shahih perubahan. Rasulullah saw menjadi suri tauladan dalam melakukan perubahan di tengah masyarakat.

Beliau menempuh 3 metode dasar yaitu pembinaan individu dengan pemahaman Islam,  berinteraksi dengan masyarakat dan mengungkapkan persekongkolan jahat penguasa dan kaum kapiltalis dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Dilanjutkan dengan tahapan terakhir yaitu penerapan hukum yang didahului oleh penyerahan kekuasaan dari umat kepada kelompok dakwah Islam.

Inilah visi besar pergerakan mahasiwa yang akan menghantarkan pada perubahan yang sejati. Menghasilkan kebangkitan yang hakiki sebagaimana dulu umat ini begitu disegani, berwibawa dan hidup dalam kesejahteraan, kamkmuran dan keadilan. [MO/br]


Posting Komentar