Golkar

Oleh: Nasrudin Joha 
Mediaoposisi.com-Salut. Mungkin, diantara manuver politik partai yang mendekat ke Jokowi Golkar adalah yang paling elegan. Berada di peringkat yang paling Norak adalah PSI. Maklum saja, PSI masih bau kencur. Belum matang untuk memetakan politik, apalagi bermanuver untuk menguntit kue kekuasaan, dari partai-partai seniornya.

Diluar Golkar, kemampuan masih rata-rata. Masih terlihat sedikit kasar. Diantara yang bermanuver ada SBY dari Demokrat, menggunakan forum Rakernas. Hari Tanoe juga nyodok untuk jadi cawapres, melalui forum Mukernas. Hanura, melalui Mukernas. PKB melalui survey-surveyan, tapi agak sedikit ngancem. Jika Cak imin tidak jadi cawapres, PKB mempertimbangkan membentuk poros baru, konon katanya begitu.

Sementara Golkar, tentu saja juga mengincar posisi RI 2. Hanya saja, Golkar terlihat lebih halus dan tidak terkesan kolokan. Golkar tetap menujunjukan daya tawar, tidak harus menggunakan puji-puji berlebih, atau ikut membela dalam polemik tokoh seperti intervensi SBY atas diskursus Luhut vs Amien Rais.

Mukernas Golkar hanya menyebut mendukung pencapresan Jokowi, meski sesekali menyatakan siap mendampingi Jokowi. Tetapi Golkar tetap tidak terbuka tunjuk hidung, siapa kader Golkar yang didorong untuk mendampingi Jokowi.

Demokrat yang sedang berusaha PDKT menjadi kehilangan konsentrasi, setelah Hasto menyodorkan bola karambol kasus e KTP ke muka partai Demokrat. Demokrat juga belum terlalu yakin atas sikap Megawati, pemilik saham mayoritas PDIP.

Ditengah kegalauan Demokrat pada sikap politik mega, ketidakpastian komitmen dukungan ke Jokowi, Demokrat mendapat serangan politik e KTP dari Sekjen PDIP. Dinamika ini, tentu menyulut Perdebatan hangat di internal Demokrat. Suara-suara kader partai yang meminta meninjau ulang dukungan pada Jokowi (yang ditafsirkan dukungan kepada PDIP) akan menjadi lagu wajib dalam dinamika internal partai.

Situasi itu tentu menguntungkan Golkar. Golkar bisa berkonsentrasi untuk meraih komitmen politik atas konsesi pembagian kekuasaan, sebagai upah (kompensasi politik) dukungan Golkar terhadap Jokowi.

Golkar juga terlihat lebih siap untuk berkomunikasi dengan Mega, ketimbang Demokrat. Luka yang mendalam Megawati selama periode pemerintahan SBY, nampaknya akan sulit hilang begitu saja.

Adapun manuver selain Demokrat dan PDIP, bagi Golkar suara partai selainnya bisa dianggap sekedar sketsa pelengkap saja. Bukan faktor determinan bangunan koalisi partai.

Suara-suara PSI, PPP, Hanura dan Nasdem, tidak akan terlalu berpengaruh pada posisi RI 2. Golkar paham betul, berhimpunnya seluruh partai pada gerbong Jokowi pasti karena kompensasi politik. Tidak ada makan siang gratis.

Golkar pernah berada di barisan oposisi saat dipimpin Ichal. Tetapi, sepenggal pengalaman menjadi oposan itu sangat menyakitkan. Golkar selama lebih dari 32 tahun terbiasa berada dibarisan kekuasaan. Golkar, tentu saja tidak akan pernah siap dan sanggup menjadi oposan jalanan. Golkar terbiasa duduk manis di kursi kekuasaan.

Poto-poto mesra Jokowi dengan ketum Golkar akhir-akhir ini, bukannya tanpa makna. Gambar sudah sanggup berbicara, ketimbang pidato berapi-api dalam forum Mukernas partai.

Jika partai lain tidak jeli, sudah pasti Golkar akan memenangkan pertarungan kepentingan ini. Golkar tidak saja mampu meraih 2 (dua) kursi menteri. Golkar juga sangat berpeluang mencuri kursi RI 2 dari mitra koalisi pendukung Jokowi. Hayo ? Siapa yang akan dipecundangi ? [MO].

Posting Komentar