Ilustrasi

Oleh: R.Wijaya 
(Anggota Back to Muslim Identity Community Samarinda)

Mediaoposisi.com- Tahun politik telah tiba. Hilir mudik pengguna jalan telah diramaikan dengan foto-foto yang berseliweran dengan senyum paling bersahaja. Di kota maupun desa, semua sama rata sama rasa. Tidak ada yang memasang wajah garang apalagi wajah penuh ambisi yang tajam. Karena tujuannya bukan untuk menjauhi tapi mencoba untuk mendekati.

Bukan hanya di tempat-tempat umum. Hawa panas tahun politik pun merebak di dunia kampus. Menjadi perbincangan. Bahkan mengisi ruang-ruang diskusi atas nama "pencerdasan".
Tidak bisa dipungkiri bahwa kampus memang sarangnya para intelektual dan aktor perubahan. Di dunia kampuslah para pemuda ditempa banyak pemikiran yang membentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Jika yang memenuhi ruang pikir pemuda-pemuda harapan masa depan ini adalah pemikiran pragmatis, lalu bagaimanakah nasib bangsa kedepannya? Ya, sudah bisa dipastikan bahwa tidak akan ada perubahan yang signifikan. Yang ada hanya perubahan nama, wajah dan karakter kepemimpinannya.

Padahal, saat ini sudah begitu jelas terlihat bahwa dunia butuh suatu perubahan alias solusi yang mampu menuntaskan segala problematika. Bukan parsial, apalagi hanya satu bidang saja. Lebih-lebih hanya dengan tumpukan-tumpukan skripsi yang bisa dijual beli.

Karena kerusakan parah yang terjadi di segala lini; ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya, tidak cukup bahkan tidak mampu diselesaikan hanya dengan tugas akhir yang hanya menjadi simbolis kelulusan.

Namun sayangnya, mahasiswa justru dipaksa untuk menyibukkan diri dengan tesis yang tidak memberi seutas harapan bagi perubahan bangsa maupun dunia.

Pemuda selayaknya disiapkan untuk berinovasi dengan membawa solusi hakiki. Solusi yang memanusiakan manusia dan solusi yang mampu mengatur seluruh manusia. Bukan hanya agama, golongan, ras ataupun suku tertentu.

Aturan yang paling tepat tentu aturan yang datangnya dari Sang Pencipta manusia, yakni Allah SWT. Karena di mana-mana, pencipta pasti paling tahu tentang bagaimana mengatur apa yang diciptakannya.

Para pemuda akan sungguh-sungguh cerdas tatkala menjadikan Islam sebagai filterisasi pemikiran dan sikapnya. Tidak terjebak dengan suasana sistem yang bukan habitat aslinya.

Mereka menjadi cerdas dan mencerdaskan serta menjadi agen perubahan yang benar-benar diharapkan oleh ummat.

Populasi terbesar didominasi oleh pemuda. Untuk itulah pemuda adalah penentu bagi arah perubahan suatu negeri. Pemuda memiliki energi, ketangkasan dan keberanian yang tidak dimiliki oleh usia sebelum maupun setelahnya.

Lalu, mau dibawa ke mana potensi dan suara pemuda? Ke arah perubahan hakiki dengan Islam ataukah untuk melanggengkan hegemoni penjajah dengan menjadi agen-agen pelaksana kepentingan barat dan sekutunya?[MO]

Posting Komentar