Illustrasi

Oleh: Siti Rahmah

Mediaoposisi.com-Pakaian muslimah senantiasa menjadi isu yang seakan sedap untuk selalu di hangatkan.

Berbagai hujatan dan tudingan kerap kali di tuduhkan kepada siapapun yang mengenakan pakaian muslimah.

Propaganda pun kian santer untuk menghadang arus pemakaian busana muslimah ini.Semakin di hadang semakin gencar itulah kiranya ungkapan yang tepat, bagaimana tidak fenomena fashion dunia bahkan sudah menjadikan hijab, pakaian muslimah menjadi life style.

Bahkan saat ini gaya pakaian muslimah Indonesia sudah menjadi kiblat fashion dunia.Perkembangan pesat akan kesadaran penggunaan pakaian syar'i memang sudah terasa.

Misal bisa di lihat di tahun 90-an untuk menemukan muslimah berkrudung entah itu di sekolah - sekolah, para pegawai atau instansi pemerintahan hal itu sangat jarang.

Beda dengan saat ini hampir semua sekolah Negeri baik guru ataupun siswinya sudah berpakaian muslimah, di rumah sakit - rumah sakit, perkantoran - perkantoran, polwan, politisi bahkan para selebriti yang nota bene sebagai trend setter sudah menjadikan pakaian muslimah sebagai life style mereka.

Apa yang kita saksikan saat ini tentu bukan sesuatu yang muncul secara tiba - tiba, kesadaran para muslimah dalam mengenakan pakaian syar'i nya itu adalah hasil dari sebuah proses panjang.

Proses penyadaran akan kewajiban dan proses kemenangan dari sebuah perang budaya yang kian di gencarkan.

Betapa tidak barat senantiasa menuduh bahwasanya pakaian muslimah adalah pakaian kuno, nora bentuk ketertinggalan dan pengekangan terhadap kaum perempuan.

Bahkan sederet tudingan negatif pun tak pernah surut mereka arahkan kepada perempuan muslimah yang menjalankan kewajibannya untuk menutup aurat.

Propaganda - propaganda kian kencang di gencarkan untuk menghadang kesadaran muslimah tersebut, tuduhan teroris radikal acapkali di sematkan kepada muslimah ini.

Pakaian Bentuk Kesadaran.

Apa yang kita saksikan saat ini tentu adalah sesuatu yang membahagiakan. Allah senantiasa membuktikan janjiNya, bahwasanya kebenaran akan selalu di menangkan.

Berbondong - bondongnya muslimah yang berhijrah dengan diawali memakai hijab, yang terdiri dari jilbab (pakaian kurung/ gamis) dan khimar (krudung) 

Bahkan cadarpun sudah menjadi hal biasa di kalangan muslimah Indonesia, ini membuktikan akan keberhasilan dakwah yang di emban oleh kaum muslimin.

Betapa tidak dakwah penyadaran pemikiran akan pentingnya melaksanakan kewajiban terutama menutup aurat kini sudah menjadi kesadaran umum di tengah - tengah masyarakat. 

Jika di tahun 2000 an kewajiban menutup aurat hanya sebatas di maknai sebagai kewajiban memakai kerudung.

Namun saat ini masyarakat sudah memahami pakaian muslimah secara utuh. Mereka menyambut seruan Allah dalam surat An Nur ayat 31 yang berbunyi:

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung".  (QS. An-Nur 24: Ayat 31)


Kaum muslimah saat inipun begitu memahami seruan Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)

Manisnya Ketundukan.

Bagi seorang muslimah mengenakan kerudung atau dalam bahasa arabnya di sebut khimar, sebagaimana yang di sebutkan dalam surat An Nur 31. 

Bahwasanya "hendaklah menutupkan kain kudung hingga ke dadanya" menjadi indikasi bahwa syarat kerudung harus menutup sampai kedada, bukan asal menutupi kepala atau rambut tapi harus menutup hingga kedada.

Syarat kedua dalam mengenakan pakaian muslimah seperti yang di jelaskan dalam Al Quran surta Al Ahzab ayat 59, bahwa "hendaklah menutup jilbab keseluruh tubuh mereka" mengindikasikan bahwa sayarat jilbab harus menjulur dan menutup seluruh tubuh.

Kalau di Imdonesia pakaian ini di sebut dengan istilah gamis. Gamis balutan pakaian yang menjulur menutup seluruh tubuh yang di gunakan para muslimah dan kerudung yang menutup kepala hingga ke dada.

Pakaian inilah yang menjadi ciri ke-Islaman dan ketaatan juga ke tundukan kepada Rab Semesta Alam.

Balutan gamis yang di kenakan seorang muslimah yang di landasi ketundukan bukan hanya sekedar pengejaran terhadap fashion semata, menjadi bukti manisnya muslimah dalam balutan gamis.

Hanya saja manisnya pakaian muslimah tentu bukan hanya sekedar label yang di sematkan manusia karena pakaiannya yang fashionable tapi manis semata - mata dalam kacamata syara karena landasan iman dan taqwa yang mewarnai dan menyertainya.[MO]


Posting Komentar