Oleh: Ranita Shafiyyah

Mediaoposisi.com-Seminggu telah berlalu, namun Ghouta masih pilu. Sejak seminggu yang lalu, kawasan Ghouta timur telah menjadi arena pembantaian rezim Suriah pro Assad dan sekutunya, Rusia.

Setidaknya 403 warga sipil terbunuh dalam lima hari (international.sindonews.com). Sumber beria yang lain bahkan mengungkap 530 warga sipil telah terbunuh, 130 diantaranya anak-anak ( cnnindonesia.com).

Sejak tahun lalu, 95 persen kawasan Suriah telah dikuasai rezim Assad. Sebelumnya, Suriah terbagi dalam kantong-kantong yang dikuasai rezim Assad, kelompok oposisi, dan kelompok teroris ISIS. 

Hanya Ghouta timur yang belum dikuasai Assad. Serangan udara dan darat selama lima hari tersebut diperparah dengan penggunaan senjata kimia, gas klorin pada Sabtu 24 Februari lalu.

Menanggapi hal ini, Dewan Keamanan (DK) PBB menyeru Rusia dan Assad untuk melakukan gencatan senjata selama 30 hari.

Meski awalnya menolak dengan hak vetonya, Presiden Rusia Vladimir Putin, akhirnya memerintahkan gencatan senjata selama lima jam setiap hari di Ghouta timur mulai 27 Februari agar warga sipil dapat dievakuasi melalui koridor kemanusiaan.

Sebuah pernyataan hipokrit, mengingat banyak media telah mengutip pernyataan mantan komandan Rusia yang kini menjadi anggota parlemen, Vladimir Shamanov bahwa Rusia telah menguji coba 200 lebih senjata barunya di Suriah.

Muslim Harus Mengecam

Di awal pembantaian hingga sekarang, Ghouta nyaris sepi pemberitaan. Para pemimpin negeri-negeri Islam seolah menutup mata atas tragedi Ghouta.

Jangankan mengirim pasukan, mengecam pun tidak. Jikapun ada, kecaman hanya datang dari Persatuan Ulama Islam Internasional, International Union of Muslim Scholar (IUMS) pada 22 Februari lalu di Doha (arraahmah.com).

Bahkan Presiden Indonesia, negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, lebih menyempatkan diri menonton Dilan di Senayan City dibandingkan membahas apa yang perlu dilakukan Indonesia untuk meringankan Ghouta.

Sebuah gambaran rasa persaudaraan yang terkikis. Padahal dalam hadits dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah Muhammad saw. bersabda:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai dan mengasihi diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (Muttafaq 'alayh).

Beginilah harusnya persatuan muslim dengan muslim lainnya. Jika seorang muslim disakiti, maka muslim yang lain akan membantu dengan kemampuannya, baik dengan doa, harta, bahkan kekuasaan yang dimilikinya.

Mengecam kebiadaban Rusia dan rezim Assad adalah keharusan bagi setiap muslim, terlebih bagi seorang pemimpin negara yang merupakan komandan tertinggi militer, maka mengerahkan tentara muslim adalah kewajiban.

Solusi untuk Semua

Umat Islam saat ini benar-benar dalam kondisi yang terpuruk. Dijajah, dihinakan, dibunuh bahkan direnggut kehormatan perempuannya tanpa ada yang membela.

Para penguasa muslim diam bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan para penjajah.Ini terjadi karena umat Islam saat ini sedang terlena dengan bius nation state yang telah diciptakan para penjajah sejak perjanjian Sykes-Picot pada 1916.

Umat Islam dibiasakan cukup mengurusi urusan dalam negeri dan mengabaikan nasib saudara muslim di belahan bumi lain atas nama nasionalisme.

Pembelaan atas saudara-saudara muslim hanya bisa dilakukan oleh individu dan kelompok. Padahal wajarnya, negara penjajah hanya bisa dihadapi dengan kekuatan level negara juga.

PBB sebagai lembaga tertinggi dunia juga hanya berhenti pada lipstik kecaman dan kutukan. Keputusan-keputusannya bisa dimentahkan dengan hak veto satu negara saja.

Masihkah kita umat Islam berharap pada lembaga-lembaga ini? Padahal dulu umat Islam pernah memiliki negara yang disegani karena kekuatan akidah dan politiknya selama 13 abad.\

Sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai asas dan peraturannya. Itulah Al Khilafah. Negara yang memposisikan dirinya sebagai benteng bagi umat. Yang umat berlindung di belakangnya, dan berjuang dengan kepemimpinanya.[MO]

Posting Komentar