oleh : Yeni Ummu Aliya 
(Komunitas Muslimah Peduli Generasi Brebes)

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu ini ramai adanya aturan baru yang akan ditetapkan bagi pengendara roda empat. Hal tersebut berawal dari sebuah pernyataan Kepala Sub Direktorat Pembinaan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, bahwa mendengarkan musik dan atau merokok termasuk dalam keadaan yang mengganggu konsentrasi pada pasal 283 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Bagi yang melanggar bisa dipidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750.000. Tentu hal tersebut menuai pro dan kontra..

Tak hanya kali ini saja, sebelumnya di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Terhitung sejak Oktober 2015 Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memberlakukan sebuah peraturan unik akibat kecemasanya dengan tingkah remaja di sana yang kerap berpacaran di luar batas.

Peraturan ini akan menghukum para remaja yang masih di bawah umur (17 tahun ke bawah), jika bertamu ke rumah kekasihnya kemudian berduaan hingga melewati pukul 21.00. Apabila terjadi demikian, akan diberi peringatan dan dihukum secara adat yang berlaku. Seperti diusir dari desa atau membayar denda adat sesuai dengan nominal yang ditentukan.

Apabila  melanggar hingga tiga kali akan dinikahkan secara paksa. Untuk melaksanakan kebijakan ini pemerintah Purwakarta memasang kamera CCTV di perbatasan desa dan menyediakan beberapa petugas untuk mengawasi lewat CCTV.

Bulan pertama peraturan ini diberlakukan, tertangkap 30 pasangan melanggar dan satu pasangan yang akhirnya harus dinikahkan secara paksa karena sudah diperingatkan selama lebih dari 3 kali.

Wilayah Kota Bandung, pedagang kaki lima (PKL) dianggap salah satu biang keladi dari kemacetan dan merusak keindahan kota. Hal ini kemudian mendasari Pemerintah Kota Bandung untuk melahirkan peraturan denda sebesar 1 juta rupiah, bagi orang yang nekat membeli pada PKL, terutama pada wilayah yang dianggap sebagai Zona Merah untuk para pedagang kaki lima. Wilayah tersebut adalah jl. Merdeka, jl. Asia-Afrika, Dalem Kaum , Kepatihan, Otto Iskardar Dinata dan jl. Dewi Sartika.

Tak hanya di Indonesia, di Negara lain pun banyak aturan-aturan yang tergolong aneh. Korea Utara melarang rakyatnya mengenakan celana jeans. Perancis membatasi saus tomat untuk anak sekolah dasar, maksimal pemberian sekali dalam seminggu.

Milan, Italia melarang rakyatnya mengerutkan alis kecuali selama pemakaman dan menjenguk orang sakit. Malaysia melarang penggunaan kaos berwarna kuning. Dan masih banyak lagi. Peraturan-peraturan yang dibuat ada yang telah dicabut ada pula yang masih berlaku hingga saat ini.

Peraturan-peraturan yang dibuat terkadang masuk akal namun adakalanya "nyeleneh", bahkan adapula peraturan yang justru menyalahi nilai agama dan moral, seperti peraturan tentang lokalisasi yang pernah ada di negeri ini, dengan alasan untuk meminimalisir perzinahan dan transaksi seksual tak terjadi di sembarang tempat.

Namun pada kenyataannya perzinahan masih ditemukan dimana-mana, angka penderita HIV Aids pun semakin tinggi. Padahal sudah jelas dalam agama perzinahan itu haram tapi dengan adanya lokalisasi layaknya difasilitasi.

Tingkat aborsi di dunia tergolong tinggi, tercatat sekitar 56 juta tindakan aborsi dilakukan di seluruh dunia.(tempo.co, 26/05/16). Tingkat aborsi tertinggi Indonesia dialami oleh remaja sekitar 30 persen dari 2,3 juta kasus aborsi. (kompas.com). Angka yang luarbiasa, maka tak heran ketika hal tersebut bagai benang kusut, tapi bukannya mengurai benang, salah satu program pemerintah yakni ATM Kondom pada tahun 2003, dengan menempatkan 42 ATM Kondom tersebar di seluruh Indonesia, dengan alasan untuk mengurangi tingkat kehamilan yang tidak diinginkan, tapi justru benang semakin kusut karena dengan adanya ATM Kondom siapapun bisa mengaksesnya dengan mudah tak terkecuali remaja.

Aturan-aturan yang dibuat umumnya berdasar pada hawa nafsu serta akal manusia yang terbatas. Tidak atas dasar pertimbangan Ridho Allah namun aturan mana yang mendatangkan manfaat lebih banyak, tak peduli apakah menyalahi agama atau tidak.

Jelas dalam sistem kapitalisme-sekuler ataupun sosialisme-komunis agama hanyalah sebatas ritual, spiritual dan moral belaka, atau bahkan tak ada andil apapun dalam kehidupan. Alhasil ketika masalah baru muncul seketika panik meramu peraturan yang dapat memecahkan permasalahan. Namun aturan yang dibuat bagai tambal sulam, satu masalah dipecahkan tapi muncul masalah lainnya.

Aturan yang ditetapkan bukan atas dasar iman tapi atas dasar perkembangan zaman maka siap-siap mengalami kerusakan di semua lini kehidupan. Aturan buatan manusia akan jauh berbeda dengan aturan Sang Pencipta. Aturan buatan manusia hanya berlaku pada masa dan keadaan tertentu bahkan terkadang atas dasar hawa nafsu, namun aturan Sang Pencipta pasti sesuai dengan fitrah manusia, tak terikat ruang dan waktu hingga berlaku untuk semua tempat dan segala zaman apapun itu.

Syariah Islam telah mencakup seluruh perbuatan manusia, tidak ada satupun masalah kecuali ada pemecahannya dalam Islam. Mulai dari masalah pribadi, masyarakat hingga negara. Mulai dari masalah ibadah, sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum hingga politik. Sungguh komprehensif. Namun pelaksanaan syariah tentu akan sempurna jika dalam sebuah sistem Islam, di mana dalam pelaksanaan sistem Islam terdapat tiga asas yang mendasar.

Pertama, terdapat asas ketakwaan yang tertanam dan terbina pada setiap individu di masyarakat. Kedua asas kontrol, pengawasan serta koreksi dari masyarakat terhadap penguasa. Ketiga, asas pembangun masyarakat berupa pemerintahan pelaksana hukum syara. Ketiga asas ini akan menjadikan umat kokoh, sempurna serta konsisten peraturannya.

Jika banyak berdalih bahwa manusia mengalami perubahan yang dinamis maka peraturan yang dibuat pun harus ikut dinamis tentu itu sebuah alasan manis yang secara tidak langsung menganggap syariah Islam  yang begitu agung, lengkap dan sempurna menjadi kerdil, lemah dan seolah memiliki banyak kekurangan serta tak mampu menghadapi tantangan zaman.

Mari buka cakrawala berpikir tentang Islam. Negeri ini mayoritas Muslim terbesar maka jadilah pionir peradaban yang mencukupkan dengan syariah Islam dalam memecahkan berbagai problem kemanusiaan yang diproduksi oleh kapitalisme-sekuler maupun sosialisme-komunis.

Jangan lagi karena perkembangan zaman peraturan ditetapkan tapi cukupkan dengan Iman maka akan berlimpah keberkahan di sepanjang zaman dan di seluruh tempat di mana adanya kehidupan.

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu."(TQS. al-Maidah[5]:48).[MO]






Posting Komentar