Oleh: Nasrudin Joha 

Mediaoposisi.com-Luhut Binsar Panjaitan (LBP) nampaknya sudah geram menjadi pemain belakang. Sosok yang sering disebut berada dibalik layar, gemas ingin naik panggung juga.

Kontroversi ancaman Luhut kepada Amien Rais terkait kritik sertifikat tanah, memulai babak baru. Luhut membuka front terbuka vis avis melawan Amien Rais.

Ini blunder. Ini konyol secara politik. Kekonyolan langkah Luhut ini, dapat dilihat dari beberapa perspektif :

Pertama, dari sisi otoritas pribadi publik akan lebih memercayai Amien Rais yang telah matang dan lama malang melintang didunia pergerakan ketimbang Luhut. Luhut, meski dikenal jenderal tetapi kiprahnya sebagai pengusaha dikenal luas. Tabiat utama penguasa: pragmatis.

Berbeda dengan Amien Rais, seorang aktivitas yang memiliki idealisme -apalagi di masa udzur- kritik seorang Amien Rais murni menyerap aspirasi umat. Seorang Amien saat ini, bukanlah Amien 5 sampai 10 tahun yang lalu, yang masih memendam birahi politik, yang masih mencoba ejakulasi syahwat kekuasaan.

Amien yang sekarang adalah seorang yang benar-benar risau, galau dengan kondisi bangsanya. Seorang yg telah melalui berbagai dinamika politik, dan akhirnya berkhidmat hanya untuk umat. Itu saja.

Dengan membandingkan dua karakter sosok tersebut, umat akan memberikan pembelaan penuh kepada Amien Rais ketimbang Luhut. Dua tokoh ini, jika tersenyum senyumnya akan berbeda. Umat, akan lebih melihat ketulusan senyum seorang Amien Rais.

Kedua, pameo politik menyebut "JIKA TIDAK MAMPU MENAMBAH ELEKTABILITAS, JANGAN MENGGERUS ELEKTABILITAS". Tindakan LBP yang membuka front dengan Amien, akan menggerus elektabilitas Jokowi.

Terbukti, bagi PAN Amien bukan saja sosok pendiri tetapi tokoh Spiritual PAN. Amien, juga pernah memimpin Ormas Islam besar. Maka wajar, jika Drajat dan Din Samsudin ikut meradang. Dan jika eskalasi diperluas, seluruh kader PAN memiliki kemampuan untuk memainkan isu sesuai konstelasi politik, untuk membenamkan Luhut bahkan bisa sampai Jokowi.

Apalagi, ditengah animo publik yang mulai jengah dan emoh terhadap Jokowi. Jika PAN mampu menyulut sumbu ketidakpercayaan, maka bukan saja elektabilitas Jokowi, bahkan Jokowi pun bisa selesai.

Ketiga, substansi kritik yang disampaikan Amien adalah hal yang lumrah dan biasa. Problematika agraria di negeri ini sudah jamak dan diketahui publik. Ketidakadilan agraria, terbukti saat ada segelintir orang menguasai 5 juta hektar lahan, ditengah jutaan penduduk yang tidak memiliki tanah barang semeterpun.

Jadi persoalan bukan sekedar simplisit sertifikat-sertifikatan, kartu-kartuan, yang bisa diselesaikan dengan model blusuk-blusukan. Ini persoalan pelik, perlu paradigma menyeluruh dan pemahaman yang komprehensif.

Jika ada seorang dengan pemikiran sederhana, kemudian diingatkan oleh orang yang memiki pemahaman utuh, hemat penulis : mendengar tentu lebih bijak ketimbang mengeluarkan jurus ancam-ancaman.

Semua dinamika diatas, mengkonfirmasi betapa psikologi penguasa begitu paranoid. Mereka telah kalah, sebelum pemilu dan Pilpres digelar.

Mereka begitu galau dan ketakutan, sehingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan ngelantur. Sebut saja, sebelum kasus ancam-ancaman ini memanas, sebelumnya ada wacana menunda kasus korupsi hingga Pilkada usai, melepaskan kasus korupsi jika kerugian kecil, melepaskan kasus korupsi jika dana dikembalikan.

Ini kebijakan panik, rezim tidak mampu lagi berfikir Normal sehingga berani (baca: nekat) mengeluarkan wacana yang bertentangan dengan logika hukum dan logika publik.

Kasus ancam-ancaman ini akan menjadi beban Jokowi. Bagi umat, bertarung dengan kesombongan Luhut berarti mendapat kemuliaan. PAN selayaknya memberi pelajaran kepada LBP agar bisa menjaga statement.

Sebaliknya, Jokowi perlu menegur segera. PDIP harus urun rembuk, jangan sampai hanya karena kesalahan seorang Luhut, elektabilitas Jokowi yang sudah jebol akan semakin ambrol. [MO].

Posting Komentar