Para Pelajar pelaku Klitih

Oleh: Puspita Satyawati, S.Sos.
 Pembina Muslimah Rindu Syariah Yogyakarta, pegiat Revowriter

Mediaoposisi.com- Fenomena kekerasan pelajar atau klithih di DIY belum menampakkan tanda akan berakhir. Seorang pelajar salah satu SMP di Kasihan, Bantul diserang tiga remaja tak dikenal pada Sabtu ( 24/2 ). Sebelumnya, Polsek Gamping, Sleman merazia sejumlah pelajar yang membolos.

Di Gunungkidul, polisi mengamankan puluhan remaja tawuran. Pada akhir Januari lalu Polresta Yogyakarta menahan 28 pelajar karena  tindak pidana perusakan di Mantrijeron, Yogyakarta. Mereka berasal dari 12 SMA di Yogyakarta, Bantul, dan Sleman.

Demi mengatasi masalah ini, berbagai solusi tengah dan akan dijalankan. Perda Ketahanan Keluarga akan disiapkan karena pelaku klithih dinilai berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Dalam nota kesepahaman antara Polda DIY dan Pemda DIY, dua polisi bakal ditempatkan di tiap sekolah.

Di Sedayu, Bantul, untuk mengantisipasi maraknya klithih, polisi melibatkan organisasi masyarakat dalam program giat razia malam. Sekaligus merespon fenomena klithih, Pemda Sleman membentuk Forum Anak Desa yang akan berisi kegiatan seperti diskusi, kursus, seni budaya, dan pengajian agar remaja berpaling dari aktivitas negatif.



Pada awalnya klithih atau nglithih merupakan istilah untuk menyebut aktivitas keluar rumah tanpa tujuan atau keluyuran. Kini, klithih mengalami pergeseran makna dan populer digunakan untuk menggambarkan tindak kekerasan sekelompok pelajar SMP atau SMA yang biasanya menarget pelajar sekolah lain untuk dihajar bahkan hingga korbannya meninggal.

Jika sebelumnya sasaran dan pelakunya jelas dari dua atau lebih sekolah yang bermusuhan, tapi saat ini korban dan pelaku tak lagi bisa dipetakan. Meski pelaku berstatus pelajar sekolah, namun mereka tak lagi hanya menyasar pelajar sekolah lawan.

Pelaku membentuk geng gabungan remaja beberapa sekolah dengan sasaran acak tak peduli tua muda atau pria wanita. Mereka menggunakan senjata tajam seperti pisau, celurit, gir, atau benda yang ada di sekitar aksi mereka. Perbedaan dengan begal, pelaku klithih tidak mengambil barang korban tapi hanya melumpuhkannya.

Kenekadan para pelaku klithih dimaksudkan salah satunya untuk unjuk eksistensi diri, perasaan bangga di hadapan kelompok teman sebaya karena telah berhasil memperdaya orang lain. Tak sebatas ingin menunjukkan loyalitas teman sebaya, klithih juga bermuara dari rasa kecewa, masalah di rumah, putus cinta, lingkungan sekolah, dan pergaulan.

Gejolak ketidakpuasan yang lantas dilampiaskan dengan perbuatan kriminal secara brutal. Selain itu, klithih juga ditengarai sebagai ‘prestasi’ demi diterima menjadi bagian dari komunitas premanisme yang lebih besar yang berafiliasi dengan suatu kelompok politik maupun ekonomi.

Klithih, Perkara Sistemik

Klithih merupakan cermin kelabilan usia remaja. Salah satu penyebabnya adalah pendidikan pra baligh belum tuntas diajarkan orang tua. Orang tua dianggap berhasil mengantarkan pada jenjang baligh, saat anak tergambar visi hidup sebagai hamba dari tuhannya dan konsekuensi kepatuhan kepada segenap aturan-Nya.

Namun fenomena klithih bukanlah problem yang berdiri sendiri. Banyak faktor berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung yang memicu timbulnya kekerasan. Beragam dan berulangnya kekerasan pelajar jelas menunjukkan bahwa problem ini tidak  bersifat kasuistik melainkan perkara sistemik, melibatkan banyak aspek kehidupan.

Lemahnya ketahanan keluarga dan menurunnya fungsi orang tua sebagai pendidik utama memang berkontribusi dalam menciptakan kekerasan pelajar. Tetapi sejatinya bukan hanya faktor tersebut. Sistem kehidupan sekulerisme liberal mempunyai andil besar atas sederet problem di masyarakat termasuk klithih.

Pengadopsian sekulerisme ( paham pemisahan agama dari kehidupan ) sebagai landasan sistem pendidikan di negeri ini telah mencerabut ruh keimanan dalam diri pelajar. Pembelajaran ilmu umum tidak dipadukan dengan aspek agama. Pendidikan agama ( Islam )  diajarkan sebatas ranah ibadah ritual dengan metode pembelajaran transfer pengetahuan semata dalam waktu minimalis  3-4 jam pelajaran perpekan.

Ketika makna agama disempitkan maka iman dan taqwa pun tak diizinkan mewarnai aktivitas di luar ibadah ritual termasuk pergaulan remaja. Wajar jika output pendidikan sarat dengan nilai liberal, menjadi pribadi serba bebas, liar, dan sulit diarahkan.




Di luar lingkungan sekolah, remaja berinteraksi dengan berbagai produk kapitalis yang mengumbar adegan kekerasan seperti games, video, dan tayangan lain yang sangat mudah diakses melalui perangkat digital era kini. Gaya hidup hedonisme yang bertumpu pada kesenangan materi sebagai tujuan hidup dan asas tindakan menambah keliaran remaja.

Sistem ekonomi neoliberal saat ini juga berkontribusi dalam memproduksi kekerasan pelajar. Liberalisasi ekonomi dari hulu ke hilir berdampak pada kemiskinan struktural. Untuk dapat bertahan hidup tak hanya ayah yang bekerja, kaum ibu turut serta dalam pusaran dunia kerja. Perhatian dan pengasuhan anak pun berjalan ala kadarnya.

Fungsi pendidik pertama dan utama sulit dijalankan oleh sang ibu. Peran ini akhirnya dilimpahkan kepada sekolah dan pengasuh. Wajar jika orang tua merasa kesulitan mengendalikan dan mengarahkan anak. Kekerasan adalah cara anak memberontak atas hilangnya kasih sayang dan perhatian dari ayah bunda.

Sehingga di tengah massifnya arus globalisasi dan penatnya beban ekonomi, orang tua dituntut sigap membentengi anak dari berbagai pengaruh merusak. Tak hanya berbagai solusi jangka pendek, problem ini membutuhkan tinjauan solusi jangka panjang.

Solusi yang memastikan penerapan sistem kehidupan yang mengakomodasi fitrah manusia menuju kebaikan dunia akhirat. Ialah aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan.[MO]








Posting Komentar