Ilustrasi

Oleh Ragil Rahayu Wilujeng, SE


Mediaoposisi.com- Sejarah khilafah ibarat sebuah film panjang. Umat Islam sering menyaksikan cuplikan kebaikan Islam. Episode demi episode. Seperti aneka potongan video yang banyak beredar di media sosial. Namun tak banyak umat tahu film utuhnya. Umat tak tahu kapan kebaikan Islam itu terwujud. Umat hanya bisa merasakan keindahannya, kesejahteraannya, keadilannya dan romantisnya. Tanpa tahu benang merah ceritanya.

Kita tentu takjub tak terkira melihat keadilan dan ketegasan Umar bin Khatab. Beliau memikul gandum di pundaknya, demi seorang ibu dan anak-anaknya. Umar ra juga rela mengakui kesalahan pendapatnya di hadapan khalayak.

Umar bahkan terdiam saat seorang nenek membicarakan keburukan Sang Khalifah, yaitu dirinya. Umar ra yang sangat romantis hingga saat istrinya mengomel, justru dirangkulnya. Beliau bahkan menangis tersedu-sedu saat mendapat isyarat wafatnya Rasulullah saw. Padahal beliau adalah juga seorang amirul jihad yang gagah berani. Di masanya terjadi pembebasan (futuhat) hingga Jerusalem.

Umat Islam tentu mendambakan sosok pemimpin seperti Umar ra. Mungkin juga sebagian umat tahu bahwa Umar ra adalah seorang khalifah. Seorang amirul mukminin. Namun tak banyak umat tahu bahwa sistem pemerintahan yang dijalankan Umar ra adalah khilafah.

Sistem khilafah pula yang dijalankan Abu Bakar ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Mereka adalah para khalifah, disebut khulafaur rasyidin. Sistem pemerintahannya adalah khilafah. Ibukotanya di Madinah.

Umat Islam sering pula mendengar kisah Umar bin Abdul Aziz. Cicit dari Umar bin Khatab. Keberhasilan Umar bin Abdul Aziz yang paling terkenal adalah kesejahteraan luar biasa yang diwujudkannya, hingga tak ada dari rakyatnya yang berhak menerima zakat. Karena semua sudah sejahtera. Sementara kas baitul mal (APBN)  berlimpah.

Dana baitu mal lalu diberikan kepada orang yang biasa menerima upah. Namun masih berlimpah. Lalu diberikan kepada orang yang berhutang dan tidak boros. Namun baitul mal masih berlimpah juga. Lalu digunakan untuk menikahkan orang yang lajang dan membayarkan maharnya.

Namun baitul mal masih berlimpah. Akhirnya dicari orang yang punya usaha dan membutuhkan modal, lalu memberikan modal tersebut tanpa harus mengembalikannya.

Inilah tamsil kesejahteraan. Siapa yang tak ingin kehidupan yang begitu makmur. Umat pasti merindukan sosok Umar bin Abdul Aziz. Sosok seperti itu ada dalam sistem khilafah. Ya, Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke delapan dari khilafah Bani Umayah. Setelah berakhirnya khulafa'ur rasyidin, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Khilafah Bani Umayah. Ibu kotanya di Damaskus.

Umat juga tentu sering mendengar lucunya kisah Abu Nawas. Tentang Abu Nawas yang selalu diuji kecerdasannya oleh Sang Sultan, yaitu Harun Al Rasyid.  Namun tak banyak umat tahu, bahwa Al Rasyid adalah khalifah kelima dari khilafah Abbasiyah.

Pemerintahannya begitu gemilang, hingga bahkan disebut golden age.  Pada masanya, beliau mampu mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan bagi rakyat.

Harun Al Rasyid membangun ibukota khilafah yaitu Baghdad dengan sangat rapi dan indah, meski kotanya padat. Istana khalifah sangat megah, bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas). Juga terdapat masjid Jami’ Al-Mansur yang berukuran 100×100 m, kubahnya setinggi 130 kaki.

Kemajuan infrastruktur ini diimbangi dengan kemajuan pendidikan. Untuk level pendidikan dasar dan menengah disediakan kuttab. Sedang untuk pendidikan tinggi,  didirikan Baitul Hikmah yang juga berfungsi sebagai perpustakaan, dan tempat penelitian.

Khilafah Abbasiyah sempat mundur ketika diserang pasukan Mongol yang menghancurkan kota Baghdad. Umat Islam dibantai. Baghdad digambarkan banjur darah. Kota diluluhlantakkan. Kitab-kitab ditenggelamkan ke sungai, hingga airnya menghitam. Namun khilafah Abbasiyah bangkit lagi dengan memindahkan ibukota ke Kairo.

Kisah selanjutnya yang tenar di tengah umat adalah Muhammad al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Pada tahun 1453 berhasil meruntuhkan imperium Byzantium alias Romawi Timur. Tahukah anda, Al Fatih adalah seorang khalifah. Dari bani Utsmaniyah. Terdapat 36 khalifah dari Bani Utsmaniyah dan beliau adalah khalifah ke-7. Ibukota khilafah Utsmaniyah terdapat di Istambul.

Empat kisah di atas hanyalah cuplikan dari sejarah panjang khilafah Islamiyah yang gemilang. Terdapat ribuan kisah tentang kebaikan Islam di bawah khilafah. Kisah yang mungkin tak banyak orang tahu. Seperti penaklukan Andalusia (Spanyol)  oleh Thariq bin Ziyad di masa khalifah Walid ibn Abdul al Malik dari Bani Umayah. Juga kisah pencetakan Dinar Islam pertama oleh Khalifah Malik bin Marwan dari Bani Umayah. Dan banyak kisah lainnya yang bertaburan kebaikan Islam.

Apa benang merah semua kisah tersebut?  Khilafah. Ya, semua kisah tersebut terjadi dalam sistem pemerintahan khilafah. Setelah wafatnya Rasulullah dilanjutkan khulafaur rasyidin, lalu khilafah bani Umayah,  khilafah Bani Abbasiyah dan khilafah Bani Utsmaniyah. Benang merah kesejahteraan, keadilan dan kemuliaan umat Islam itu adalah khilafah.

Khilafah ibarat ibunya umat Islam. Tempat umat Islam menginduk, bersatu, berlindung dan memimpin dunia. Namun ibu umat Islam itu lalu dibunuh oleh Inggris melalui anteknya yaitu Mustofa Kemal Attaturk.

Jadilah umat Islam tercerai-berai. Kebingungan, sedih dan terluka. Tangisan umat terus terdengar sejak runtuhnya khilafah di tahun 1924. Tangisan dari Palestina, Rohingya, Bosnia, Xinjiang, Iraq, Suriah, dan seluruh negeri Islam. Tangis yang hingga kini tak jua reda, apalagi usai. Bahkan makin perih dengan pembantaian di Ghouta.

Relakah kita, kebaikan di bawah khilafah itu ditukar dengan nestapa karena tiadanya khilafah?  Tentu tidak. Ingatlah tanggal 3 Maret 1924. Hari runtuhnya khilafah. Kita kenang untuk kita sudahi. Kita ingat untuk kita akhiri. Dengan dakwah, perjuangan dan persatuan umat menuntut tegaknya khilafah. Bahkan yahudi saja ingat kebaikan khilafah.

Di hari terakhir Khilafah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid 2  dipaksa meninggalkan istana. Pada malam itu beliau di bawa menuju ke tempat pengasingan dengan menggunakan kereta api. Di stasiun beliau bertemu dengan seorang Yahudi yang kemudian menyuguhkan teh kepadanya.

Selesai minum teh Sang Sultan berterima kasih kepada Yahudi tersebut. Si Yahudi menjawab di sela isak tangisnya "Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya wahai sultan, justru saya yang seharusnya berterima kasih kepada anda. Dulu kami bangsa Yahudi adalah bangsa yang terusir tidak punya negara.Tapi engkau memberikan perlindungan kepada kami". Masya Allah, menangis rasanya menyimak kisah ini. Wahai umat Islam, ingatlah kebaikan para khalifah, ingatlah kebaikan khilafah. Karena khilafah adalah sistem dari Zat yang Maha Baik yaitu Allah Azza wa Jalla.[MO] 



Posting Komentar