Jakarta| Mediaoposisi.com- Belum lama hilang dari ingatan, Partai solidaritas Indonesia (PSI) mendatangi istana negara. Partai Perindo membebek langkah partai bau kencur tersebut.

Dikutip dari detik.com, kali ini giliran Partai Perindo yang menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan.

Para petinggi Perindo diketahui telah tiba di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada pukul 08.16 WIB, Senin (5/3).  Ketua Umum (Ketum) Perindo yang pernah terseret kasus ujaran kebencian Hary Tanoesoedibjo (HT) hadir pukul 09.00 WIB.

HT berdalih tindakannya mendatangi presiden Jokowi hanya untuk silaturahim. Ia juga memabantah anggapan “ada  udang di balik batu” terkait aktitvitas kontroversialnya.

“Sudah sejak lama. Begitu kami sudah resmi jadi partai politik ikut Pemilu, sudah resmi dong. Tentunya silaturahim dengan kepala negara itu saya rasa wajar," jelas Hary.

Apakah partai partai lain yang dekat pemerintah akan melakukan hal yang sama ?
Mengingat sebelumnya, relawan Jokowi dilanjutkan dengan PSI lalu Perindo berhasil mendapat tempat di Istana yang katanya milik “rakyat” tersebut.

Tentu saja, kritikan datang dari berbagai pihak terkait mudahnya pihak pendukung Jokowi untuk mendapat tempat di istana.

Dikutip dari CNN Indonesia. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono pernah menilai Presiden Jokowi  menyalahgunakan kekuasaannya.

Ia menilai pembahasan pemenangan 2019 dengan PSI adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan dengan menggunakan Istana Negara.

"Penyalahgunaan kekuasaan itu.Abuse of power," tegasnya , Sabtu (3/3).

Ferry menegaskan bahwa Istana Negara  digunakan  untuk membicarakan kepentingan rakyat, bukan segelintir golongan semata.

"Harusnya kan membahas bagaimana ini supaya Rupiah enggak ke Rp14 ribu, kemudian daya beli masyarakat. Itu lho. Kok yang dipikirin 2019 aja," kecamnya. [MO]

Posting Komentar