Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Pandai nian menteri-menteri negeri seterah, mentannya minta konsumsi keong sawah, Menkesnya rekom cacing sarden. Kedua menteri itu berargumen pada muara yang sama : keong sawah dan cacing sarden banyak mengandung protein.

Jadi kepada masyarakat yang ingin melakukan perbaikan gizi, perlu penambahan asupan protein tinggi dari jenis hewani, konsumsilah keong sawah dan cacing sarden.

Cacing itu, jika sudah berselancar diantara bongkahan ikan sarden, pastilah kandungan protein sarden menjadi tinggi. Protein C kompleks yang disumbang dari cacing, meningkatkan nilai kalori yang berasal dari bahan protein cacingi.

Protein cacingi ini, akan mencerdaskan dan menaikan IQ. Setidaknya, setelah mengkonsumsi protein cacingi IQ Anda naik menjadi 200, tentu saja setelah digabungkan dengan jutaan cebong se kolam.

Protein cacing ini menambah ghairah hidup dan kekebalan. Kebal dari kritikan, menjadi bergairah untuk tetap memainkan peran jongos. Micek, mbudek, Ora urus !

Protein cacingi -dalam kadar tertentu- akan mengantarkan kodok sampai pada dua periode. Addit Value dari protein cacingi mampu menyihir masyarakat, merubah yang baik jadi buruk, yang buruk jadi baik, membuat kecebong seolah seperti perkasa dan perwira.

Wela dalah, sekelas menteri saja begitu. Apalagi yang kelasnya cuma kecebong ? Geger otak ! Kita ga usah pake otak menanggapinya, cukup angkat tangan keatas dan percikan bau ketiak, itu levelnya !

Cara mengelola negara amatiran ! Tidak punya konsep tidak punya tujuan tidak punya peta jalan. Yang penting jalan, Klo ada masalah di bawa ketawa aja.

Sama saja ketika seorang Presiden ditanya, apa pendapat Anda tentang revisi UU MD3 ? Jawabnya : Hehe Hehe hehehe hehehe ... (Loading 20 jam), setelah itu ngeloyor pergi.

MasyaAllah, Astaghfirullah, ini negara mau dibawa kemana ? Mau dibawa kemana hubungan kita (meminjam lirik lagu Armada).

Jika kau terus membodohi rakyat, dan tak akan nyatakan taubat ?

Cukup sudah ! Kamu jahat ! Kamu jahat terhadap rakyat ! Kamu mengkhianati janji janji ! Kami pinokio, sudah boneka boong pula !

Sesungguhnya urusan ini tidak akan pernah kelar, kecuali umat segera membaiat seorang lelaki, muslim, dewasa, merdeka, baligh, adil dan memiliki kemampuan untuk melayani umat, menerapkan kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Khalifah saja yang memiliki kemampuan untuk menyejahterakan, mengayomi, melindungi dan menghargai rakyatnya. Khalifah akan menjaga seluruh hak, baik hak muslim maupun ahludz dzimah.

Khalifah menjamin terpenuhinya kebutuhan primer, baik berupa sandang pangan dan papan, kepada seluruh rakyat baik muslim maupun ahludz dzimah (non muslim) tanpa pandang bulu.

Khalifah juga akan memenuhi kebutuhan kolektif rakyat baik muslim maupun non muslim, agar terjamin pendidikan, kesehatan dan keamanannya.

Khalifah yang memimpin Khilafah akan mendorong seluruh manusia taat kepada Allah SWT, sehingga dari bumi dan langit bertebaran berkah, seluruh penjuru bumi mengeluarkan perbendaharaan harta untuk kepentingan umat manusia.

Khalifah adalah pelayan umat, benteng umat, penjaga umat. Khalifah bukan Presiden, bukan perdana menteri, bukan raja bukan pula kaisar.

Khalifah adalah pemimpin negara Khilafah, bukan Republik, bukan kerajaan, bukan federasi, bukan pula kekaisaran.

Khalifah dipilih dan ditetapkan melalui akad Bai'at, bukan pewarisan, bukan pemilu, bukan dengan kudeta, bukan dengan people power.

Khalifah itu seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Bukan Hitler, bukan Mussolini, bukan Lenin, Bukan George Washington, bukan Elizabeth, bukan pula Jokowi.

Khalifah itu yang kita rindukan, yang kita inginkan, yang kita perjuangkan. Udah, tinggalin cacing cacing demokrasi, Khilafah aja ! Kamu pasti bahagia. [MO]

Posting Komentar