ilustrasi

Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si

Mediaoposisi.com-Saat ini, tepat 94 tahun umat Islam kehilangan kekuatannya. Bagai burung tanpa sayap, tak mampu terbang dan kehilangan identitasnya. 94 tahun silam tepatnya 3 Maret 1924 seorang yang dianggap pahlawan revolusi Mustafa Kemal Attaturk, telah mengubah Sistem Islam menjadi Republik. Mengubah sejarah kegemilangan Islam menjadi masa-masa kelam tanpa aturan Tuhan.

Dunia Islam menangis, tertindas oleh bengisnya kapitalis sekuler. Perempuan-perempuan muslim dieksploitasi, atas nama HAM dan feminis mengorbankan diri menjadi budak uang. Anak-anak kehilangan masa depan. Terjebak pada pergaulan bebas, narkoba, kriminalitas, dan hedonis.

Agama hanya sebatas ibadah ritual. Diagungkan pada saat shalat, dan dicampakkan pada saat bermuamalah. Masyarakat dipaksa menanggung dosa, dengan melaksanakan segenap aturan yang dibuat oleh manusia. Campur tangan Tuhan sebatas dimasjid. Tidak diberi ruang untuk mengatur kehidupan.

Sekilas kenangan indah masa lalu membayang. Kenangan saat Islam pada puncak kejayan. Tertoreh tinta emas kegemilangan. Tiga belas abad lamanya umat dalam kedamaian dan kemuliaan. Seluruh dunia tunduk pada kepemimpinan Islam. Para ilmuwan lahir dari tempaan zaman kekhilafahan.

Pejuang-pejuang tangguh siap berperang, melawan segala bentuk penjajahan. Mengharap kemuliaan atau kesyahidan. Karena dunia bukanlah tujuan, namun Ridlo Allah yang menjadi tujuan dari segala tujuan.

Namun, kini semua tinggal kenangan. Islam sekarang dihinakan. Para ulama dikriminalkan layaknya pelaku kejahatan. Pemuda-pemuda di jerumuskan dalam jeratan narkoba dan kebebasan. Perempuan dipasarkan, dijajah secara ekonomi dan pemikiran. Pemahaman kebahagiaan dibelokkan, diukur dari tercukupinya segala kebutuhan.

Jebakan-jebakan politis digalakkan. Cap teroris, radikal dan garis keras disematkan pada setiap muslim yang berjuang membela agama dan hendak menerapkannya. Segala bentuk tipu daya dilakukan untuk menghambat perjuangan kaum muslim. Frame negatif senantiasa dilanggengkan agar semua takut kepada Islam.

Mereka takut akan datangnya janji Allah, bahwa kelak akan datang Kekhilafahan 'ala min hajj an nubuwwah. Inilah yang ditakutkan oleh orang-orang yang takut akan kebangkitan Islam.

Islam dijadikan sebagai musuh bersama. Organisasi dunia yang mengatasnamakan perdamaian bungkam ketika melihat umat Islam di serang. Bom, mesiu, rudal, bagai hujan dari langit yang selalu menakutkan bagi muslim Palestina dan Suriah.

Negeri-negeri muslim hanya mampu mengecam tanpa tindakan yang nyata. Mereka tidak butuh sembako dan obat-obatan. Karena yang dibutuhkan umat Islam saat ini hanya satu.

Pemimpin yang mengayomi, melindungi, dan mengurusi segala kebutuhannya. 94 tahun lamanya umat Islam menunggu datangnya pemimpin yang adil, 94 tahun lamanya umat Islam terpuruk dalam kehinaan, 94 tahun lamanya Umat Islam berjuang membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan.
Namun, penguasa dan rezim berusaha menghentikan perjuangan itu dengan berbagai cara.

Umat Islam dalam teror, dibayang-bayangi rasa takut akan kedzaliman dan ke-angkara murkaan. Tidakkah ada sedikit rasa kasihan para penguasa terhadap umat ini? Tidakkah kau lihat bayi-bayi tak berdosa setiap hari meregang nyawa?

 Dijatuhi bom bertubi-tubi? Wahai para penguasa negeri-negeri muslim! Kami menunggu tindakan nyata darimu. Untuk membebaskan Islam dari keterpurukan dan penjajahan ini.

Kami rindu Syari'at. Kami rindu Khilafah. Kami rindu pemimpin yang adil dan mengayomi. Sungguh kerinduan ini tidak terbendung lagi, bagai air bah yang siap tumpah. Tinggal menunggu waktu.[MO]

Posting Komentar