Oleh : Sri Kayati, S.Pd

Mediaoposisi.com- Lagi lagi ulama jadi sasaran. Tidak diskriminasi, tidak kriminalisasi.Kini penganiayaan bahkan sampai pembunuhan pada para ulama, ustadz dan aktivis masjid pun terjadi. 

Anehnya para pelakunya adalah orang-orang yang dianggap gila. Skenario orang gila, sementara efektif untuk membodohi masyarakat. Namun skenario tersebut dalam sekejap gagal menyakinkan masyarakat, terutama umat Islam yang peduli. 

Serangan terjadi terhadap pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, kabupaten Bandung, KH. Emon Umar Basyri pada sabtu (27/1/2018).

Serangan juga terjadi terhadap Ustadz  Prawoto, Komandan Brigade pimpinan Pusat Pusat Islam (PERSIS) hingga meninggal dunia pada kamis, 1 Februari 2018 . 

Dan pada Ahad, 11 Februari 2018, pendeta dan jemaat gereja santa lidwine, kabupaten Skeman, DIY, diserang.

Hari berikutnya terjadi perusakan masjid di Sukabumi dan Tuban. Serangan terus berlanjut, kali ini terjadi pada KH Hakam Mubaroh, pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, Paciran Lamongan Jawa Timur pada Ahad siang (18/2/2018). (REPUBLIKA.co.id)

Peristiwa demi peristiwa terjadi pada para ulama, namun penanganan dari pihak polisi terkesan lambat.

Hal ini akan sangat berbeda ketika polisi dan para pejabat merespon terhadap kasus penyerangan gereja. Stempel radikal, teroris dengan segera disematkan pada Islam dan kaum muslimin. 

Tampak jelas dengan mata telanjang, apa yang dilakukan aparat penegak hukum dan para pejabat pemerintah, telah menunjukkan adanya deskriminasi terhadap ulama.

Upaya- upaya untuk membuat opini negatif terhadap Islam begitu mencolok. Bahkan adu domba dan memecah belah kerukunan kehidupan antar umat beragama telah nampak jelas.

Hal tersebut menunjukkan ketidakadilan perilaku rezim saat ini terhadap ulama dan umat Islam, dalam perlindungan dan keamanan.

Sehubungan dengan fakta-fakta di atas, semakin menyadarkan umat akan kondisi pemerintah yang telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai pihak yang wajib melindungi warga negaranya. Kondisi ini telah membuat masyarakat semakin resah.

Kekawatiran masyarakat sangat logis. Pertanyaannya adalah, mana ada orang gila bisa memilih target siapa yang akan diserang. Kondisi ini akan membuat masyarakat semakin waspada terhadap serangan politik yang sedang berlangsung. Kecurigaan masyarakat sangat beralasan.

Siapa yang telah mendalangi peristiwa tersebut. Dari berbagai pihakpun menuntut agar kasus tersebut segera diusut tuntas. Tapi harapan tinggallah harapan.
Lantas bagaimana solusinya. Islam sebagai agama yang sempurna, sebagai sistem kehidupan paripurna, telah memberikan penyelesaian syar'i atas semya masalah.

Termasuk bagaimana negara memberkakukan warga negaranya. Dalam sistem Islam, negara tidak membeda-bedakan individu rakyat dalam aspek hukum, Peradilan maupun kebutuhan rakyat.

Seluruh rakyat diperlakukan sama tanpa memperhatikan ras, agama, warna kulit dan lain-lain. 
Allah berfirman dalam  QS. An Nisaa' : 58; 


"Dan jika kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil".

Dan dalam surat Al- Maidah:8 ; 
Yang artinya :” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Masihkah berharap dengan sistem sekuler saat ini. Sudah sangat jelas, sistem ini rusak dan sifatnya merusak. Apakah menunggu kondisi lebih rusak lagi ???

Bersegeralah bangkit, simpul kekuatan masyarakat yaitu para ulama dan ustadz telah terancam dengan ancaman yang nyata. [MO] 

Posting Komentar