Oleh: Rizki Ika Sahana 
(Pemerhati Perempuan, Keluarga, dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Bayi Calista (15 bulan) akhirnya meninggal setelah koma selama dua pekan. Menurut Tim dokter RSUD Karawang, Calista mengalami encephalitis atau peradangan otak hingga infeksi akibat benturan yang sangat keras.

Sungguh malang nasib Calista. Bayi tak berdosa itu harus menanggung derita akibat penganiayaan oleh ibu kandungnya sendiri. Sinta membenturkan kepala Calista ke rak piring hingga mengenai tembok dengan keras.

Ternyata Calista tak sendiri. Di Jawa Barat saja, dalam dua bulan terakhir terdapat 40 laporan. Subhanallah, kekerasan terhadap anak seakan sudah menjadi kelaziman.

Menanggapi kasus bayi Calista, Pembina KPA Pusat, Bimasena, meminta kekerasan terhadap anak dihentikan. "Semua pihak harus bekerja sama menghentikan kekerasan terhadap anak. Tidak hanya kekerasan fisik, seksual, tetapi semua yang berhubungan dengan anak," tuturnya.

Sebelumnya, Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, juga mengaku sedih dan prihatin saat menjenguk bayi Calista. "Siapapun nanti pelakunya, saya berharap peristiwa seperti ini tidak terulang kembali," ungkapnya.

Memang seperti tidak masuk di akal, seorang ibu yang berperangai lembut dan penyayang berubah menjadi sosok yang kasar lagi tega berbuat kejam. Yang lebih mengherankan, kasus kekerasan terhadap anak tak kunjung usai.

Faktanya, kasus serupa terus berulang meski upaya perlindungan terhadap mereka gencar dilakukan: secara struktural, seperti penerbitan UU perlindungan anak, juga secara komunal, melalui komunitas-komunitas pecinta anak.

Ibu Calista (Sinta) juga para ibu secara umum sangat rentan terhadap Postpartum depression (PPD) atau depresi pasca melahirkan. PPD bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan-lahan, dimulai pada tahun pertama pasca melahirkan.

PPD seringkali terjadi akibat permasalahan pelik yang dihadapi ibu, seperti komplikasi proses persalinan, penurunan tajam hormon estrogen dan progesteron, kondisi lelah ekstrem karena kurang tidur, perubahan identitas dan tanggung jawab yang baru, konflik rumah tangga, juga ketidakstabilan finansial.

Penderita PPD akan merasakan kekhawatiran yang sangat terhadap bayi, takut ditinggal sendirian di rumah dengan bayi, kesulitan merasakan ikatan batin dengan sang bayi, sedih, murung, juga menangis tanpa sebab yang jelas, sering uring-uringan atau emosi terhadap bayi, pasangan atau anggota keluarga lainnya, sulit berkonsentrasi, merasa bersalah, tak berdaya, putus asa, atau gelisah.

Jika gejala ini tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka akan membahayakan diri ibu sendiri juga generasi. Ibu tidak akan mampu merawat dengan pengasuhan dan pendidikan terbaik, justru membawa ancaman resiko pada fisik sekaligus jiwa anak.

Melihat fenomena tersebut, lantas bagaimana menyelesaikan kasus kekerasan pada anak?

Yang harus dilakukan adalah memahami realita persoalannya hingga mampu memahami pula akar penyebabnya. Apakah sekadar bermuara pada personal ibu sebagai pelaku kekerasan, atau ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Jika diteliti, PPD ternyata bukan sebatas akibat perubahan hormon atau ketidakmampuan ibu menghadapi perubahan fisik dan tanggungjawab yang baru, tapi juga berkaitan dengan dukungan pasangan dan keluarga secara khusus dan masyarakat/lingkungan secara luas terhadap peran keibuan.

Selain itu juga ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga yang baik yang lahir dari stabilitas ekonomi negara serta kebijakan distribusi kekayaan/SDA yang adil lagi mensejahterakan publik tanpa pandang bulu.

Kapolres Karawang, AKBP Hendy F Kurniawan pun menuturkan hal yang sama melalui akun media sosial instagram Humas Polres Karawang. Bahwa kasus bayi Calista perlu dituntaskan hingga menyentuh akar masalahnya.

“Bisa dibayangkan, dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, kehilangan anaknya dan harus menjalani proses hukum sampai meringkuk di balik jeruji. Saya berpikir hal tersebut tidak akan menyelesaikan akar masalah dalam kehidupan keluarga Ibu Sinta,” papar beliau.

Oleh sebab itu, penanganan kasus kekerasan pada anak dengan pelaku ibu, tidak sekadar dilakukan secara personal, namun juga butuh penyelesaian secara struktural.

Melakukan recovery kondisi psikis ibu sangat penting, tapi memberlakukan kebijakan ekonomi dan politik yang mengantarkan kepada kepastian hidup yang sejahtera tidak boleh dibaikan. Negara dalam hal ini harus menjadi perisai utama dalam melindungi segenap warga negaranya dari berbagai ancaman, termasuk melindungi para ibu agar terhindar dari PPD.[MO]

Posting Komentar