Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Meskipun tergolong partai “wingi sore”, PSI rupanya tak jauh dari “noda hitam” dalam kiprahnya di dunia perpolitikan Indonesia.

1. Dukung Pembubaran HTI

Sebagai partai yang baru, strategi merapat untuk mendapatkan “kue” dilakukan oleh PSI. PSI, dikutip dari website resminya mengamini tuduhan kontroversial pemerintah terhadap HTI. Anggapan sekuleristik, bahwa agama tidak mengatur perpolitikan juga dibenarkan oleh PSI

Hizbut Tahrir harus dilihat sebagai gerakan politik, bukan gerakan keagamaan. Cita-cita utama Hizbut Tahrir – sebagaimana yang mereka kampanyekan – adalah membubarkan Republik Indonesia dan menggantikannya dengan konsep Khilafah Hizbut Tharir. Organisasi ini secara terbuka ingin menghapus Pancasila dan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

PSI juga memfitnah HTI sebagai gerakan makar yang berbahaya

Hizbut Tahrir aktif bergabung dalam beberapa gerakan politik mutakhir, yang menurut Kepolisian Republik Indonesia, bertujuan makar dan menggulingkan pemerintah yang sah

Seolah mengabaikan kesalahan pemerintah yang enggan bertabayun ke HTI, PSI sebagai partai yang mengklaim partai anti intoleransi ini turut melakukan hal serupa. Tercatat, PSI belum sekalipun mengadakan klarifikasi kepada HTI,

Anti Intoleransi yang diusung PSI senada dengan pemerintah, yaitu menyasar pada ormas Islam.

Nampak jelas dalam paragraf berikutnya, PSI ibarat kehilangan taringnya. PSI yang kerap mengkritisi partai politik yang ada, sontak membeo pada pemerintahan.

PSI mendukung pemerintah menempuh jalur hukum untuk membubarkan Hizbut Tahrir. Pengadilan yang transparan dan terbuka akan menjadi landasan kuat, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempertahankan Pancasila, kebhinnekaan dan kebebasan, melalui jalan demokratis.

Lebih dari itu, PSI melakukan tindakan intoleransi dengan menuding HTI dan ulama Islam melakukan ujian kebencian
.
PSI mendukung pemerintah untuk tidak hanya menempuh jalur hukum membubarkan Hizbut Tahrir, lebih jauh lagi harus ada upaya yang konkret dan tegas untuk memulihkan kembali fungsi masjid-masjid yang selama ini terinfiltrasi dan ikut menyebarluaskan kampanye kebencian Hizbut Tahrir. Selain itu, pemerintah juga perlu mewaspadai penyebaran kelompok intoleran di kalangan birokrasi, kampus, dan aparatus keamanan.



2. Kader Penuh Polemik

Terlepas dari anggapan bahwa kader PSI sengaja memulai kontroversi untuk meningkatkan elektabilitas, kader PSI tak jauh dari berbagai polemik. Sekjen PSI, Raja Juli Antoni dilaporkan oleh Fadli Zon karena melakukan hate speech.

“Telah menimbulkan kebencian kepada Fadli Zon yaitu berita bohong. Ucapan itu memberi efek pelabelan (pembuat hoax) bagi Fadli Zon," ucap kuasa hukum Fadli, Hafni Jumat (9/3).

Adapun cuitan Raja juli yang dianggap merugikan Fadli adalah

 "Bro @anandasurkarlan akan dilaporkan ke polisi oleh tukang buat hoax tiap hari. Kita support bro @anandasukarlan. Yang setuju RT pls! " dan "Ralat : Yg benar bkn buat hoax tiap hari. Tapi buat hoax minimal 3 kali sehari. Kayak minum obat. Oh.. Oh siapa dia. Tebak ayo.. #katateman.




 Cuitan itu sendiri bertanggal 1 Maret 2018

Guntur Romli, kader PSI lainnya juga tak lepas dari masalah. Pelabelan liberal pada Guntur Romli sendiri tak lepas dari beragam pandangan nyelenehnya. Selain itu, Romli juga kerap meremehkan ulama di luar ormasnya NU.

Dari penelusuran Mediaoposisi, Guntur Romli pernah memancing air keruh dengan Ust Arifin Ilham dengan menuduh riya.

“Ironi di TLku, ada komunitas Muslim yang sedang berjuang bertahan hidup dengan berharap bantuan, tapi ada ustadz yang pamer istri ke-3 dan  kemewahan,” tulis Guntur Romli di akun Twitter @GunRomli.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini  menambahi dengna cuitan yang tak kalah pedasnya,

“Riya' (pamer) kan gak boleh, apalagi pamer koleksi istri di tengah tragedi Rohingya, ustadz kan pendidik, harusnya nunjukin kepandaian santri.”

Ulama yang kerap mengkampanyekan sedekah, Ust Yusuf Mansyur juga menerima “nyinyiran” pria  yang doyan memelihara anjing tersebut.

Tsamara Amany, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany pernah menghina Megawati pada cuitannya  pada tahun 2015 silam.

Tsamara sendiri pernah menulis di twitternya, Mei 2015

"Megawati akan dimakan oleh kesombongannya sendiri" 





Tsamara pun mengulang kontroversi yang sama, beberapa bulan setelahnya. Ia kembali menyinggung megawati.

"Bubarkan Megawati!! #eh pada bulan Agustus 2015.



Belum lagi terkait sikapnya yang kerap bersinggungan dengan politisi Fahri Hamzah, Tsamara nampaknya tidak akan jauh jauh dari kontroversi demi kontestasi 2019.[MO]

Posting Komentar