Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Partai Solidaritas Indonesia mengklaim pihaknya sebagai partai baru yang bersih serta simbol perlawanan terhadap partai lain yang “orthodoks”.

“PSI tidak melemahkan pemberantasan korupsi, anti intoleransi, memiliki program kesejahteraan berbasis data, pro perempuan, partai anak muda, rekrutmen caleg terbuka, pendanaan berdasar donasi publik, bukan partai oligarki, kendaraan calon pemimpin bersih, penerapan teknologi untuk kemajuan dan transparansi, serta mendukung Presiden Jokowi untuk dua periode," papar Grace dalam acara syukuran dan menyampaikan "11 Alasan Memilih PSI" di kantor PSI, Senin (19/2).

Dari statemen tersebut, nampak keanehan yang berarti. Pasalnya, partai bau kencur ini langsung mendukung preisden Jokowi.

Jokowi sendiri memiliki berbagai polemik terhadap umat Islam, khususnya terkait kebijakan kontroversialnya, Perppu Ormas.

Perppu Ormas pun dinilai banyak kalangan sebagai kebijakan yang mengebiri toleransi serta anti Islam. Rupanya, jejak hitam PSI tidak hanya itu, simak penelusuran Mediaoposisi.com

1.Dukung Penista Agama
Dikutip dari detik.com “Jadi jelas di kertas suara nanti pilih Basuki dan Djarot Saiful Hidayat. Dengan adanya cahaya dan bekal hidayah ini, semoga keduanya bisa menjabat gubernur dan wakil gubernur menyelesaikan pembangunan DKI. Jangan sampai terputus, perbaikan harus terus dilanjutkan," ungkap ketua umum PSI Grace Natalie, Minggu (9/4/2017).

Dukungan ini seolah mengkhianati klaim PSI sebagai pantai anti intoleransi, pasalnya tindakan Ahok yang menistakan agama Islam dinilai banyak pihak sebagai sebuah intoleransi besar.

Tak heran, Grace juga mengakui bahwa keputusan partainya tersebut memiliki risiko besar.

"Kami mendukung Pak Ahok ada risiko juga lho yang diambil. Ada yang suka banget dan ada yang nggak suka banget," beber eks wartawan TV One di Kantor PSI, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Jumat (2/6).

2. Pengurus Beraroma Penista Agama
PSI seolah tak bisa lepas dengan sosok penista agama, Ahok. Sunny Tanuwidjaja, seorang kroni Ahok yang menjadi perpanjangan tangan Ahok untuk mengurusi sejumlah proyek, salah satunya proyek reklamasi teluk Jakarta.

Sunny tercantum dalam struktur kepengurusan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai Sekretaris Dewan Pembina.

Grace menjelaskan bahwa Sunny telah lama  adai di PSI.
"Ini tidak tiba-tiba. Sunny sudah berada sejak awal PSI berdiri," kata Grace di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Jumat (2/3).

Grace juga mengklaim, jejak hitam Sunny dengan Ahok tidak mempengaruhi kinerja partai.
"DPP diisi anak muda yang berusia di bawah 45 tahun dan belum pernah menjadi pengurus partai manapun," ujarnya.

Sunny sendiri dikenal karena dikaitkan dengan kasus suap  pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) mengenai reklamasi.

Sekretaris PSI, Raja Juli Antoni menyebut adanya kasus tersebut tidak menghentikan sikap PSI sebagai partai yang antikorupsi.

Anda masih percaya dengan PSI ? Simak edisi 2 berikutnya. [MO]


Posting Komentar