Ilustrasi
Oleh: Ummu Nadzifah S.Si
Pembina Lembaga Dakwah Muslimah, Sidoarjo

Mediaoposisi.com-Suatu persoalan akan terselesaikan dengan benar dan membawa kemaslahatan bagi manusia, jika didasarkan pada aturan al Khalik. Karena Dialah Dzat yang menciptakan manusia dan paling mengetahui hakekat manusia. Sebaliknya ketika suatu persoalan diselesaikan berdasarkan hawa nafsu manusia, alih-alih membawa solusi yang benar, maka hal tersebut justru akan menghantarkan pada kerusakan dan jurang  kehancuran.

Demikian pula perdebatan seputar kedudukan perempuan dan laki-laki. Perdebatan ini mengarah pada tuntutan adanya kesamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja ketika makna ‘kesamaan kedudukan’ itu diserahkan pada manusia, maka mereka akan terjebak pada makna ‘kesamaan” secara matematis saja.

Menurut logika kaum feminis laki-laki dan perempuan harus mempunyai kedududkan yang sama persis. Jika laki-laki tidak wajib mengenakan jilbab maka perempuan juga tidak boleh di paksa untuk berjilbab, atau ketika laki-laki tidak wajib terjun dalam urusan kerumahtanggaan demikian pula dengan perempuan. Inilah ukuran yang  mampu dibuat manusia, sangat dangkal, dan jauh dari hakekat penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri.

Wajar puluhan tahun mereka (kaum feminis) menuntut kesamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan alih-alih bisa mengangkat derajat perempuan, yang terjadi justru sebaliknya. Kekerasan terhadap perempuan tetap terjadi, kerusakan generasi menjadi ancaman negeri, kehancuran rumah tangga menjadi mimpi buruk yang bisa saja terjadi. Maka semestinya kita bisa berpikir jernih, pasti ada yang salah dengan solusi yang ditawarkan oleh kaum feminis ini.

Perempuan Dalam Pandangan Islam

Sebagai hamba Allah, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kedudukan yang sama dihadapan Allah. . Derajat kemuliaannya ditentukan oleh tingkat ketaatnya kepada Allah. (QS. Al Hujurat : 13). Sekecil apapun kebaikan atau keburukan yang dilakukan laki-laki, Allah akan memberikan balasannya demikian pula terhadap perempuan. Ketika Allah memerintah sholat maka perintah itu ditujukan kepada laki-laki juga perempuan, demikian pula perintah untuk puasa, zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan lain-lain.

Hanya  saja secara kodrati laki-laki dan perempuan memang ada perbedaan. Maka dari sisi ini Allah memberikan hukum yang berbeda yang sesuai dengan fitrah mereka. Perempuan diberikan kelebihan oleh Allah untuk dapat mengandung dan menyusui.

Maka Allah melengkapi perempuan dengan fitrah keibuan yang penuh kasih sayang, kelembutan dan kehangatan. Agar bisa menjalankan perannya dengan optimal Allah juga memberi hukum rukhsah (keringanan) misalkan: tidak diwajibkan sholat bagi perempuan nifas dan haid,  rukhsah puasa bagi ibu hamil dan lain-lain. Perempuan pun tidak diwajibkan mencari nafkah sebagaimana laki-laki.



Sementara laki-laki, dengan fisik yang lebih kuat maka Allah memberikan tugas kepemimpinan ada di pundak laki-laki, “laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan” TQS. An Nisa 34. Allah juga mewajibkan kepada laki-laki untuk memberi nafkah secara ma’ruf kepada kaum perempuan. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al Baqarah 233).

Inilah diantara hukum yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini bukan dalam rangka melebihkan atau merendahkan satu dengan yang lainnya. Tapi agar mereka bekerja sama menjalankan perannya masing-masing untuk menciptakan keseimbangan di muka bumi.

Ini sangat berbeda dengan konsep kapitalis, dimana harga manusia hanya dilihat dari seberapa besar materi  yang diperolehnya. Secara manusiawi seorang perempuan yang ingin eksistensinya diakui harus berjuang mati-matian demi mendapatkan materi yang sepadan dengan kaum laki-laki. Untuk ini perempuan harus rela meninggalkan atau menitipkan anak-anaknya.

Mereka harus rela diselimuti kegelisahan karena mengkhawatirkan anaknya yang tidak berada dalam dekapannya. Sungguh sebuah konsep yang tidak manusiawi. Kapitalis telah mengeluarkan perempuan dari fitrahnya. Jika demikian apakah konsep kapitalis mampu menjamin kebahagiaan perempuan?.

Islam dengan separangkat aturannya telah menjaga fitrah perempuan, baik posisinya sebagai hamba Allah yang mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki, maupun fitrahnya sebagai perempuan. Selain itu Islam juga memulaikan perempuan.

Sejarah telah membuktikan  bagaimana Islam memuliakan perempuan. Pada zaman Nabi SAW, ada seorang muslimah yang berbelanja di pasar Bani Qainuqa. Seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya hingga ketika berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap dan diiringi tertawaan orang-orang Yahudi di sekitarnya.

Perempuan tersebut berteriak. Kemudian salah seorang sahabat datang menolong dan membunuh pelakunya. Namun kemudian orang-orang Yahudi mengeroyok dan membunuh sahabat tersebut. Berita tersebut sampai kepada Nabi, Beliau langsung mengumpulkan tentara dan mengepung Bani Qoinuqa selama 15 hari, hingga akhirnya mereka menyerah.

Demikianlah Islam telah melindungi perempuan, memuliakannya dan menjaga fitrahnya. Sungguh perempuan akan bahagia dan sejahteran hanya dalam naungan Islam.[MO]



Posting Komentar