Ilustrasi
Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR
(Mahasiswi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI)

Mediaoposisi.com- Perempuan dalam berbagai diskusi intelektual dan keagamaan selalu memiliki porsi tersendiri untuk dibahas. Bagaimana tidak, masalah terkait perempuan ini begitu dinamis seiring dengan berkembangnya zaman. Seperti yang kita tahu, status dan kondisi perempuan begitu menyedihkan di masa pra Islam.

Sebagai contoh di jazirah Arab, perempuan dianggap sebagai sebuah aib keluarga yang keberadaannya tidak pantas sehingga harus dikubur hidup-hidup. Tak hanya di tanah Arab, di beberapa peradaban Barat pun, seperti Romawi dan Yunani, status dan tugas perempuan itu tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu birahi kaum lelaki saja.

Kemudian ketika Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam diutus oleh Allah untuk menjadi rasul yang dalam kata lain Islam hadir di tengah-tengah manusia, perempuan semakin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan. Islam hadir dan mulai memanusiakan perempuan yang status sebelumnya didegradasi ‘kemanusiaan’nya.

Terdapat banyak sekali ayat Alquran yang kemudian memerintahkan perlindungan atas perempuan, bahwa perempuan dianggap sebagai sebuah kehormatan yang harus dijaga, dan sebagainya. Seiring tersebarnya Islam ke penjuru dunia, perempuan juga mulai terangkat derajatnya.

Namun demikian, dunia secara umum dan kaum muslim secara khusus saat ini ibaratnya seperti lupa bahwa Islam demikian sempurna pembelaan dan penghormatannya terhadap perempuan. Lupanya mereka akan kesempurnaan Islam ini membuat mereka menuntut hak-hak perempuan yang dirasa tengah menjadi objek dalam banyak diskriminasi. Tuntutan yang disuarakan itu pun terkesan membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan, padahal nyatanya banyak yang justru mereduksi martabat dan kemuliaan perempuan, karena tuntutan mereka bertentangan dengan napas Islam.

Dampak Ide Liberalisme Terhadap Perempuan

Dijadikannya sekulerisme sebagai asas dari hampir seluruh sistem di dunia ini, termasuk di dalamnya negeri-negeri kaum muslimin, ternyata memberikan kontribusi yang signifikan dalam membuat umat semakin lupa dan jauh dari Islam. Dari ide sekulerisme ini pulalah muncul ide-ide yang menuntut kebebasan (liberalisme) di banyak lini.

Paham feminisme juga akhirnya muncul dari ide berdasar liberalisme ini yang kemudian tumbuh subur menghinggapi benak dunia dan kaum muslimin. Inti dari feminisme adalah bagaimana agar kesetaraan dapat dirasakan semua orientasi seksual; perempuan, laki-laki, bahkan orientasi yang lain, baik dalam aspek politik, sosial, hukum, dll.

Dengan semakin tersebarnya ide sekuler-liberalis, termasuk feminisme di tengah masyarakat, maka semakin sempurnalah pikiran bahwa Islam tak mampu selesaikan masalah perempuan. Hal ini dikarenakan mereka menganggap masih banyak kasus-kasus yang menimpa perempuan yang justru dilakukan atas dasar agama. Dengan kata lain, secara tidak langsung agama telah menjadi korban dari dugaan paham feminisme tersebut, yang juga dikarenakan terterapnya sekulerisme dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat.

menutup aurat adalah bukti ketaan bagi wanita dalam islam

Sekulerisme yang merupakan cabang dari ideologi kapitalisme telah mendorong perempuan untuk bisa bersaing dalam hal materi dengan laki-laki. Perempuan sedemikian rupa dituntut dan didorong untuk harus berpenghasilan sendiri, sehingga tidak perlu bergantung pada laki-laki. Namun di sisi lain, perempuan dibiarkan tidak memahami berbagai ilmu mengenai keluarga dan anak, karena dirasa peran tersebut masih bisa digantikan oleh day care yang pada faktanya mampu memberikan laba dan pundi-pundi materi. Sekulerisme yang menafikkan Tuhan dalam pengaturan kehidupan telah berhasil mencabut kodrat dan fitrah mulia perempuan sebagai seorang ibu.

Berbagai tuntutan yang disuarakan kaum feminis-liberalis ini, yang salah satu di antaranya adalah tak perlunya tuhan mengatur urusan pakaian perempuan sejatinya adalah tuntutan yang rusak dan merusak. Mereka di satu sisi berdalih membela hak perempuan, tapi di sisi yang lain malah merusak perempuan itu sendiri. Jika logika seperti ini ditelan oleh publik, entah akan seperti apa kesudahan masyarakat yang katanya beragama ini.

Apabila mereka ingin membela hak-hak perempuan dan ingin perempuan dimanusiakan, mereka sebetulnya tidak harus menjadi pengusung feminisme dan penyokong liberalisme, karena mereka sejatinya hanya perlu melaksanakan Islam secara menyeluruh untuk bisa mewujudkannya.

Islam Memandang Kaum Perempuan

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani rahimahullah menyatakan dalam bukunya Nidzhamul Ijtima’iy halaman 21, “Allah telah menjadikan pria dan wanita untuk hidup bersama dalam satu masyarakat. Allah juga telah menetapkan bahwa kelestarian jenis manusia bergantung pada interaksi kedua jenis tersebut dan pada keberadaan keduanya pada setiap masyarakat.

Karena itu, tidak boleh memandang salah satunya kecuali dengan pandangan yang sama atas yang lain, bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai ciri khas manusia dan segala potensi yang mendukung kehidupannya.”
Dari pernyataan tersebut, bisa kita dapatkan bahwa Islam memandang perempuan sama dengan laki-laki terkait ciri khas kemanusiaan yang dimiliki keduanya.

Perempuan dalam pandangan Islam merupakan sebuah kehormatan yang wajib dijaga dengan segenap jiwa maupun harta. Di buku yang sama, syaikh Taqiyuddin menjelaskan bahwa syariah Islam telah mendatangkan segenap hukum kepada perempuan yang terkait kehamilan, kelahiran (wiladah), penyusuan (radha’ah), dan pengasuhan (hadhanah). Atas dasar itulah, Islam menetapkan bahwa kegiatan utama perempuan adalah aktivitas keibuan dan pendidikan anak di samping aktivitasnya yang lain. Perempuan juga telah ditetapkan di dalam Islam sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bayt).

Tugas yang ditaklifkan Islam kepada perempuan tersebut bukanlah untuk mengekang, membatasi pergerakannya, dan menyempitkan hidupnya. Allah menetapkan hukum-hukum yang demikian karena Ia sebagai Pencipta (Al Khaliq) dan Pengatur (Al Mudabbir) tahu bahwa itulah fitrah alami dan mendasar seorang perempuan. Islam tidak melarang perempuan untuk menuntut ilmu, Islam juga memubahkan perempuan untuk bekerja membantu pendapatan keluarga, namun tugas utamanya sebagai ibu pendidik generasi dan pengatur rumah tangganya tetap merupakan hal utama yang harus dilaksanakan.


Seperti yang sebelumnya sudah disebutkan, ide sekulerisme yang menjalar di tubuh dan negeri negeri kaum muslimin saat ini telah menghalangi kesempurnaan pengaturan Islam terkait perempuan. Islam memiliki konsep yang begitu jelas dan gamblang mengenai perempuan, namun sayangnya konsep tersebut tak bisa dilaksanakan pada level praktis disebabkan kian akutnya ide sekulerisme itu. Islam selain masalah ibadah individual selama berada dalam wadah sekulerisme hanya akan menjadi konsep dan diskursus teoritis semata.

Tentulah pengaturan perempuan yang kian sempurna menurut konsep Islam hanya akan bisa terlaksana di dalam wadah yang dengan tegas membuang sekulerisme dan menjadikan Alquran serta sunnah Rasulullah sebagai dasarnya. Sistem Qurani dan Nabawi tersebut tiada lain dan bukan adalah seperti yang sudah dijelaskan oleh banyak ‘ulama Islam di dalam kitab-kitab mereka, yaitu sistem Khilafah Islam yang berjalan di atas manhaj kenabian, yang atas izin Allah akan kembali hadir di tengah umat di akhir zaman ini.[MO]

Posting Komentar