Ilustrasi

Oleh: Annisa Fathul Ruuman
(Mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Aktivis Dakwah)


"Telaah Kasus Pelarangan Cadar hingga Pembakaran Mesjid di Srilanka"

Mediaoposisi.com-Rangkaian peristiwa islamofobia dan intoleransi kembali mendera umat islam dengan adanya kasus pelarangan cadar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Bukit Tinggi hingga pembakaran mesjid di Srilanka.

Kasus islamofobia bukanlah kasus yang baru. Di negeri minoritas seperti Inggris, Prancis, Australia, China islamofobia dan intoleransi mendera umat Islam

Cina memberlakukan larangan baru di Xinjiang yang disebut sebagai sebuah kampanye melawan ekstremis Islam bulan April 2017 yang lalu. Pekerja di ruang publik, seperti stasiun dan bandara, wajib menghalangi masuk warga yang menggunakan pakaian menutup seluruh bagian tubuh, termasuk wajah mereka atau memakai jilbab. Para petugas ini juga diminta untuk melaporkan warga yang menggunakan pakaian tertutup dan jilbab itu tersebut kepada polisi (bbc.com, 1/04/2017).

Penyerangan terhadap mesjid pun terjadi di Perancis oleh pengunjuk rasa. Mereka memorak-porandakan tempat ibadah Muslim dan mencoba membakar beberapa kitab Alquran di pulau Korsika, Perancis pada Jumat, 25 Desember 2015.

Islamofobia dan intoleransi marak terjadi sebenarnya didasarkan pada ketakutan kaum kuffar akan bangkitnya Islam dan hilangnya perisai pelindung marwah umat islam.

Hilangnya Perisai Umat : Islamofobia Menciderai Marwah Umat Terbaik

Menurut peneliti dari Universitas Hamburg, Jerman, Miriam Urbrock dan Marco Claas, dalam karya tulis “Islamophobia: Conceptual Historical Analysis", islamofobia memiliki sinonim anti-Islam yakni segala sikap atau tindakan yang menunjukkan ketidak-sukaan terhadap agama Islam.

Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September. Pada bulan Mei 2002 European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) mengeluarkan laporan berjudul "Summary report on Islamophobia in the EU after 11 September 2001", yang menggambarkan peningkatan Islamofobia di Eropa setelah 11 September

Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan islamofobia sebagai rasa takut, ancaman dan kebencian terhadap sebagian besar umat muslim. Ketakutan tersebut mendorong terjadinya praktik diskriminasi dan intoleransi terhadap muslim bahkan sampai memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Lebih jauh lagi islamofobia berefek pada kesewenangan-wenangan dan tindak kekerasan atas umat Islam terkhusus yang mengimplementasikan Islam.

Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di "Stockholm International Forum on Combating Intolerance". Di sana Islamofobia dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan Antisemitisme.

Praktik islamofobia bahkan merambah sampai ke negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Kasus pelarangan cadar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Bukit Tinggi sebenarnya pengulangan kasus pelarangan cadar di Xinjiang Cina. Rasa takut adalah alasan mendasar pelarangan tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rektor UIN SUKA, Prof. Yudian bahwa larangan penggunaan cadar di Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme (bbc.com, 6/03/2018). Radikalisme yang dimaksudkan adalah ajaran-ajaran Islam yang menyeluruh. Orang yang menutup aurat diidentikkan sebagai orang yang mengancam dan radikal sehingga wajib untuk diberantas perilaku nya.

Pemberantasan tersebut diwujudkan dengan cara membina 41 mahasiswi yang bercadar agar melepaskan cadarnya, jika tidak mau, maka  diancam akan dikeluarkan dari kampus. Tindakan seperti ini adalah intoleransi terhadap kebebasan umat islam dalam menjalankan ajaran agamanya yang berpangkal dari islamofobia.

Kasus pembakaran mesjid di Srilanka yang merupakan negeri minoritas muslim juga merupakan wujud nyata dari Islamofobia. Pasalnya, pembakaran mesjid tersebut didorong atas dasar kebencian kepada Islam oleh Budha garis keras. Meskipun awal mula konflik disebabkan karena konflik individu, namun keresahan dan kebencian terhadap umat muslim yang ada di Srilanka sudah terjadi sejak dulu.

Sejak tahun 2012, retorika anti-Muslim melonjak di Sri Langka. Persatuan seperti Bodu Bala Sena (BBS) telah melakukan kampanye kebencian yang berkelanjutan melawan muslim, dan melakukan kekerasan terhadap mereka. Namun, pemerintah setempat tidak memberikan upaya melindungi umat islam yang ada disana.

Tindakan pelarangan cadar, pembakaran mesjid-mesjid, perusakan rumah umat islam memperlihatkan bahwa saat ini umat islam diciderai oleh islamofobia. Marwah umat Islam sebagai  pemimpin dan umat terbaik justru didera oleh perlakuan intoleran dan kekerasan. Tidak ada perisai yang melindungi dan meninggikan marwah tersebut. Marwah itu telah hilang sehingga umat Islam menjadi terombang-ambing bagaikan buih di lautan.

Ketakutan Kaum Kuffar Terhadap Kebangkitan Islam

Kondisi umat Islam yang terpuruk saat ini akan berganti bagaikan roda yang berputar. Umat Islam akan bangkit, memimpin dunia, menjadi umat terbaik, dan mengembalikan marwahnya yang tinggi dan agung menggantikan ideologi kufur kapitalisme saat ini.

Moris Berman, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New York, yang memperoleh Ph.D dari Johns Hopkins University, menulis buku Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006), yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh.

Ia mendeskripsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan senjata. Republik yang berubah menjadi imperium itu berada di dalam zaman kegelapan baru dan menuju rubuh sebagaimana dialami Kekaisaran Romawi.

Disisi lain ramalan akan bangkitnya Islam dilakukan oleh National Intelelligence Council’s (NIC) yang merilis sebuah laporan yang berjudul Mapping the Global Future yang dikeluarkan pada  bulan Desember 2004.

Salah satu point penting di dalamnya berisi tentang gambaran nasib umat Islam di tahun 2020. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario besar dunia ditahun 2020, yaitu Davod World digambarkan bahwa Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia. Pax America masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya. Lalu muncul lingkaran ketakutan (Cycle of Fear) sehingga terjadi  respon agresif pada ancaman teroris yang mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku.

Akibatnya akan lahir dunia Orwellian dimana pada masa depan, manusia menjadi budak bagi satu dari tiga negara otoriter. Lalu muncul A New Chaliphate atau berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global. Tegaknya khilafah adalah pertanda  kebangkitan dan kemenangan Islam.

Kebangkitan inilah yang berupaya dicegah oleh kaum kuffar. Kebangkitan inilah yang menjadi ketakutan mendasar bagi para negara pengemban ideologi kufur yang mempropagandakan islamofobia untuk memusuhi islam. Pasalnya, ketika Islam bangkit, hal tersebut menjadi lonceng kematian bagi ideologi kufur dan negara pengembannya yang gemar menyebarkan kesesatan dan kepalsuan untuk kepentingan sekelompok elit tertentu.

Islam menghapuskan penjajahan yang menjadi kunci kejayaan kapitalis. Islam membuang hukum-hukum kufur buatan manusia seperti HAM dan demokrasi. Islam mengharamkan ide ide sesat nasionalisme (negara bangsa) dan liberalisme. Itulah ajaran kehidupan ideologi kufur.

Sebaliknya, Islam mengajarkan persatuan dalam satu kepemimpinan. Islam memberikan keadilan atas hak semua manusia. Islam mengajarkan penghambaan hanya kepada Allah semata. Islam mengajarkan ketaatan secara menyeluruh kepada seluruh syariat. Islam mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Semua ini direalisasikan oleh khilafah Islam. Khilafah adalah kebangkitan Islam sekaligus ketakutan kaum kuffar.

Kondisi tubuh ideologi kufur kapitalisme yang sudah begitu rapuh dan usang sudah diambang pintu kehancurannya. Saat ini mereka berupaya menutupi kerusakan itu dan mengumbar fitnah palsu ke tubuh Islam yang tengah ditunggu-tunggu kedatangan nya sebagai penyelamat dunia dan memberi rahmat bagi seluruh alam.

Narasi perang melawan terorisme, radikalisme, fanatisme, dan fundamentalisme adalah bentuk bentuk racun islamofobia yang disebarkan di tengah-tengah dunia yang bersifat pemikiran. Dengan cara itu, dunia akan takut kepada Islam dan menjadikan Islam musuh bersama.

Stop Islamofobia dan Intoleransi

Islamofobia dan Intoleransi terhadap umat Islam harus diberhentikan. Pelarangan cadar dan pembakaran mesjid jangan sampai terulang kembali. Ketakutan-ketakutan dunia akan Islam harus dilenyapkan dengan menampilkan Islam kaffah dalam sebuah institusi Khilafah. Dunia akan melihat Islam yang sesungguhnya benar-benar mengayomi seluruh masyarakat tanpa membedakan agama, suku dan ras. Islam akan melindungi marwah umat islam dengan adanya khilafah tersebut.

Sebagaimana terjadi pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah. Ada seorang wanita ditawan di Amuriyah Romawi dan dilecehkan oleh tentaranya. Wanita itu lalu berseru, “Wahai Mu’tashim, dimana engkau ?” Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membariskan 60.000 bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut dan  menaklukkan kota itu. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”.

Demikianlah Khalifah akan melindungi dan menjaga marwah Islam dan umatnya dimana pun mereka berada.[MO]

Posting Komentar