Peta Indonesia

Oleh: Ilma Eka N.R. 
(Aktivis Mahasiswi Jember)

Mediaoposisi.com-"Saya ingin menegaskan di sini bahwa kekayaan sumber daya alam tidak bisa menjamin sejahtera dan kesuksesan bangsa. Ini perlu saya tekankan di awal karena kita selalu agungkan masalah sumber daya alam kita," ujar Jokowi dalam pidatonya di acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia salah satu negeri muslim yang memiliki sumber daya melimpah. Hasil hutan, laut, energi dalam Bumi, hingga segala jenis tanaman, bisa bertumbuh kembang dinegeri ini. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas 1,9 juta kilometer persegi.

Tak heran, laut Nusantara yang membentang dari barat ke timur sepanjang lebih dari 5000 kilometer, memberikan kontribusi besar bagi perikanan dunia. United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan perairan Indonesia sebagai habitat bagi 76 persen terumbu karang dan 37 persen ikan karang dunia.

Keberadaan laut menjadi penopang ekonomi masyarakat, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 7,87 juta jiwa atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional menggantungkan hidupnya dari laut, mereka tersebar di 10.666 desa pesisir yang berada di 300 dari total 524 kabupaten dan kota se-Indonesia.

Tidak hanya sumber daya alam berupa lautan yang melimpah, Indonesia dikenal sebagai negara agraris, faktanya bahwa sebagian besar mata pencarian berasal dari sektor pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pilar besar perekonomian Indonesia.

Pertanian memiliki peranan signifikan bagi perekonomian Indonesia, sektor pertanian menyerap 35,9  % dari total angkatan kerja di Indonesia yang menyumbang 14,7% bagi GNP Indonesia (BPS,2012).

Selain memiliki potensi pertanian yang baik karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa, Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di wilayah tropis sehingga membuat tambang berkembang dengan baik.

Bahan tambang yang berkembang di Indonesia berupa minyak bumi, batu bara, timah, biji besi, dan nikel sehingga Indonesia dikenal sebagai Permata Dunia.

Di sisi lain dengan sumber daya alam menggunung yang dimiliki Indonesia, Indonesia masih menempati tingkatan negara berkembang bukan sebagai negara maju di level dunia.

“Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,58 juta orang atau 10,12% pada September 2017, angka itu turun jika dibandingkan dengan Maret yang sebesar 27,77 juta orang atau 10,64%”, angka kemiskinan yang menunjukkan penurunan secara perlahan dan konsisten.


Namun, pemerintah Indonesia menggunakan persyaratan yang tidak ketat mengenai definisi garis kemiskinan sehingga tampak gambaran yang lebih positif dari kenyataannya. Tahun 2016 pemerintahan Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulannya (per kapita) sebanyak Rp. 354,386 (atau sekitar USD $25) dengan demikian standar hidup yang sangat rendah bagi pengertian orang Indonesia sendiri.

Namun jika kita menggunakan nilai garis kemiskinan yang digunakan Bank Dunia, yang mengklasifikasikan persentase penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $1.25 per hari sebagai mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan (dengan kata lain miskin).

Lebih lanjut lagi, menurut Bank Dunia, jika menghitung angka penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $2 per hari angkanya akan meningkat lebih tajam lagi, ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hidup hampir di bawah garis kemiskinan.

Kemiskinan masih menjadi bayang-bayang menakutkan di Indonesia, sehingga menyebabkan angka putus sekolah yang meningkat setiap tahunnya. Data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjukkan meningkatnya angka putus sekolah setiap tahunnya. Tahun 2015-2016 terdapat sekitar 114.334 siswa putus sekolah, sedangkan pada tahun 2016-2017 237960 siswa putus sekolah.

Petani garam

Kemiskinan juga menguncang Indonesia bagian Timur yakni Kabupaten Asmat, Papua. Sonny Prasetyo selaku Direktur & EVP Sustainable Development PTFI mengatakan “Dari beberapa hari ini kita mendengar pemberitaan tentang adanya bayi dan balita yang meninggal karena kekurangan gizi dan penyakit di Asmat.

Jadi pihak Freeport sebagai perusahaan yang cukup besar di wilayah ini punya kepedulian untuk membantu mereka. Satu ton bantuan kemanuiaan yang diberikan diantaranya berupa makanan tambahan seperti biskuit yang banyaknya mencapai 500 kilogram, susu cair 500 kilogram”.

Miris memang, kota dengan tambang emas terbesar di dunia dengan memproduksi 1,444 juta ounce emas dan tambang tembaga terbesar ketiga dunia yang terletak di Papua, Indonesia hanya menyumbang makanan berkisar 1 ton pada rakyat sendiri.

Tidak hanya kemiskinan, Indonesia memiliki beban belanja negara yang terus menerus membengkak setiap tahunnya. Ditambah hutang negara beserta bunga yang semakin meroket tidak sanggup ditutupi anggaran negara yang tersedia.

Alhasil pemerintah Joko Widodo gali lubang tutup lubang untuk menambal kerugian anggaran belanja negara. “Jumlah utang negara tercatat Per mei 2017 mencapai 3.672,33 triliun rupiah Terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2.943,73 triliun (80,2%) dan pinjaman sebesar Rp 728,60 triliun (19,8%).

Dalam bulan mei 2017 terdapat Penambahan utang bersih sebesar Rp 4,92 triliun Rupiah berasal dari penerbitan SBN sebesar Rp 11,03 triliun dan pelunasan pinjaman sebesar Rp 6,11 triliun,” kata Jajang, Selasa (11/07/2017).

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam melimpah tidak mampu menuntaskan persoalan pelik yang terjadi saat ini?

Apakah benar sumber daya alam tidak menjamin sejahtera suatu negara? Jawabnya adalah, semua kondisi ini disebabkan karena negeri Islam terutama Indonesia tengah berada didalam kungkungan neoribelarisme dan neoimperialisme.

Neolibelarisme adalah paham ekonomi yang menghendaki agar negara tidak banyak berperan dalam penguasaan ekonomi, pengembangan sektor ekonomi cukup diserahkan kepada pihak swasta atau korporasi baik nasional maupun asing.

Pengurangan peran negara dengan melakukan privatsasi di berbagai sektor ekonomi, mulai dari pendidikan, listrik, jalan tol, penghilangan hak-hak istimewa BUMN melalui berbagai ketentuan dan undang-undang yang menyetarakan BUMN dengan usaha swasta.

Neoliberalisme upaya pelumpuhan negara, negara dikendalikan oleh persekutuan jahat antara politikus dan pengusaha sehingga keputusan politik tidak dibuat untuk kepentingan rakyat, tetapi hanya untuk kepentingan asing.

Dalam mewujudkan nafsu neoliberalisme, kekuasaan kapitalis asing dunia telah memaksakn Indonesia agar keinginannya dalam masuk ke dalam Undang-Undang negara secara legal. Undang-undang yang dipaksakan oleh pihak kapitalis asing yaitu: UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Sumber Daya Alam, UU Sumber Daya Air.

Fakta ini menunukkan bahwa Indonesia tengah dalam ancaman neoimperialisme yaitu penjajahan gaya baru yang ditempuh negara kapitalis untuk menjajah Indonesia.

Koordinator Indonesian for Transparency and Akuntability (Infra) Agus Chaerudin, mengungkapkan, hampir semua sektor migas dan minerba di Indonesia baik, di wilayah barat hingga kawasan timur, di pulau-pulau besar, kepulauan-kepulauan kecil hingga di laut lepas sudah dikuasai oleh perusahaan asing.



Disadari atau tidak, kata dia, keberadaan perusahaan-perusahaan asing tersebut kini telah sampai pada taraf mengancam kedaulatan Indonesia. "Dari total ratusan blok migas yang ada, sekitar 70% sudah dikuasai dan dikelola oleh kontraktor asing.

Bila dengan bahasa geopolitik, saat ini paling sedikit sudah ada ratusan pangkalan militer asing yang tersebar di Indonesia," ungkapnya.

Permasalahan yang sangat kompleks tersebut tidak bisa diselesaikan dengan solusi praktis, namun harus menggunakan solusi yang parsial yaitu kembali kepada Islam yang diturunkan oleh Allah SWT.

Islam memberikan solusi tuntas dan sempurna terhadap berbagai problem kehidupan manusia, karena solusi yang ditawarkan berasal dari Pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Menurut Islam kepemilikan sumber daya alam seperti; air, minyak bumi gas, berbagai macam tambang yang besar, hutan adalah kepemilikan umum.

Sumber daya alam tidak boleh dikuasai individu atau swasta terlebih lagi penjajah asing. Sumber daya alam tersebut dikelola negara dan hasilnya didistribusikan kepada seluruh rakyat secara adil. 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ 
كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " [QS Al A’raaf: 96]

Allah telah menjamin suatu negeri jika penduduknya beriman dan bertakwa dengan menerapkan Syariah Islam, maka akan Dia limpahkan berkah langit dan bumi daripada nya.

Namun ketika penduduk suatu negeri memilih jalan lain selain Islam maka Allah timpakan siksa atas kelalaiannya.[MO]

Posting Komentar