Jokowi dan Sri Mulyani Sambut Bos IMF

Oleh: Imam Rifa'i
(Jurnalis Media Oposisi)

Mediaoposisi.com-International Moneter Found atau IMF lahir hasil dari perundingan Bretton Woods, pasca Great Depression yang melanda dunia pada dekade 1930-an.

Dalam perundingan tersebuat  ini melahirkan “Bretton Woods Agreements” yang membangun IMF dan organisasi kembarannya,   yang sekarang lebih dikenal dengan nama World Bank.

Dalam sejarah  track record IMF sebagai  lemabaga yang di klaim sebagai donor keuangan dunia ternyata tidak lain adalah sebuah lembaga international sebagai tangan kanan para kapitalis untuk merampok Aset-aset negara didunia termasuk negara-negara muslim dan dunia ketiga.

Pengambilan kekayaan  negara yang bersangkutan yang dilakukan oleh IMF tidak dilakuakn melalui tangan kasar yang seperti dilakukan oleh Imperalis 80-an,melainkan dengan sebuah trik dan intrik tertentu yaitu salah satunya dengan pemberian utang luar negri.

Pada tahun1998 dikala indonesia mengalami Depressi ekonomi hingga mengakibatkan stagflasi, tiba –tiba  IMF datang layaknya pahlawan tanpa tanda jasa  dengan menawarkan dana bantuan internasional dalam bentuk utang.

Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional ( IMF) Christine Lagarde beberapa waktu lalu datang di Indonesia untuk menghadiri beberapa agenda.

Kedatangan Lagarde pun untuk memantau secara langsung persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 pada Oktober 2018.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menuturkan, hadirnya Lagarde di Indonesia merupakan bagian dari Voyage to Indonesia, rangkaian program Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia.

Jokowi sambut Bos IMF Christine Lagarde
Sungguh aneh padahal IMF adalah gembong yang telah terbukti membuat bangkrut sebuah negara dengan jeratan hutang dan riba yang begitu tinggi. Tapi pejabat kita justru memuja-muja bahkan meminta saran untuk mengatur ekonomi negeri ini.

Pantas saja Indonesia terjebak hutang apalagi di era pemerintahan rezim Jokowi yang jor-joran dalam berhutang bisa membuat negeri ini kian habis dicaplok kapitalis penjajah.

Pemberian utang yang diberikan IMF tidak semata-mata bahwa IMF sayang dengan indonesia  melainkan pengambilan kekuatan politik secara tidak langsung untuk meligitimasi kebijakan-kebijakan IMF dan mempermudah pemodal asing untuk menguasai kekayaan indonesia melalui utang-utang yang  di berikan oleh asing.

Utang tidak selalu tetap melainkan terus beranak pinak anak dari utang adalah bunga dari sebuah utang.dampak diterapkanya value of money(interest) adalah utang yang tak kunjung lunas bahkan terus bertumpuk.

Terbukti dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan total utang pemerintah pusat sampai dengan akhir Januari 2018 mencapai Rp 3.958,66 triliun. Angka ini meningkat sekitar Rp 19,96 triliun dari posisi utang pada Desember 2017 yang sebesar Rp 3.938,7 triliun.

Total utang yang hapir 4000 trlliun belum lagi bunga yang harus dibayarkan tentu saja akan memberatkan pemerintah untuk membayar bayar  utang tersebut,apalagi melihat ekonomi negeri ini yang terus terpuruk dan ditambah lagi korupsi terus meraja lela.

Lantas apa jaminan dari utang yang di berikan oleh Asing? tentu saja aset-aset negara yang berupa SDA harus tergadaikan demi menutupi utang-utang luar negri yang tak kunjung terlunasi.

Lalu bagaimana dengan nasib rakyat indonesia?terpaksa rakyat indonesia harus menanggung beban dari utang-utang pemrintah berupa pencabutan subsidi untuk rakyat,pemungutan pajak besar-besaran kepada rakyat,dan lain sebagainaya.

Tapi anehnya pemerintah justru selalu kagum pada IMF bahkan menjamunya bak budak melayani tuannya. Selamat datang di negeri bangkrut. [MO]


Posting Komentar