Ilustrasi


Oleh: Fitria Miftasani, S.Pd, M.Si
(Dosen dan Ibu Rumah Tangga)

Mediaoposisi.com-Pahlawan tanpa tanda jasa. Gelar tersebut sejatinya patut disematkan pula kepada para ibu. Jasanya dalam mendidik generasi dimulai bahkan sejak matahari belum terbit hingga malam telah larut. Pekerjaannya bisa dikatakan nonstop 24 jam, namun tidak ‘terlihat’ hasilnya secara langsung.

Oleh karena itu meskipun dia melakukan pekerjaan rumah tangga, hamil, melahirkan, menyusui, mengurus anak dan suami, yang menghabiskan waktunya setiap hari, banyak orang masih menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak produktif.

Sistem kapitalisme yang diusung oleh kebanyakan negara di dunia, memang mengartikan kata produktif sebagai aktivitas yang menghasilkan materi. Sehingga pekerjaan seorang ibu yang tidak menghasilkan uang, dinilai sebagai pekerjaan yang tidak produktif, tidak peduli seberapa besar waktu yang dicurahkan para ibu.

Ide feminisme yang secara halus masuk ke dalam komunitas ibu juga  menilai bahwa perempuan tidak seharusnya hanya berada di dalam rumah dan didominasi oleh kaum pria. Akibatnya banyak kaum perempuan yang merasa minder dengan status mulianya sebagai ibu rumah tangga. Kemudian berusaha keluar rumah untuk bekerja, baik itu karena tuntutan kehidupan atau menuntut kesetaraan.

Kritik Terhadap Sistem Kapitalisme

Sistem kapitalisme dengan konsep materialismenya telah menyempitkan makna produktif menjadi sesuatu yang bernilai secara materi. Segala sesuatu kemudian akan dikonversi manfaatnya secara materi. T

idak terkecuali kepada kaum perempuan. Sehingga kita akan mendapati bahwa kaum perempuan banyak menjadi komoditi dalam mencari materi. Lihatlah bagaimana iklan di televisi, sinetron, bahkan rokok pun menggunakan perempuan berbaju mini untuk menjadi SPG nya.

Perempuan yang keluar rumah untuk bekerja banyak yang mengalami pelecehan baik di dalam angkutan umum atau di tempat kerja mereka. Belum lagi masalah tenaga kerja wanita yang banyak mengalami penyiksaan bahkan berujung kematian ketika mereka bertaruh nyawa bekerja di luar negeri.

Tekanan hidup yang semakin hari terasa semakin berat membuat sebagian perempuan harus mengadu nasib ribuan kilometer jauhnya. Seorang perempuan yang memiliki tanggung jawab mulia mendidik dan membesarkan generasi, terpaksa harus meninggalkan kewajibannya demi memenuhi kebutuhan hidup.

Efeknya perlahan bisa kita lihat saat ini. Generasi muda kita kehilangan arah, kehilangan panutan, kehilangan kasih sayang orang tua. Masih ingat pelecehan seksual terhadap hampir 300 orang anak dari usia 6-13 tahun oleh Andri Sobari alias Emon?

Pemerintah sukabumi bahkan menjadikan hal ini sebagai kejadian luar biasa. Rata-rata anak tersebut berada dalam keluarga ekonomi menengah kebawah yang orang tuanya sibuk mencari nafkah sehingga kekurangan perhatian.

Kondisi seperti ini memudahkan predator anak untuk mendekati mereka dengan iming-iming perhatian atau uang. Sehingga dengan mudahnya dia melampiaskan nafsu bejatnya yang bahkan tanpa disadari oleh anak-anak tersebut bahwa mereka menjadi korban.


Hal lain yang terlihat jelas adalah perilaku para siswa kepada guru yang semakin berani. Terakhir bahkan ada seorang guru yang tewas ditangan siswanya. Ini belum terhitung jumlah anak usia dini yang sudah kecanduan gadget.

Dampak kerusakan dari ibu yang meninggalkan kewajibannya dalam mengasuh dan mendidik anak terlihat seperti fenomena gunung es. Jika ditelusuri lebih lanjut akan ditemukan lebih banyak fakta menyedihkan.

Ide kesetaraan yang digaungkan kelompok feminis pun masuk ke dalam komunitas para ibu. Kesetaraan seperti apa yang dimaksud? Hal ini pun dirasakan masih belum selesai didefinisikan oleh mereka. Jika kesetaraan yang dimaksud adalah perempuan mampu bersaing dengan pria dalam hal pekerjaan, bukankah itu membuat mereka sendiri yang meninggikan pekerjaan pria dan merendahkan pekerjaan wanita di rumah?

Perempuan Mulia Dalam Islam

Dalam sejarahnya, feminisme berasal dari Eropa dan bermula pada abad 19. Kala itu perempuan memang memiliki posisi yang rendah, mereka tidak memiliki hak atas hartanya, harta keluarganya, harta suaminya.

Bahkan seorang suami yang berkonflik dengan istrinya bisa melelang istrinya di muka umum. Namun, di abad yang sama, Islam tidak pernah bermasalah dengan konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Dalam Islam, keduanya dianggap sama dalam menjalankan tugas ketaatan kepada Rabbnya. Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila para muslimah ikut menggaungkan ide feminisme ini.

Dalam Islam, tugas perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dinilai sebagai tugas yang mulia. Sehingga Islam menjamin perlindungan kepada perempuan untuk menjalankan tugas tersebut dengan optimal.

Perempuan dibebaskan dari kewajiban mencari nafkah, namun diperbolehkan bekerja jika dia menginginkannya. Tentu dengan catatan tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Fitrah hamil, melahirkan, menyusui mendapatkan tempat yang mulia dengan pahala yang terus mengalir. Kewajiban shaum di bulan Ramadhan pun mendapatkan keringanan bagi wanita hamil dan menyusui.

Meninggal di saat melahirkan pahalanya senilai dengan pahala jihad. Setelah anak-anak tumbuh dewasa, kewajiban untuk memuliakan ibu disebutkan Rasulullah hingga tiga kali, serta syurga pun diletakkan di bawah telapak kaki ibu.

Islam memandang bahwa kebangkitan sebuah peradaban ditopang oleh kaum perempuan dengan tanggung jawabnya mendidik generasi. Dibalik ulama besar dan para khalifah, ada peran ibu dan istri mereka yang mendorong para pria untuk terdepan dalam ketaatan dan bermanfaat untuk ummat. Ketika peran ini diabaikan maka akan menimbulkan kerusakan berkepanjangan seperti yang terlihat saat ini.

Oleh karena itu para muslimah, berbahagialah dengan peran yang Allah titipkan di pundak kita. Percayalah bahwa kita memiliki karya yang akan terukir abadi di dunia dan akhirat jika kita ikhlas menjalankannya. Apapun peran kita diluar rumah, jangan sampai menelantarkan kewajiban utama kita sebagai ibu. Karena lewat perantara kita para generasi pengganti sistem yang rusak ini akan lahir.[MO/br]

Posting Komentar