Ilustrasi

Oleh:Faizah Rukmini, S.Pd
(Muslimah Penajam Paser Utara-Kaltim)

Mediaoposisi.com- Seorang Pengacara tak terima saat seorang Presenter salah satu acara televisi menyebut bahwa "Negara Gagal".

Saat ini memang ummat serba salah saat harus berkomentar tentang kondisi negeri ini. Ada yang bilang "Negara Berhasil" ada pula "Negara Gagal". Membahas tentang gagal dan berhasil, tentu harus memahami terlebih dahulu siapa yang layak menetapkan suatu kondisi itu gagal atau berhasil, dan tolok ukur apa yang digunakan untuk menentukan kondisi gagal atau berhasil.

Seluruh makhluk adalah ciptaan Allah SWT, termasuk manusia. Manusia makhluk yang  lemah dan terbatas, kehidupannya akan berakhir saat masanya tiba. Akalnya pun terbatas. Jika manusia diberikan kebebasan untuk membuat aturan maka tentulah tiap manusia berbeda dalam menetapkan hukum atas sesuatu yang berujung pada kerusakan dan ketidak adilan.

Hotman Paris dan Najwa Shihab 
Manusia tidak memiliki andil dalam menetapkan standar berhasil atau gagal. Sehingga hanya Allah yang memiliki kuasa atas penetapan aturan hidup, benar salahnya sebuah pemahaman, standar dan keyakinan terhadap sesuatu serta berhasil atau gagal bersumber dari wahyu Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW yakni Al Qur'an dan Hadist.

Dasar Menilai Kegagalan Suatu Negara adalah di awali dari Keshohihan Aqidah yang menjadi acuan dalam menjalankan tatanan kehidupan. Didunia ini ada 3 mabda atau ideologi yang menjadi Aqidah bagi setiap penerapan aturan.

Namun di dunia ini hanya satu aqidah yang benar. Aqidah yang diridhoi oleh Allah dan telah dismpurnakan yaitu Islam. Jadi pertama kali menilai suatu bangsa berhasil atau gagal adalah Aqidahnya,jika aqidahnya batil maka sudah jelas bahwa negara tersebut gagal dalam  menentukan dasar negaranya, meskipunn sebuah negara maju dari aspek teknologinya.

Kehidupan dunia sejatinya adalah dalam rangka Ibadah kepada Allah yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadist.

Selanjutnya Kedaulatan dalam membuat dan merancang kebijakan dalam meriayah Ummat. Dalam sistem sekuler demokrasi manusialah melalui akal hawa nafsunya yang membuat aturan. Dengan asas manfaat.

Wajar jika barang haram,perilaku maksiat tidak ditindak selama akal dan nafsu menerima. Berbeda dengan Islam kedaulatan bersumber dari Al Khaliq Al Mudabbir, dari sang Pencipta yang pasti mengetahui seluk beluk kelemahan makhluk yang membutuhkan aturan. Kedaulatan islam berada ditangan hukum Syariat Al Quran dan Hadist yang bersumber dari Allah SWT.


Negara yang Gagal dan berhasil pun di tentukan oleh pemimpinnya. Negara gagal adalah negara yang pemimpinnya berada dalam intervensi Asing atau budak Kapitalis. Dalam Islam pemimpin memilki peran penting, bahkan Pemimpinlah yang menentukan arah kebangkitan.

Islam memandang seorang pemimpin adalah penguasa yang memiliki kewajiban menerapkan seluruh hukum syariat Islam kaffah, wajib muslim,memiliki kemampuan, merdeka yakni tidak berada dalam tekanan musuh islam dalam  menerapkan syariat islam.

Jadi menilai keberhasilan dan kegagalan suatu adalah bergantung pada keridhoan Allah SWT. Disinilah letak ujian ummat manusia dalam mencari kemuliaan disisi Allah. Sehingga jangan sampai kita tertipu oleh kehidupan dunia dan terlalaikan kehidupan akhirat kelak.

Seharusnya kita harus belajar memahami bagaimana sebuah keberhasilan dan kegagalan suatu negara sehingga mampu membedakan haq dan batil dari sebuah keberhasilan ataupun kegagalan yang menjerumuskan pada kehinaan dan kebinasaan.

Dan mencari kunci keberhasilan kesuksesan dunia akhirat dengan meninggalkan segala apa yang menghantarkan pada kemurkaan Allah SWT serta berjuang untuk meraih apa yang diridhoi oleh Allah yakni Keberlangsungan kehidupan islam yang menghantarkan  pada kebangkitan shohih yang menerapkan seluruh aturan kehidupan yang bersandar pada Aqidah Islamiyah.[MO]

Posting Komentar