Oleh : Selvi Wahyuni
(Muslimah Peduli Generasi)


Mediaoposisi.com- Menjadi seorang Guru merupakan pekerjaan yang mulia. Guru merupakan ujung tombak dalam keberlangsungan proses belajar mengajar.

Dalam sebuah pepatah mengatakan Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Petuah dan tingkah lakunya menjadi cerminan bagi peserta didiknya. Mereka adalah pelita di setiap zaman.

Lelahnya dalam menyampaikan ilmu tak lagi menjadi ukuran, tekad kuat agar anak didiknya meraih keberhasilan.

Fakta hari ini menunjukkan bahwa guru yang disebut sebagai gelar pahlawan tanpa tanda jasa belum dapat hidup sejahtera, apalagi nasib guru honorer.

Dengan gaji 250-750 ribu tiap bulannya mereka harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan proses belajar mengajar di kelas.

Tentu tidak sebanding dengan honor yang mereka terima, membentuk peserta didik yang memiliki intelektual yang tinggi dan berkarakter yang unggul bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika ada pelajar yang terlibat dalam kenakalan remaja mayoritas publik langsung menganggap guru tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Guru honorer seperti “terpinggirkan" dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang seakan menghilangkan harapan mereka, yaitu penghasilan yang layak. Tuntutan pekerjaan tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka peroleh.

Banyak guru yang hidupnya pas-pasan, demi memenuhi tuntutan  hidup yang semakin tak menentu sehingga banyak guru yang berprofesi ganda. Misalnya sambil berdagang, menjadi tukang ojek, menjadi buruh dan sebagainya.

Sungguh fakta seorang guru saat ini berbeda dengan masa kejayaan Islam. Bagaimana perhatian negara terhadap para guru menjadi hal yang penting karena mereka adalah pelita zaman.

Sebagai perbandingan pada masa kejayaan ke Khilafahan Islam profesi seorang guru sangat dihargai. Ad-Dimsyaqi mengisahkan dari al-Wadliyah bin Ataha’ bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab r.a memberikan gaji kepada 3 orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing2 sebesar 15 dinar setiap bulan (1 dinar = 4,25 gram emas). Artinya, 63,75 gram perbulan.

Kalau diuangkan (dgn asumsi 1 gram emas seharga Rp 500.000), gaji mereka sebesar Rp 31.875.000. Kemudian bagaimana negara memberikan perhatian dan penghargaan, pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid  seorang guru yang dia menulis  berbagai bidang ilmu akan diberikan emas seberat buku yg ditulisnya. Keren bukan...

Semoga masa itu dapat terulang kembali jasa-jasa dan kemuliaan profesi guru dapat di hargai. [MO]

Posting Komentar