Oleh: Chusnatul Jannah 
(Lingkar Studi Perempuan Peradaban – LSPP)


Mediaoposisi.com-
Istana terhipnotis oleh ‘Dilan’ juga rupanya. Sang Presiden bahkan meluangkan waktu menonton film ‘Dilan 1990’ bersama anak dan menantu. Film ‘Dilan’ memang cukup viral dan fenomenal. Begitu viralnya Presiden Jokowi jadi penasaran seperti apa sihir film ‘Dilan 1990’ yang terkenal itu. Hingga orang nomor satu di negeri ini dibuat baper oleh Dilan dan Milea. Beginilah kesan yang ditinggalkan Presiden selepas menonton film ‘Dilan’,

"Saya melihat film Dilan sebuah kesederhanaan yang diambil dengan sudut pandang yang pas. Semuanya kaget bukan? Ini booming. Sudah ditonton lebih dari 7 juta," kata Jokowi, di Senayan, Minggu (25/2/2018), seperti dilansir liputan6.com.

Ia menilai, film ‘Dilan 1990’ menggambarkan pacaran anak muda yang sederhana. Hal itu juga tampak dari pengambilan gambar yang juga tidak berlebihan. Bagaimana jadinya generasi muda negeri ini, jika Bapak Presiden saja terkesan baik dengan kehadiran film ini. Tentu, hal ini menjadi pembenaran bagi para pemuda untuk mengikuti jejak model pergaulan dan pacaran yang disuguhkan lewat Dilan 1990. Begitu mudahnya pula Jokowi terbawa perasaaan karena mengingatkannya pada masa remajanya dulu.

Lain Dilan, lain pula Ghouta. Dalam persoalan Ghouta, Presiden tidak cepat merespon kondisi dunia muslim yang tengah berduka melihat pembantaian Ghouta yang warganya menunggu giliran untuk meregang nyawa. Kita di sini, bersibuk diri dengan romantisasi film yang merusak mental anak negeri. Mereka, muslim Ghouta, bersibuk diri mencari tempat aman dari bom-bom artileri. Presiden begitu cepat terbawa perasaan dari agenda yang ditampilkan di film ‘Dilan 1990’.

Hal yang sama juga harusnya terjadi ketika melihat pembantaian keji yang dialami saudara kita di Ghouta. Dengan kebaperan melihat pembantaian kejam di Ghouta, harusnya pula bisa menggerakkan nilai kemanusiaan dan nuraninya untuk merespon dengan cepat terhadap situasi di sana.

Dilan Milea hanyalah fiktif belaka, sedangkan Ghouta nyata dan benar adanya. Dilan hanya pandai mengumbar kata-kata mesra, sedangkan pemuda Ghouta harus angkat senjata melawan dan melindungi anak-anak dan wanita mereka. Penguasa yang ada harusnya bersuara untuk Ghouta bukan sekedar terkesan karena ‘Dilan’nya.

Itulah yang seharusnya. Penguasa harus peka dan wajib  terbawa perasaanya melihat neraka dunia di Ghouta. Hantaman bom tak hentinya menyerang mereka. Lalu kenapa hanya dengan rayuan gombal ala Dilan saja mudah terbawa rasa?

Sikap sebagai negarawan harusnya ditampakkan penguasa di tengah citra baik yang semakin langka. Peduli pada sekedar romantika anak remaja, namun minim kepekaan terhadap kepiluan anak remaja di Ghouta.  Urusanmu tak hanya perkara kesenangan, namun lebih kepada kepedulian. Peduli akan nasib sesama saudara seiman, yang tengah berjuang melawan kekejaman kemanusiaan oleh rezim Bassar.

Apa urgensinya melihat Dilan, jika urusan rakyatmu masih perlu banyak pembenahan. Apa pentingnya menciptakan citra di kalangan anak muda, jika persoalan masa depan generasi bangsa di ambang kehancuran. Ghouta memanggil untuk ditolong, kami rakyat kecil tak punya kuasa untuk mengerahkan tentara.

Hanya penguasa yang punya. Namun, sekedar bersuara saja tak jua dilakukannya. Bersuaralah hai penguasa, agar kami masih bisa melihat setitik iba dari peristiwa Ghouta. Kami tak butuh kesanmu terhadap ‘Dilan 1990’. Yang kami butuh pedulimu dengan saudara seimanmu. Tak sekedar peduli ketika pemilu, namun peduli terhadap segala peristiwa  yang  terjadi di Indonesia dan dunia.

Mungkinkah ada pemimpin yang peka dan peduli dengan nasib saudara sendiri di sistem yang jauh dari nilai islami? Ketika Pancasila dan NKRI menjadi harga mati. Ukhuwah Islamiyah urusan nanti. Yang penting Nasionalisme tetap di hati. Wajar saja, alasan ini menjadi bumerang bagi negeri untuk menurunkan militer NKRI di negeri-negeri konflik dalam dan luar negeri. Itu urusan mereka, bukan kita. Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

Ini menunjukkan, bahwa orang mukmin terganggu dengan apa saja yang mengganggu saudaranya yang mukmin dan sedih oleh apa saja yang membuat saudaranya sedih. Tidakkah hadits Nabi menjadi bukti bahwa ikatan hakiki bagi setiap mukmin adalah aqidah islam, bukan kebangsaan.[MO]

Posting Komentar