Oleh: Heni Ummu Ghooziyah
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)


Mediaoposisi.com- Harga beras dirasakan rakyat kian menggila namun disaat yang sama harga gabah petani malah semakin merosot tajam. Saat ini tak hanya petani yang merasa disusahkan, rakyat kecilpun menjadi korban. Itulah yang terjadi di negeri yang konon katanya “Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo”. Ya, sebuah ungkapan kalimat yang cukup sederhana namun mempunyai arti dan makna yang luar biasa.

Kalimat yang mengantarkan kita pada kesadaran akan kekayaan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Negeri yang kaya akan sumber daya alam. Gemah Ripah Loh Jinawi yang berarti kekayaan alam yang berlimpah, yang semestinya mampu membawa kemakmuran, ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian bagi rakyat seutuhnya .

Sedangkan Toto Tentrem Kerto Raharjo yang berarti dalam keadaan tenteram dikarenakan memanfaatkan kekayaan alam yang berlimpah ternyata tidak lagi berlaku di negeri tercinta ini.

Sungguh miris nyatanya keadaan rakyat Indonesia berbanding terbalik dari semboyan diatas yang merupakan ungkapan untuk menggambarkan keadaan bumi pertiwi Indonesia. Harapan rakyat agar menjadi rakyat yang makmur seperti semboyan diatas nyatanya tak berlaku.

Seperti panen raya di berbagai sentra produksi di wilayah Jawa malah menunjukkan harga gabah yang kian anjlok di tingkat petani.

“Hari ini Ngawi di wilayah timur harga gabah itu Rp 3.500 per kilogram. Itu yang pakai tressure sementara combine Rp 3.800 per kilogram. Kalau nggak ada hujan bisa Rp 4.000 - 4100 per kilogram,” curhat Pak Harno, salah seorang petani di Kelurahan Pangkur, Kecamatan Pangkur, Ngawi, Jawa Timur, Senin (26/2/2018).

Namun yang aneh tatkala harga gabah petani turun justru harga beras dipasaran naik. Harga beras medium dijual Rp 10.500/kilogram (kg). Harga tersebut turun Rp 500, dari sebelumnya Rp 11.000/kg. Hanya saja masih di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium yaitu Rp 9.450/kg. Sedangkan beras premium dijual Rp 13.000/kg, turun dari sebelumnya Rp 13.800/kg. HET beras premium adalah Rp 12.800/kg.

Beras Medium sebelumnya Rp 11.000-an per kg sekarang kisaran Rp 10.000/kg sampai Rp 10.500/kg. Premium sebelumnya Rp 13.800/kg sekarang Rp 12.500/kg sampai Rp 13.000/kg. (finance.detik.com/08/03/2018)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan saat ini harga gabah petani terus mengalami penurunan, namun harga beras ditingkat konsumen justru naik. Menurut Amran, saat ini tengah terjadi penurunan harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sebesar Rp 300 per kilogram.

Sementara itu, harga gabah ditingkat petani sudah mengalami penurunan sebesar Rp 800 per kilogram. "Cipinang turun Rp 300, di lapangan gabah turun Rp 800 per kilogram. Harusnya sebenarnya linier kalau turun Rp 800 di lapangan, di kota beras juga turun Rp 800," papar Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (19/1/2018).

Dalam beberapa hari kedepan, Mentan juga memprediksi harga gabah ditingkat petani akan terus turun seiring dengan datangnya musim panen raya padi di berbagai daerah. Disaat yang sama ternyata kran impor beras yang dibuka pemerintah berdatangan.

Direktur Pengadaan Perum Bulog, Andrianto Wahyu Adi mengatakan sekitar 20.000 ton beras impor masuk ke Indonesia. Pengiriman beras impor tersebut berasal dari negara Thailand dan Vietnam. Namun Andrianto enggan merinci jumlah pengiriman dari kedua negara tersebut.

Tentu saja petani semakin menjerit, penurunan harga gabah kering panen sebesar Rp 800 per kilogram sudah sangat memberatkan kalangan petani. Bagaimana tidak, untuk memproduksi gabah petani harus menanggung berbagai biaya operasional, mulai dari biaya sewa lahan, pupuk, biaya pengairan, pestisida, hingga tenaga kerja.

Menanggapi hal itu Mentan Amran menyampaikan, begitu menerima laporan harga turun, pihaknya langsung melakukan rapat dan membentuk tim khusus untuk melakukan penyerapan gabah dari petani di seluruh Indonesia bersama Bulog dan BRI agar jangan sampai petani merugi.

Menurutnya, semua pihak langsung menandatangani MoU untuk penyerapan gabah. "Hari itu juga langsung kita tandatangani MoU untuk serap beras petani, pokoknya sekarang kita fokus beli gabah, jangan sampai petani rugi," katanya.

Namun ironis, Bulog yang sudah kedatangan ratusan ribu beras impor dari Thailand dan Vietnam malah seakan berdiam diri, tak melakukan apa-apa untuk mendongkrak harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah. Meskipun Mentan telah memerintahkan Bulog menandatangani MoU untuk menyerap gabah milik petani.

Hal senada juga disampaikan Pak Harno,“Sekitar 10 hari lalu ada tim dari Jakarta ke Ngawi tapi kok tidak masuk sampai ke timur. Dinanti-nanti tapi kok nggak datang. Padahal kalau dibeli Bulog Rp 4.200 saja, itu sudah menguntungkan bagi petani,” katanya.

Karna Bulog tak kunjung datang, lanjut dia, banyak petani di wilayahnya terpaksa menjual gabah di bawah Rp 4.000 per kilogram. “Ya terpaksa pak buat bayar kebutuhan. Bayar pupuk, bayar tenaga kerja,” sesalnya.

Salah seorang petani lain di Jogorogo,Wahyu Hidayat, menyebut anjloknya harga gabah tak lepas dari membludaknya stok di pasaran seiring masuknya panen raya. Disisi lain, permintaan tidak berubah. Belum lagi ada indikasi permainan harga oleh tengkulak.

“Dalihnya kualitas buruk akibat sering hujan,” keluhnya . Selain itu Petani di Jember, Jawa Timur memasuki masa panen ini juga terpaksa harus gigit jari.

Pasalnya, harga gabah saat ini tidak sesuai harapan. Adapun harga jual gabah sekarang ini turun drastis dari semula Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 3.800 per kilogram. Dia menambahkan, kenaikan beras tidak mengubah harga gabah. Pembelian gabah masih menggunakan inpres 2015, yakni harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700. “Padahal, kondisinya sekarang sudah berubah, inpres itu sudah tidak relevan,” tuturnya.

Kecurigaan akan adanya ketidakberesan dari kebijakan importase beras ini juga dirasakan oleh Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli. Diantaranya dugaan adanya komisi besar dalam importase pangan dan buruknya Bulog mengatur stok dan distribusi beras.

Rizal mengatakan maunya Bulog dan Menteri Perdagangana selalu ada impor beras. Karena katanya, dalam impor beras ada komisi $20-30 pertonnya.(poskotanews.com/12/01/2018)

Bulog juga dinilai telah gagal total dalam menyerap gabah petani atau membeli dengan harga pembelian pemerintah (HPP). Tak hanya itu kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah saat ini, juga menuai banyak kritikan. Untuk apa impor kalau beras di dalam negeri banyak, hal ini membuat para petani semakin sengsara. Apalagi impor dilakukan ketika panen raya padi mulai dilakukan di sejumlah wilayah lumbung beras.

Para pembeli beras pun kerap menyampaikan keluhan karena anomali kenaikan harga beras ini. "Semakin hari semakin naik, kita juga kesulitan sekali untuk mendapatkan beras murah, padahal kita masyarakat biasa mengharapkan mendapatkan yang lebih murah," tutur Yanto, seorang warga. "Kalau bisa cepetan diturunin soalnya ini kan harus, kebutuhan kita sehari-hari, ya makan," tambah Santi. (voa.indonesia.com/16/01/2018)

Sungguh ironis kebijakan impor beras dari pemerintah dan gagalnya pengelolaan Bulog membuat para petani kian merugi. Sebab tak ada jaminan yang baik dari negara. Sentuhan pemerintah seakan masih belum terwujud secara maksimal. Petani hanya bisa pasrah ketika pemangku kekuasaan membuat kebijakan yang tak pro petani.

Akibatnya, tak sedikit petani stress akan kehidupan dan profesi yang dijalankan. Jika terus seperti ini, jangan harap petani bisa bertahan ke depan.

Dalam UU No. 19 Tahun 2003 sebenarnya telah dijelaskan tentang perlindungan dan pemberdayaan petani, dalam pasal 1 dikatakan bahwa perlindungan petani adalah segala upaya untuk membantu petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan menghadapi prasarana dan sarana produksi, dan kepastian usaha, resiko harga, kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi dan perubahan iklim.

Artinya bahwa, permasalahan yang dihadapi oleh petani haruslah diperhatikan, berikut pemerintah memberikan jaminan kepada petani termasuk disaat sekarang dimana harga gabah terus anjlok.

Namun, sampai saat ini petani seakan terkucilkan. Belum tersentuh sepenuhnya oleh pemerintah. Petani seperti hilang harapan dengan profesi yang digelutinya. Modal yang cukup besar dikeluarkan oleh petani menjadi beban apabila diakhir panen tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Apalagi diakhir musim panen, para petani harus membayar hutang atas modal yang telah dikeluarkan diawal. Semua ini mengindikasikan kelalaian pemerintah dalam mengurusi rakyat, khususnya di kalangan petani.

Inilah yang menjadikan pekerjaan petani kurang disukai oleh sebagian orang. Sebab memiliki resiko yang berat, tak hanya gagal panen namun juga ketika kebijakan pemerintah yang diharapkan mampu mensejahterakan petani nyatanya malah membuat petani kian merana. Seperti kebijakan impor beras menjelang panen raya.

Dan juga kurangnya jaminan kesejahteraan bagi petani oleh pemerintah. Sebagai pemangku kekuasaan, pemerintah diharapkan mampu memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada seluruh petani. Sehingga kesejahteraan kehidupan petani dapat terjamin.[MO].

baca juga https://www.mediaoposisi.com/2018/03/derita-petani-di-negeri-loh-jinawi-2.html

Posting Komentar