Oleh : Riska Casassi
(Mahasiswi, Tegal)

Mediaoposisi.com-Kembali, BBM jenis Pertalite mengalami kenaikan sebesar 200 rupiah per liter. Menurut Adiatma, selaku Vice President Corporate Communication Pertamina, harga bahan baku minyak mentah dunia yang terus mengalami kenaikan, membuatnya mengharuskan harga BBM naik di konsumen akhir.

Kenaikan harga BBM terjadi hampir di seluruh Provinsi Indonesia. Tentunya akan mengancam juga pada kenaikan komoditas kebutuhan hidup lainnya. Sementara harga semakin melejit, sedangkan rakyat hanya bisa menjerit.

Ironisnya, kebijakan pemerintah ini selalu merugikan rakyat kecil. Ia menaikkan harga pertalite di saat rakyat hening dalam tidur pulasnya. Untuk pencitraan dan blusukan, dilakukan rame-rame agar viral, seperti sandal jepit dan Dilan. Tapi di saat menaikkan harga, kok diem-diem bae.

Penguasa nampaknya tidak serius dalam memperhatikan kondisi rakyatnya. Kebijakan-kebijakan yang menguntungkan penguasa terus dikeluarkan. Tak mempedulikan keadaan riil masyarakat saat ini.
Dalam kondisi ini, kita juga jangan diem-diem bae! Apalagi dengan sok-sokan mendukung kebijakan yang jelas-jelas menyengsarakan mayoritas masyarakat. Karena ketika kita hanya diam terhadap kemunkaran, maka dia adalah setan yang bisu.

Sebagaimana ungkapan  Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah, “Orang yang hatinya dingin, lisannya diam dari menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemunkaran, dia adalah syaiton akhros (setan yang bisu), sebagaimana orang yang berbicara dengan kebatilan dinamakan syaiton naathiq (setan yang berbicara dari jenis manusia.)

Sistem neoliberalisme-kapitalisme selalu mendzalimi rakyat. Sudah banyak kebijakan pro penguasa yang dirasa telah merugikan umat. Kenaikan BBM hanya salah satunya.

Maka selama bertahan dalam sistem yang rusak ini, tidak akan ada kesejahteraan yang dirasakan masyarakat. Hanya sistem Islam-lah jalan satu-satunya yang diharapkan dan menjanjikan kehidupan yang penuh berkah dan sejahtera. [MO]






Posting Komentar